8 Sentimen Penentu IHSG dan Rupiah Pekan Ini: OPEC+, The Fed - China

1 month ago 8
  • Pasar keuangan Indonesia kompak menguat pada pekan lalu, saham dan rupiah ada di zona hijau
  • Pasar saham global ditutup positif pada pekan lalu
  • Data ekonomi dalam dan luar negeri diperkirakan akan menjadi penggerak pasar keuangan hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia mengakhiri pekan lalu di zona hijau. Bursa saham dan rupiah menguat meski belum membaik bila dihitung dalam sepekan.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan melanjutkan tren positif pada hari ini dan sepekan ke depan. Selengkapnya mengena proyeksi pasar saham hari ini dan sepekan ke depan bsia dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat lebih dari 2% pada penutupan perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (3/7/2026), meski secara sepekan masih melemah. Reli indeks terutama ditopang saham-saham berkapitalisasi jumbo, sementara likuiditas pasar masih tergolong tipis.

Mengacu data Refinitiv, IHSG ditutup menguat 2,28% atau 131,22 poin ke level 5.875,78. Penguatan berlangsung merata dengan 494 saham menguat, 154 saham melemah, dan 139 saham bergerak stagnan.

Di balik lonjakan indeks, nilai transaksi tercatat baru mencapai Rp10,5 triliun dengan volume 18,2 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,36 juta kali transaksi. Adapun kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia naik menjadi Rp10.287 triliun.

Seluruh sektor berhasil menghijau. Sektor utilitas memimpin penguatan dengan kenaikan 3,61%, disusul sektor bahan baku 3,39% dan teknologi 2,46%.

Reli IHSG kali ini ditopang solidnya kinerja saham-saham perbankan, konglomerasi, pusat data, hingga komoditas. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi kontributor terbesar diikuti PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).

Di sisi lain, tekanan terhadap IHSG relatif terbatas. Penekan terbesar datang dari PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) disusul PT Barito Pacific Tbk (BRPT).

Sementara itu, investor asing kembali mencatatkan beli bersih (net buy) Rp 6,04 miliar di seluruh pasar.

Dalam sepekan, IHSG masih melemah 0,35% yang sekaligus memperpanjang tren negatifnya dengan merosot dua pekan beruntun,

Dari pasar mata uang Indonesia, rupiah akhirnya berhasil bangkit pada penutupan perdagangan terakhir pekan lalu setelah tiga hari berturut-turut tertekan. Meski begitu, penguatan tersebut belum cukup untuk menghapus tekanan yang membayangi mata uang Garuda sepanjang pekan.

Mengacu data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,24% ke level Rp17.945/US$ pada perdagangan Jumat (3/7/2026). Namun secara point-to-point, rupiah masih mencatat pelemahan 0,22% dalam sepekan.

Fakta ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda. Terlebih, nilai tukar masih bertahan di dekat level psikologis Rp18.000/US$, menandakan dolar AS masih memiliki cengkeraman kuat terhadap mata uang domestik.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) stagnan di 7,153% selama tiga hari beruntun.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |