Ketika tim dari Unsam memberikan peralatan sebagai bentuk penunjang Perlindungan Hak Anak Korban Banjir Melalui Pendampingan Psikososial di Desa Pahlawan. (Ist)
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
LANGSA (Waspada.id): Di sebuah sudut Desa Pahlawan, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang, suara tawa anak-anak perlahan kembali terdengar. Di antara kertas gambar dan kotak pensil warna yang berserakan, mereka mulai mengekspresikan perasaan yang selama ini terpendam sejak banjir melanda kampung mereka beberapa waktu lalu.
Banjir yang sempat merendam wilayah tersebut tidak hanya menyisakan lumpur di rumah-rumah warga, tetapi juga meninggalkan luka psikologis bagi anak-anak.
Rutinitas belajar mereka terhenti, sekolah tak lagi menjadi tempat yang aman dan menyenangkan, dan banyak dari mereka kehilangan ruang bermain yang biasa menjadi dunia kecil penuh keceriaan.
Kondisi itu yang mendorong Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Samudra hadir memberikan pendampingan psikososial bagi anak-anak korban banjir di Desa Pahlawan.
Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Siti Sahara, S.H., M.H., bersama tim mahasiswa yang terdiri dari Faliq Zihkri, Mikha Yindria Ramadhani Murat, dan Safa Sabila.
Saat pertama kali melakukan survei lapangan pada 19 Desember 2025, tim menemukan situasi yang cukup memprihatinkan.
Beberapa anak terlihat berkeliaran tanpa arah, sebagian lainnya mencari makanan sendiri atau meminta bantuan kepada siapa saja yang datang ke desa mereka.
Ekspresi wajah yang kosong dan sikap pasif menjadi tanda bahwa mereka masih berada dalam tekanan psikologis pascabencana.
Tak hanya itu, aktivitas pendidikan di desa tersebut juga belum pulih sepenuhnya. Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) yang berada di dekat kantor desa masih belum dapat berfungsi normal.
Lingkungan sekolah yang kotor serta hilangnya sebagian perlengkapan belajar membuat kegiatan belajar mengajar belum berjalan sebagaimana mestinya.
Melihat kondisi tersebut, tim PKM Universitas Samudra merancang program trauma healing yang dikemas secara ramah anak dan partisipatif.
Anak-anak diajak bermain, menggambar, dan mewarnai sebagai cara untuk menyalurkan emosi sekaligus membangun kembali rasa aman dalam diri mereka.
Metode bermain atau play therapy dipilih karena dianggap efektif membantu anak-anak mengungkapkan perasaan mereka tanpa harus melalui kata-kata. Melalui gambar-gambar yang mereka buat, terlihat bagaimana anak-anak perlahan mulai menata kembali harapan dan imajinasi mereka tentang masa depan.
Kegiatan ini juga melibatkan masyarakat desa, termasuk kelompok PKK dan kader Posyandu, agar proses pemulihan psikologis anak dapat berlanjut setelah program selesai. Dengan dukungan lingkungan sekitar, anak-anak diharapkan dapat kembali menjalani kehidupan sosial yang sehat dan penuh semangat.
Di tengah bekas lumpur yang belum sepenuhnya hilang, warna-warni pensil yang digoreskan di atas kertas menjadi simbol kecil bangkitnya harapan. Bagi anak-anak Desa Pahlawan, kegiatan sederhana itu bukan sekadar bermain, tetapi langkah awal untuk kembali tersenyum dan menatap hari esok dengan lebih berani.
Pendampingan psikososial ini menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya soal membangun kembali rumah dan infrastruktur, tetapi juga tentang merawat kembali jiwa-jiwa kecil yang menjadi masa depan masyarakat.
Dari Desa Pahlawan, harapan itu perlahan tumbuh kembali.(id94)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.



















































