Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) melihat kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) tak hanya menyimpan risiko bagi ekspor nasional, tetapi juga membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok global dan memperkokoh basis manufaktur dalam negeri.
Wakil Ketua Umum Apindo Sanny Iskandar menilai perundingan tarif dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat memiliki dua sisi, yakni risiko apabila tarif tidak kompetitif, sekaligus peluang apabila Indonesia mampu memposisikan diri secara tepat dalam peta perdagangan global.
"Dengan demikian, Apindo melihat bahwa perundingan tarif ini memiliki potensi peluang sekaligus risiko," ujar Sanny kepada CNBC Indonesia, Rabu (18/2/2026).
Ia menjelaskan, risiko akan muncul apabila tarif Indonesia tidak kompetitif atau reformasi domestik tidak berjalan paralel. Kondisi tersebut dapat membuat biaya produksi tetap tinggi dan mendorong investor beralih ke negara lain.
"Risiko muncul apabila tarif Indonesia tidak kompetitif atau reformasi domestik tidak berjalan paralel, sehingga biaya produksi tetap tinggi dan investor beralih ke negara lain," jelasnya.
Namun di sisi lain, peluang dinilai terbuka lebar apabila Indonesia mampu memanfaatkan negosiasi tarif untuk memperkuat perannya sebagai mitra strategis AS, khususnya dalam diversifikasi rantai pasok dan penguatan manufaktur.
"Tentu kita berharap hasil negosiasi pemerintah dapat membawa kabar baik bagi competitiveness produk-produk kita," kata dia.
Menurut Sanny, peluang tersebut nyata apabila Indonesia mampu memposisikan diri sebagai bagian penting dalam rantai pasok global AS, sekaligus memperkuat basis manufaktur nasional.
Ia mengatakan, kombinasi antara diplomasi ekonomi yang efektif dan reformasi struktural yang konsisten menjadi kunci agar hasil perundingan tarif tidak berhenti pada kesepakatan formal semata, tetapi berdampak nyata bagi perekonomian nasional.
"Kita berharap upaya ini tidak hanya bisa menjaga daya saing ekspor, tetapi juga memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang," ujarnya.
Dalam hal ini, Sanny menyebut Apindo berkomitmen untuk terus mendampingi pemerintah dalam proses negosiasi tarif dengan AS, dengan memberikan masukan berbasis data dan pengalaman langsung dunia usaha.
"Untuk itu, Apindo akan terus bersama pemerintah dalam proses ini, memberikan masukan berbasis data dan pengalaman industri, serta memastikan hasil negosiasi benar-benar memperkuat daya saing dan keberlanjutan ekonomi nasional dalam semangat Indonesia Incorporated," pungkas Sanny.
Sebagai informasi, Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump rencananya akan menandatangani pakta perjanjian tarif resiprokal dengan AS besok, Kamis (19/2/2026).
(dce)
Addsource on Google

10 hours ago
6
















































