Anak Pejabat RI Rela Hidup Melarat, Tak Mau Jual Nama Besar Orang Tua

4 hours ago 2
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lalu lewat relevansinya di masa kini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak anak tokoh yang memilih menggunakan nama besar atau ketenaran keluarganya. Namun, ada pula yang justru enggan memanfaatkannya. Bahkan dalam sejarah Indonesia, terdapat anak dari tokoh besar yang memilih menjalani hidup sederhana dan menolak memanfaatkan nama besar orang tuanya sebagai modal kehidupan.

Sosok tersebut adalah Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat, putra tunggal Pahlawan Nasional R.A. Kartini. Meski lahir dari keluarga terpandang dan memiliki berbagai peluang untuk menikmati kehidupan yang serba mudah, Soesalit memilih menempuh jalannya sendiri tanpa bergantung pada pengaruh maupun reputasi keluarganya.

Keputusan itu membuat namanya tak setenar sang ibu yang dikenal luas sebagai pelopor emansipasi wanita. Namun, justru sikap teguh itulah yang membuat Soesalit dikenang sebagai pribadi yang memegang teguh prinsip hingga akhir hayatnya.

Pada masanya, Soesalit termasuk sosok yang beruntung. Ia lahir dari keluarga pejabat karena ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Djojodiningrat, menjabat sebagai Bupati Rembang. Kelak, sejarah juga mencatat sang ibu, R.A. Kartini, menjadi figur agung berkat pemikiran visionernya yang melampaui zaman.

Meski demikian, Soesalit enggan mengandalkan nama besar kedua orang tuanya dalam meniti karier. Wardiman Djojonegoro dalam buku Kartini (2024) menceritakan bahwa Soesalit sebenarnya berhak menggantikan kedudukan ayahnya sebagai bupati. Namun, ia dengan mantap menolaknya. Kendati pihak keluarga berulang kali memintanya menjabat, Soesalit tetap konsisten menolak.

Sebagai gantinya, ia memilih berkarier di dunia militer pada 1943. Soesalit mendapat pelatihan dari tentara Jepang dan kemudian bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA). Ketika Indonesia merdeka, Soesalit otomatis menjadi bagian dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Dari situlah kariernya perlahan meroket.

Menurut Sitisoemandari Soeroto dalam Kartini: Sebuah Biografi (1979), Soesalit aktif terlibat dalam berbagai pertempuran melawan Belanda yang membuat pangkatnya naik dengan cepat. Nama dan reputasinya di medan tempur pun semakin dikenal.

Puncak kariernya di dunia militer terjadi pada 1946 ketika ia diangkat menjadi Panglima Divisi II Diponegoro. Ia memimpin pasukan strategis yang bertugas mengamankan ibu kota negara yang saat itu berpusat di Yogyakarta.

Tak hanya di militer, ia juga pernah memegang jabatan di pemerintahan sipil, salah satunya sebagai Penasihat Menteri Pertahanan pada Kabinet Ali Sastroamidjojo I tahun 1953.

Menariknya, selama menduduki berbagai posisi penting tersebut, hampir tidak ada yang mengetahui bahwa Soesalit adalah putra dari R.A. Kartini. Ia memang sengaja tidak pernah 'menjual' nama besar sang ibu.

Padahal, sepanjang hidupnya, perjuangan dan kisah Kartini terus menginspirasi lintas generasi melalui surat-suratnya. Bahkan saat itu, lagu "Ibu Kita Kartini" ciptaan W.R. Supratman sudah sangat populer dan gaungnya terdengar di mana-mana.

Atasan Soesalit, Jenderal A.H. Nasution, menjadi saksi hidup betapa Soesalit sangat menjaga kebersahajaannya. Nasution melihat bahwa setelah purna tugas, Soesalit lebih memilih hidup dalam keterbatasan sebagai veteran. Ia bahkan tak pernah menuntut hak-haknya sebagai pensiunan tentara.

Dikutip dari Kartini: Sebuah Biografi (1979), Nasution pernah mengungkapkan bahwa Soesalit sebenarnya bisa saja hidup jauh dari kata melarat hanya dengan mengaku sebagai putra tunggal Kartini. Hal itu dijamin akan mengundang banyak simpati dan mengubah taraf hidup sang jenderal bintang dua tersebut.

Namun, Soesalit memegang teguh prinsipnya sejak awal: pantang memanfaatkan statusnya sebagai keturunan Kartini. Akibat prinsip baja ini, pria kelahiran Rembang tersebut tetap hidup sederhana hingga mengembuskan napas terakhirnya pada 17 Maret 1962.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |