CNBC Insight
Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
19 June 2026 19:30
Jakarta, CNBC Indonesia- Ubi ungu atau ube, yang selama ini identik dengan makanan tradisional Filipina, kini tengah naik kelas menjadi komoditas global bernilai tinggi. Permintaannya melonjak tajam di pasar internasional, terutama setelah bahan pangan berwarna ungu cerah itu ramai di media sosial dan masuk ke menu berbagai jaringan makanan besar dunia.
Melansir dari The Economist, ube yang secara ilmiah dikenal sebagai Dioscorea alata semakin populer di Amerika Serikat dan Eropa.
Produk berbahan dasar ube kini mudah ditemukan dalam berbagai bentuk, mulai dari cheesecake, brownies, es krim, macarons, hingga cocktail. Popularitasnya ikut terdorong setelah jaringan besar seperti Starbucsk, Costa Coffe, dan Pret A Manger merilis minuman berbasis ube di sejumlah pasar Barat.
Warna ungu pekat menjadi daya tarik utama. Di era konsumsi visual, makanan dengan tampilan mencolok lebih cepat menarik perhatian konsumen digital. Ube memperoleh momentum besar karena fotogenik, mudah viral, dan memiliki citra premium di media sosial. Faktor tersebut mendorong kenaikan permintaan jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan produksinya.
Di Filipina, ube sebenarnya memiliki sejarah panjang. Sebelum beras mendominasi pola konsumsi masyarakat, umbi ini merupakan salah satu sumber karbohidrat utama.
Sejarawan kuliner Filipina menjelaskan perubahan besar terjadi pada masa kolonial Spanyol abad ke-16, ketika ube mulai diolah menjadi halaya, olahan manis menyerupai selai. Resep tersebut kemudian berkembang pada era kolonial Amerika di akhir 1800-an dengan tambahan susu kental manis, menghasilkan tekstur yang lebih creamy dan rasa yang lebih kaya.
Kenaikan popularitas global ternyata memunculkan persoalan serius di sisi hulu. Petani Filipina kesulitan mengejar lonjakan permintaan. Siklus tanam ube memakan waktu sekitar 10 bulan hingga siap panen. Produksi pun hanya berlangsung satu kali dalam setahun. Kondisi geografis Filipina menambah tekanan karena kebun ube rentan terkena banjir dan badai tropis.
Masalah lain berasal dari sistem budidaya yang masih tradisional. Mayoritas petani menanam di lahan kecil dengan teknologi terbatas.
Proses perbanyakan bibit pun lambat. Umbi harus dipotong menjadi beberapa bagian sebelum ditanam kembali, sementara sebagian hasil panen harus disisihkan sebagai bibit musim berikutnya. Artinya, kapasitas produksi sulit naik secara agresif meski harga sedang tinggi.
Kelangkaan pasokan langsung tercermin pada harga. Harga ube di Filipina dilaporkan naik dari sekitar 30-50 peso per kilogram beberapa tahun lalu menjadi 150 peso per kilogram pada 2026. Bagi petani lokal,
komoditas yang sebelumnya dianggap tanaman biasa kini berubah menjadi sumber pendapatan yang jauh lebih menarik.
Kenaikan harga global juga memicu munculnya produk tiruan. Banyak produk berlabel "ube" ternyata menggunakan ubi ungu biasa atau bubuk sweet potato sebagai substitusi. Praktik ini berkembang karena bahan baku asli semakin mahal dan sulit diperoleh. Kondisi tersebut berpotensi menekan nilai autentisitas ube Filipina di pasar internasional.
Fenomena ube global menarik bila dikaitkan dengan posisi Indonesia di pasar ekspor ubi jalar.
Melansir HS 07142090 untuk kategori sweet potatoes whether or not sliced or in the form of pellets, fresh, chilled or dried, nilai ekspor Indonesia pada 2022 tercatat sebesar US$5,26 juta. Nilai tersebut melonjak pada 2023 menjadi US$8,49 juta.
Namun tren ekspor mulai melemah setelahnya. Pada 2024, nilai ekspor turun menjadi US$6,82 juta. Penurunan berlanjut pada 2025 menjadi US$6,37 juta. Secara tahunan, ekspor 2025 turun sekitar 6,6% dibanding 2024 dan terkoreksi hampir 25% dibanding puncak 2023.
Pasar ekspor ubi jalar Indonesia sebenarnya sudah terbentuk, tetapi momentumnya belum stabil. Saat permintaan global terhadap produk berbasis umbi meningkat, terutama varietas premium seperti ube, Indonesia memiliki peluang memperkuat posisi dalam rantai pasok regional.
Indonesia diuntungkan oleh kapasitas produksi pertanian yang besar dan kondisi agroklimat yang mendukung budidaya berbagai varietas ubi. Tantangan utamanya berada pada hilirisasi, standardisasi kualitas, produktivitas lahan, serta pengembangan varietas bernilai tambah tinggi yang sesuai dengan permintaan pasar internasional.
CNBC Indonesia Research
(mfa/mfa)
Addsource on Google

3 hours ago
2

















































