Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan pasukan AS telah "menghancurkan" pangkalan militer Iran di Pulau Kharg yang terletak di lepas pantai barat daya Iran, dan memperingatkan infrastruktur minyak di sana dapat menjadi sasaran serangan selanjutnya.
Bagi masyarakat Iran, target militer yang diserang Trump itu ialah "Pulau Terlarang". Gugusan karang seluas 22 kilometer persegi (8,5 mil persegi) di provinsi Bushehr ini diselubungi kerahasiaan yang ketat dan dijaga oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) elit, tempat ini hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki izin keamanan resmi.
Pada dini hari Sabtu, 14 Maret, Pulau Kharg menjadi pusat terbaru perang AS-Israel di Iran sebagaimana laporan Aljazeera. Terutama setelah Donald Trump mengumumkan bahwa angkatan udara negaranya telah membom fasilitas militer di pulau Iran tersebut.
"Demi alasan kesopanan, saya memilih untuk TIDAK menghancurkan infrastruktur minyak di pulau itu. Namun, jika Iran, atau siapa pun, melakukan sesuatu untuk mengganggu jalur pelayaran kapal yang bebas dan aman melalui Selat Hormuz, saya akan segera mempertimbangkan kembali keputusan ini," tulis Trump di Truth Social.
Terletak 55 km (34 mil) di barat laut pelabuhan Bushehr dan 15 mil laut (setara dengan sekitar 28 km) dari daratan utama Iran, Pulau Kharg merupakan tulang punggung ekonomi Iran yang tak terbantahkan.
Pulau ini memproses 90 persen dari total ekspor minyak negara, menangani sekitar 950 juta barel setiap tahunnya.
Dengan panjang hanya 8 km (5 mil) dan lebar 4-5 km (2,5-3 mil), perairan sekitarnya yang dalam memberikan keuntungan geografis alami.
Kedalaman ini memungkinkan kapal tanker super raksasa untuk berlabuh dengan aman dan memuat minyak mentah yang terutama ditujukan untuk pasar Asia, dengan Tiongkok sebagai importir utama.
Menurut Kementerian Perminyakan Iran, fasilitas di pulau tersebut berfungsi sebagai pusat saraf vital bagi sektor migas. Terminal di migas itu menerima minyak mentah dari tiga ladang lepas pantai utama - Aboozar, Forouzan, dan Dorood - yang kemudian diangkut melalui jaringan pipa bawah laut yang kompleks ke fasilitas pengolahan di darat sebelum disimpan atau dikirim ke pasar global.
Meskipun menghadapi sanksi internasional selama bertahun-tahun yang secara berkala menghambat produksi, Iran telah secara agresif memperluas infrastruktur pulau tersebut.
Pada Mei 2025, S&P Global Commodity Insights melaporkan bahwa Teheran menambah kapasitas penyimpanan terminal sebesar dua juta barel dengan merehabilitasi tangki 25 dan 26, yang masing-masing mampu menampung satu juta barel di sana.
(pgr/pgr)
Addsource on Google

7 hours ago
9
















































