Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
17 April 2026 20:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dilaporkan mulai menunda sebagian pengiriman senjata ke sejumlah negara Eropa seiring perang melawan Iran yang terus menguras stok persenjataan Washington.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa konflik yang pecah sejak akhir Februari 2026 tak hanya mengguncang Timur Tengah, tetapi juga mulai menekan rantai pasok senjata global.
Penundaan ini juga menempatkan negara-negara sekutu AS di Eropa dalam posisi sulit. Di satu sisi, Washington selama ini memang terus mendorong mitra-mitra NATO di Eropa agar memperbesar pembelian senjata buatan AS.
Dorongan itu sejalan dengan posisi Amerika Serikat yang hingga kini masih menjadi eksportir senjata terbesar di dunia. Data SIPRI menunjukkan, pada periode 2021-2025 pangsa ekspor senjata AS mencapai 42% dari total ekspor global, naik dari 36% pada periode 2016-2020.
Sejumlah pejabat AS disebut telah memberi tahu beberapa mitra mereka di Eropa bahwa sebagian pengiriman senjata yang sebelumnya sudah dikontrak kemungkinan akan mengalami keterlambatan. Negara-negara yang terdampak disebut mencakup kawasan Baltik dan Skandinavia.
Sebagian senjata tersebut sudah lebih dulu dibeli melalui skema Foreign Military Sales (FMS), yakni program penjualan senjata pemerintah AS ke negara lain dengan dukungan logistik dan persetujuan resmi dari Washington. Namun meski kontrak sudah ada, pengiriman disebut belum bisa berjalan sesuai rencana.
Hal ini menunjukkan bahwa perang melawan Iran mulai membebani persediaan sejumlah amunisi dan persenjataan penting milik AS. Sejak perang dimulai lewat serangan udara AS-Israel pada 28 Februari 2026, kebutuhan senjata untuk operasi di Timur Tengah terus meningkat.
Keluhan pun mulai muncul dari pihak Eropa. Penundaan itu dinilai membuat posisi mereka tidak nyaman, apalagi sebagian negara yang terdampak berada dekat dengan Rusia sehingga ritme pengiriman senjata menjadi isu pertahanan yang sangat sensitif. Situasi ini juga datang di saat Eropa justru sedang menjadi pusat permintaan senjata dunia.
Data SIPRI mencatat, pada periode 2021-2025, Eropa menjadi kawasan dengan pangsa impor senjata terbesar di dunia, yakni 33% dari total global. Ini menjadi pertama kalinya sejak 1960-an Eropa berada di posisi tersebut.
Senjata yang mengalami penundaan disebut mencakup berbagai jenis amunisi, termasuk munisi yang bisa digunakan baik untuk kebutuhan ofensif maupun defensif.
Data dari SIPRI Arms Transfers Database juga menunjukkan Amerika Serikat menjadi eksportir senjata terbesar di dunia pada 2025. Senjata paling banyak dipesan adalah pesawat tempur, kendaraan lapis baja, hingga artileri.
Foto: Infografis/ "Bandar" Perang: Ini Senjata AS yang Paling Laris Diborong Dunia/ Ilham Restu
"Bandar" Perang: Ini Senjata AS yang Paling Laris Diborong Dunia
Beban AS Sudah Berat Sejak Sebelum Perang Iran
Sebenarnya tekanan terhadap stok senjata AS sudah terjadi bahkan sebelum konflik Iran meletus. Dalam beberapa tahun terakhir, Washington telah menguras persediaan senjatanya untuk mendukung Ukraina sejak invasi Rusia pada 2022, serta menopang operasi militer Israel di Gaza sejak akhir 2023.
Artinya, perang Iran datang di saat cadangan senjata AS memang sudah lebih tipis dibanding beberapa tahun lalu. Kini, ketika konflik baru menuntut suplai tambahan dalam jumlah besar, tekanan itu makin terasa.
Situasi makin kompleks karena sejak dimulainya kampanye militer terhadap Iran, Teheran dilaporkan menembakkan ratusan rudal balistik dan drone ke negara-negara kawasan Teluk.
Sebagian besar memang berhasil dicegat, termasuk dengan rudal pencegat PAC-3 Patriot, jenis senjata yang juga sangat dibutuhkan Ukraina untuk melindungi infrastruktur energi dan fasilitas militernya dari serangan rudal balistik milik Rusia.
Di tengah situasi ini, pejabat AS juga disebut berpendapat bahwa senjata-senjata tersebut lebih dibutuhkan untuk perang di Timur Tengah. Washington bahkan menilai negara-negara Eropa belum cukup membantu AS dan Israel dalam upaya membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Eropa Makin Ragu Bergantung ke Senjata AS
Masalahnya, keterlambatan pengiriman senjata dari AS sebenarnya bukan hal baru. Selama ini, banyak ibu kota di Eropa sudah frustrasi karena pengiriman senjata buatan AS kerap molor.
Kini, di tengah perang besar yang menyedot stok Washington, keresahan itu bisa makin besar. Beberapa pejabat Eropa bahkan disebut mulai lebih serius melirik sistem persenjataan buatan dalam negeri Eropa sebagai alternatif.
Ini menjadi ironi tersendiri. Di bawah Presiden Donald Trump, AS justru mendorong mitra-mitra NATO di Eropa untuk memperbesar pembelian senjata Amerika, sebagai bagian dari upaya mengalihkan beban pertahanan konvensional Eropa dari AS ke negara-negara Eropa sendiri. Namun saat permintaan meningkat, kemampuan pengiriman AS justru mulai tersendat.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

3 hours ago
3
















































