Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump ikut menambah panas spekulasi politik yang sedang melanda Inggris setelah secara terbuka menyatakan bahwa Perdana Menteri Inggris Keir Starmer akan mengundurkan diri dari jabatannya. Pernyataan tersebut muncul ketika media-media Inggris ramai memberitakan kemungkinan Starmer segera mengumumkan jadwal pengunduran dirinya di tengah tekanan politik yang terus membesar.
Dalam unggahannya, di Truth Social, Minggu (21/6/2026) waktu setempat, Trump secara tegas menyebut masa depan politik pemimpin Partai Buruh Inggris itu sudah berada di ujung jalan.
"Keir Starmer akan mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri Britania Raya," tulis Trump.
Pernyataan tersebut langsung memicu perhatian luas karena hingga kini belum jelas apakah Trump memiliki informasi khusus mengenai rencana Starmer atau hanya ikut memberikan komentar terhadap spekulasi yang berkembang di Inggris.
Laporan kantor berita Inggris PA Media menyebut Trump dan Starmer tidak lagi melakukan pembicaraan sejak keduanya bertemu dalam KTT G7 di Prancis awal pekan ini. Karena itu, belum ada indikasi bahwa pernyataan Trump didasarkan pada komunikasi langsung dengan pemimpin Inggris tersebut.
Dalam unggahan yang sama, Trump juga melontarkan kritik keras terhadap kinerja pemerintahan Starmer. Presiden AS itu menilai kegagalan kebijakan dalam dua sektor utama menjadi penyebab melemahnya posisi politik pemimpin Inggris tersebut.
"Dia gagal total dalam dua isu yang sangat penting - IMIGRASI DAN ENERGI," tulis Trump.
Trump bahkan kembali menyerukan agar Inggris membuka kembali eksplorasi minyak dan gas di Laut Utara.
"(BUKA MINYAK LAUT UTARA!)," tambahnya.
Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Trump berulang kali mendesak pemerintah Inggris membatalkan kebijakan penghentian penerbitan izin baru eksplorasi minyak dan gas di kawasan Laut Utara. Ia juga secara terbuka mengkritik pengembangan ladang turbin angin yang menjadi bagian penting dari strategi transisi energi Inggris.
Hubungan antara Trump dan Starmer sendiri mengalami dinamika yang cukup kompleks.
Pada awal masa pemerintahan Partai Buruh, Starmer bahkan sempat mendapat julukan "Trump whisperer" karena dinilai memiliki kemampuan menjaga hubungan baik dengan Presiden AS meski terdapat perbedaan ideologi politik yang cukup besar antara keduanya.
Namun dalam beberapa bulan terakhir, hubungan itu tampak mengalami ketegangan, terutama terkait konflik Iran. Starmer menjadi salah satu pemimpin Barat yang beberapa kali menerima kritik dan teguran terbuka dari Trump mengenai pendekatan terhadap perang yang melibatkan Iran.
Menanggapi klaim Trump, kantor Perdana Menteri Inggris tidak memberikan bantahan secara langsung.
Seorang juru bicara Downing Street hanya merujuk pada pernyataan terakhir Starmer yang disampaikan pada Jumat lalu. Dalam pernyataan tersebut, Starmer menegaskan dirinya masih fokus menjalankan tugas sebagai kepala pemerintahan.
"Masih banyak yang harus dilakukan, dan itulah yang menjadi fokus saya, yang memang saya dipilih untuk lakukan, yaitu melayani negara saya," kata Starmer.
Juru bicara tersebut menambahkan bahwa pemerintah tidak memiliki komentar tambahan untuk disampaikan saat ini.
Adapun sinyal bahwa posisi Starmer semakin tertekan juga datang dari kalangan kabinet Inggris sendiri. Menteri Bisnis Inggris Peter Kyle mengatakan kepada BBC pada Minggu bahwa Starmer sedang mempertimbangkan berbagai realitas politik yang dihadapinya.
Menurut Kyle, perdana menteri menggunakan akhir pekan ini untuk melakukan refleksi terhadap situasi yang berkembang.
Ia mengatakan Starmer akan melakukan "apa yang menjadi kepentingan terbaik bagi negara."
Pernyataan tersebut dianggap banyak pengamat sebagai indikasi bahwa berbagai opsi, termasuk pengunduran diri, sedang dipertimbangkan secara serius oleh pemimpin Partai Buruh tersebut.
Spekulasi mengenai kemungkinan mundurnya Starmer juga makin menguat setelah sejumlah media Inggris melaporkan bahwa dukungan di internal Partai Buruh mulai mengarah kepada Andy Burnham.
Burnham, yang sebelumnya menjabat Wali Kota Manchester, baru saja mencatat kemenangan penting dalam pemilihan sela yang digelar baru-baru ini. Kemenangan tersebut dianggap sebagai momentum politik besar yang memperkuat posisinya sebagai kandidat potensial untuk menggantikan Starmer apabila terjadi pergantian kepemimpinan.
Sejumlah laporan bahkan menyebut Starmer berpotensi mengumumkan rencana pengunduran dirinya pada Senin (22/6/2026), meskipun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari Downing Street maupun dari Starmer sendiri.
Jika skenario itu benar-benar terjadi, Inggris akan menghadapi salah satu transisi politik paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pergantian kepemimpinan di tengah tantangan ekonomi, isu migrasi, kebijakan energi, dan dinamika geopolitik global diperkirakan akan menjadi ujian besar bagi pemerintahan Partai Buruh.
(luc/luc)
Addsource on Google

19 hours ago
5
















































