Ukraina Temukan Titik Lemah Rusia, Putin Waswas Negaranya Kalah

5 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasukan militer Ukraina mengubah taktik serangannya dengan menyasar pusat-pusat logistik utama Rusia, termasuk raksasa e-commerce terbesar Wildberries. Gelombang serangan drone ini diluncurkan untuk melumpuhkan rantai pasok, meningkatkan beban finansial bisnis Rusia, serta memaksa Presiden Vladimir Putin kembali ke meja perundingan setelah hampir empat setengah tahun perang berlangsung.

Mengutip laporan CNBC International, Rabu (29/7/2026), perusahaan Wildberries mengonfirmasi telah mengevakuasi gudangnya di Kota Ryazan pada Rabu pagi setelah drone Ukraina menghantam beberapa fasilitas industri. Langkah ini menandai pergeseran strategi signifikan Ukraina yang sebelumnya fokus melancarkan serangan jarak jauh ke infrastruktur energi Rusia.

"Gudang-gudang yang menjadi target drone Ukraina sejatinya terlibat dalam memasok komponen drone, peralatan navigasi, dan komponen militer lainnya untuk pasukan Rusia," ungkap Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky membeberkan alasan penyerangan tersebut.

Wildberries merupakan pengecer daring terbesar di Rusia yang kerap dianggap sebagai padanan bagi raksasa e-commerce asal AS, Amazon. Perusahaan yang didirikan pada tahun 2004 tersebut saat ini mempekerjakan sekitar 48.000 karyawan.

Dampak Ekonomi, Respon Perbankan, dan Harapan Ukraina

Dua sumber internal menyebutkan bahwa Pemerintah Rusia telah mengakui perlunya menyuntikkan dana bantuan untuk menyokong operasional Wildberries, di mana bank milik negara VTB diproyeksikan memegang peran kunci. Di saat yang sama, Sberbank Rusia dikabarkan tengah menyiapkan program restrukturisasi pinjaman bagi para vendor Wildberries guna mencegah gelombang kebangkrutan massal pada sektor usaha kecil dan menengah (UKM).

Peneliti Program Rusia dan Eurasia di Chatham House, Natalya Kovaleva, menjelaskan bahwa para pelaku usaha Rusia sebelumnya telah menyerap berbagai kejutan akibat sanksi Barat, kenaikan pajak, pemadaman internet, hingga kelangkaan bahan bakar. Namun, gempuran ke Wildberries merupakan ancaman baru yang dirancang untuk menaikkan biaya perang bagi pebisnis dan warga biasa Rusia.

"Sanksi Barat meretakkan rantai pasok, kenaikan pajak menekan marjin, pemadaman internet mengganggu operasional, dan kelangkaan bahan bakar baru-baru ini mendorong biaya sekaligus menambah tekanan inflasi. Pemilik bisnis di Rusia sebagian besar telah menyerap guncangan ini, tetapi serangan Ukraina ke Wildberries menyajikan perkembangan baru yang signifikan," terang Peneliti Chatham House Natalya Kovaleva.

"Ukraina berharap bahwa dengan menaikkan biaya perang bagi bisnis-bisnis Rusia, oposisi internal akan meningkat dan Putin mungkin terpaksa ke meja perundingan atau setidaknya menghentikan pemboman terhadap kota-kota di Ukraina," lanjut Kovaleva menambahkan analisisnya.

Kerentanan Ekonomi Rusia dan Isu Sanksi AS

Di luar serangan logistik, para analis menilai ekonomi Rusia kini sangat rentan terhadap prospek sanksi menyeluruh dari AS. Peneliti Senior di Peterson Institute for International Economics (PIIE), Elina Ribakova, mengonfirmasi bahwa pertumbuhan ekonomi Rusia saat ini mengalami stagnasi di angka nol persen akibat penurunan output industri dan sektor pertahanan.

"Ekonomi Rusia telah mogok. Pertumbuhannya berada di angka nol persen tahun ini-paling bagus kita melihat adanya kontraksi ekonomi dan penurunan output industri pada kuartal pertama. Kontraksi output industri berarti sektor pertahanan juga mengalami perlambatan yang signifikan, sehingga Rusia sangat rentan," jelas Peneliti Senior PIIE Elina Ribakova.

Isu ekonomi ini mengemuka seiring dengan pertemuan Presiden Zelensky dan Presiden AS Donald Trump di Oval Office untuk membahas lisensi produksi sistem pencegat Patriot serta reaktivasi proses diplomasi. Pertemuan tersebut bertepatan dengan langkah Kongres AS yang mulai meloloskan rancangan undang-undang sanksi energi baru untuk memperketat tekanan ekonomi ke Moskow.

Eskalasi konflik ini kian rumit setelah perang Rusia dan Iran mulai saling terhubung di lapangan. Ukraina baru saja meluncurkan serangan ke kapal komersial Iran di Laut Kaspia hingga tewasnya satu pelaut, sementara tindakan Iran menutupi Selat Hormuz berisiko mendongkrak harga minyak yang memberikan keuntungan finansial tambahan bagi Rusia untuk terus berperang.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |