1 Bulan Perang Iran
Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
27 March 2026 16:15
Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah satu bulan penuh konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, perang ini telah memicu gangguan signifikan pada supply chain minyak dan gas global, khususnya di sekitar Selat Hormuz Timur Tengah.
Di tengah krisis yang memicu kepanikan energi di berbagai negara, termasuk di Asia Tenggara, Tiongkok memilih untuk mengambil sikap yang sangat pasif netral pada keadaan saat ini.
Sikap Presiden China Xi Jinping juga sangat hati-hati dan tidak terjebak dalam strategis perang Donald Trump. Sikap China ini tentu menjadi sorotan dunia mengingat Beijing selama ini dikenal dekat dengan Iran.
Respons Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi hanya menjelaskan sebatas pada seruan diplomasi dan gencatan senjata tanpa adanya tindakan intervensi langsung. Sikap diam ini merupakan hasil dari kalkulasi geopolitik dan ekonomi yang menempatkan kepentingan domestik di atas segalanya.
Prioritas Strategis pada Kepentingan Inti
Alasan utama di balik sikap menahan diri Tiongkok adalah fokus yang tidak tergoyahkan pada kepentingan inti negaranya, yakni stabilitas hubungan dagang dengan Amerika Serikat dan isu Taiwan.
Keterlibatan langsung atau konfrontasi dengan Washington demi membela Iran berisiko merusak kesepakatan geopolitik yang sedang berjalan. Tiongkok menyadari bahwa memprovokasi Amerika Serikat dapat membatalkan penundaan penjualan senjata Amerika ke Taiwan yang sebelumnya telah dicapai.
Hubungan bilateral Tiongkok dengan Iran, meskipun terikat dalam berbagai inisiatif strategis, pada dasarnya bersifat transaksional dan tidak mencakup jaminan keamanan militer. Tiongkok enggan mengorbankan stabilitas kawasan Indo-Pasifik demi sekutu yang secara hierarki strategis berada di bawah kepentingan nasional utamanya.
Foto: Kapal China Mengelilingi Taiwan, (dok. Reuters)
Ketahanan Energi dan Keuntungan di Asia Tenggara
Dari perspektif ekonomi makro, Tiongkok memiliki ruang penyangga yang cukup kuat untuk menghadapi disrupsi energi jangka pendek. Sebagai importir minyak terbesar, Beijing telah lama melakukan lindung nilai dengan membangun cadangan minyak nasional yang masif serta mendiversifikasi sumber impornya ke Rusia dan negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC).
Di sisi lain, kepanikan energi yang melanda Asia Tenggara justru memberikan keuntungan bagi Tiongkok. Dengan memposisikan diri sebagai negara yang mengedepankan perdamaian dan stabilitas, Beijing secara aktif mendorong negara-negara Asia Tenggara untuk mempercepat transisi dari energi fosil ke energi terbarukan.
Hal ini secara langsung memperluas pasar bagi dominasi industri teknologi hijau Tiongkok, seperti panel surya, baterai, dan kendaraan listrik di kawasan tersebut.
Memanfaatkan Pergeseran Fokus Geopolitik
Konflik di Timur Tengah secara efektif menarik perhatian, sumber daya militer, dan anggaran Amerika Serikat. Bergesernya fokus Washington dari kawasan Indo-Pasifik memberikan keuntungan strategis yang signifikan bagi Tiongkok.
Selama Amerika Serikat disibukkan dengan upaya mengendalikan situasi di Iran, Tiongkok memiliki kebebasan yang lebih besar untuk mengkonsolidasikan pengaruhnya di Asia.
Selain itu, Beijing memiliki keyakinan bahwa rezim apa pun yang nantinya berkuasa di Iran akan tetap bergantung pada ekspor minyak dan gas untuk kelangsungan ekonominya. Hal ini memastikan bahwa Iran akan selalu membutuhkan Tiongkok sebagai pembeli utama di pasar global, terlepas dari hasil akhir konflik tersebut.
Foto: Belt road initiative China. (dok Belt road initiative China research platform)
Kalkulasi Ekonomi dalam Kerangka Belt and Road Initiative
Selain itu, Tiongkok memposisikan Belt and Road Initiative (BRI) murni sebagai proyek kerja sama ekonomi dan pengembangan infrastruktur berskala global, bukan sebagai aliansi keamanan atau pakta militer.
Meskipun Iran merupakan salah satu simpul penting dalam rute tersebut, keterlibatan militer atau konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat justru berisiko merusak fondasi utama BRI.
Dengan memilih untuk tetap diam dan tidak mengintervensi, Beijing berupaya menjaga citra sebagai mitra ekonomi yang non-intervensi. Langkah ini krusial untuk mengamankan keberlanjutan investasi dan proyek infrastruktur Tiongkok di negara-negara peserta BRI lainnya, termasuk negara-negara di kawasan Teluk dan Asia Tenggara yang juga memiliki hubungan baik dengan Amerika Serikat.
Melalui sikap pasif ini, Tiongkok menegaskan bahwa kemitraan dalam BRI didesain untuk stabilitas perdagangan, bukan untuk menyeret pesertanya ke dalam pusaran konflik geopolitik terbuka.
-
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google

3 hours ago
3
















































