- Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam, pasar saham dan rupiah melemah sementara harga obligasi naik
- Wall Street pesta pora
- Rapat BI, data ekonomi dan perkembangan perang akan menjadi penggerak pasar keuangan hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam pada perdagangan Senin (21/9/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah melemah, sementara harga Surat Berharga Negara (SBN) menguat seiring penurunan imbal hasilnya.
Pasar keuangan Tanah Air diharapkan bisa bangkit di perdagangan hari ini, Selasa (22/9/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG ditutup turun 56,43 poin atau 0,88% ke posisi 6.384,73 pada perdagangan Senin. Indeks mengakhiri hari hanya sedikit di atas level terendahnya.
Pada awal perdagangan, IHSG dibuka di level 6.446,90 dan sempat naik ke posisi tertinggi harian 6.451,33. Setelah itu, tekanan jual membawa indeks berbalik turun hingga menyentuh level terendah 6.381,57.
IHSG sempat mendekati level 6.430 pada pertengahan perdagangan, tetapi penguatan tersebut tidak bertahan. Menjelang penutupan, indeks kembali turun ke kisaran 6.380.
Sebanyak 354 saham berakhir melemah, sementara 280 saham menguat dan 156 saham lainnya stagnan.
Aktivitas perdagangan didominasi pasar reguler, dengan volume 26,9 miliar dan nilai transaksi Rp11,8 triliun. Frekuensi transaksi di pasar tersebut mencapai sekitar 1,83 juta kali.
Sementara itu, perdagangan di pasar negosiasi mencatat volume 28,54 juta lot dengan nilai transaksi Rp1,58 triliun.
Invesor asing pun tercatat melakukan aksi jual dengan total Rp510,07 miliar di seluruh pasar.
Berdasarkan data Refinitiv, sektor energi menjadi penekan terbesar IHSG setelah turun 2,2%. Sektor utilitas melemah 1,9%, disusul sektor barang konsumen non-primer yang turun 0,8%.
Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi pemberat indeks.
Di tengah pelemahan tersebut, saham PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO), PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), MTEL, dan PT Olympus Strategic Indonesia Tbk (NATO) membantu menahan penurunan IHSG lebih dalam.
Dari pasar mata uang, rupiah menutup perdagangan awal pekan dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, rupiah berakhir di posisi Rp17.825/US$ atau melemah 0,54%. Pada pembukaan perdagangan, rupiah sudah tertekan 0,28% ke level Rp17.780/US$.
Sepanjang hari, rupiah bergerak dalam rentang Rp17.740-Rp17.840/US$. Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,11% ke posisi 100,334.
Dari pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun turun 0,52% ke level 7,120%. Penurunan imbal hasil menunjukkan harga SBN menguat karena harga dan yield obligasi bergerak berlawanan arah.

23 hours ago
4















































