Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
03 July 2026 20:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) masih menjadi salah satu pasar ekspor terbesar bagi Indonesia. Berdasarkan data Satu Data Kementerian Perdagangan, nilai ekspor Indonesia ke Negeri Paman Sam mencapai US$30,96 miliar sepanjang Januari-Desember 2025.
Dengan jumlah tersebut, AS menempati posisi kedua setelah China sebagai pasar ekspor terbesar Indonesia. Jumlah tersebut diharapkan bertambah dengan bertambahnya "usia" AS yang akan mencapai 250 tahun pada Sabtu besok, 4 Juli 2026.
Ekspor Indonesia ke AS pada 2025 meningkat 16,66% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, atau bertambah sekitar US$4,42 miliar.
Kinerja tersebut ikut ditopang oleh ekspor produk berbasis pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan. Jika dilihat berdasarkan nilai ekspor, komoditas tradisional seperti sawit, udang, karet, dan kakao masih menjadi penyumbang devisa terbesar.
Sementara itu, dari sisi pertumbuhan, beberapa produk dengan nilai ekspor lebih kecil justru mencatat lonjakan paling tinggi sepanjang tahun.
Nilai ekspor terbesar
Kelompok pertama merupakan komoditas yang menjadi penyumbang devisa terbesar dari sektor agro Indonesia ke pasar Amerika Serikat. Produk-produk ini telah lama menjadi andalan ekspor dan masih mendominasi perdagangan sepanjang 2025.
Posisi pertama ditempati minyak sawit dan fraksinya selain minyak sawit mentah dengan nilai ekspor mencapai US$1,295 miliar. Nilai tersebut masih meningkat 0,28% dibandingkan tahun sebelumnya. Besarnya nilai ekspor ini menunjukkan produk hilir sawit Indonesia masih memiliki permintaan yang kuat di pasar Amerika Serikat.
Di urutan kedua terdapat udang beku dengan nilai ekspor US$732,03 juta. Komoditas perikanan ini tumbuh 9,19% secara tahunan. Permintaan yang terus meningkat menjadikan udang sebagai salah satu produk pangan Indonesia yang paling kompetitif di pasar Amerika.
Posisi berikutnya ditempati karet alam spesifikasi teknis (TSNR) dengan nilai ekspor US$572,28 juta. Sepanjang 2025, ekspornya meningkat 10,92% dibandingkan tahun sebelumnya. Karet alam Indonesia masih banyak digunakan sebagai bahan baku industri, terutama sektor otomotif dan manufaktur.
Sementara itu, mentega, lemak, dan minyak kakao berada di posisi keempat dengan nilai ekspor mencapai US$566,20 juta. Komoditas ini mencatat pertumbuhan 44,45%, menjadi yang tertinggi di antara kelompok produk agro dengan nilai ekspor terbesar. Kenaikan tersebut menunjukkan permintaan terhadap produk kakao olahan Indonesia terus menguat.
Pertumbuhan ekspor terbesar
Di luar kelompok komoditas bernilai besar, terdapat beberapa produk yang mencatat laju pertumbuhan ekspor paling tinggi sepanjang 2025. Walaupun nilai ekspornya belum sebesar sawit atau udang, akselerasi pertumbuhannya menjadi perhatian karena menunjukkan adanya pasar baru yang berkembang.
Kopi sangrai tanpa kafein menjadi komoditas dengan pertumbuhan ekspor tertinggi. Data Satu Data Kementerian Perdagangan mencatat pertumbuhan mencapai 233.570.404,44%, dengan nilai ekspor US$0,02 juta.
Selanjutnya, produk yang mengandung tembakau atau pengganti nikotin untuk inhalasi tanpa pembakaran mencatat pertumbuhan 12.365.782,23% dengan nilai ekspor US$57,72 juta. Produk ini menjadi salah satu komoditas dengan ekspansi tercepat ke pasar Amerika Serikat sepanjang tahun lalu.
Kemudian, produk yang mengandung tembakau atau tembakau rekonstitusi untuk inhalasi tanpa pembakaran membukukan pertumbuhan 7.956.318,78% dengan nilai ekspor US$0,63 juta.
Adapun lembaran kayu tropis untuk veneer atau kayu lapis mencatat pertumbuhan 6.014.763% dengan nilai ekspor US$0,12 juta. Produk kehutanan tersebut masih memperoleh permintaan dari industri pengolahan kayu di Amerika Serikat.
Dari sisi nilai, ekspor agro Indonesia masih ditopang komoditas utama seperti sawit, udang, karet, dan kakao yang telah memiliki pasar mapan. Sementara dari sisi pertumbuhan, sejumlah produk niche seperti kopi olahan, produk tembakau alternatif, dan produk kayu mencatat kenaikan paling tinggi sepanjang 2025, meski basis nilai ekspornya masih jauh lebih kecil dibandingkan komoditas utama.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google

6 hours ago
5

















































