Bahlil Buka-Bukaan, Dunia Belum Konsisten Menuju Transisi Energi

15 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia tiba-tiba mengungkapkan bahwa beberapa negara di Dunia belum konsisten dalam transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE). Meskipun negara-negara itu sudah sepakat lahirnya Paris Agreement.

Mulanya, Bahlil menyampaikan bahwa beberapa negara sudah melakukan konsensus dengan Paris Agreement untuk melakukan NZE 2060 atau lebih cepat lebih baik.
Maka dari itu, kata Bahlil, di tahun 2022-2023 hampir semua dunia berbicara tentang transisi energi dari fosil menuju kepada energi baru terbarukan (EBT).

"Tetapi harus saya jujur mengatakan bahwa dunia juga sepenuhnya belum konsisten pada keputusan konsensus Paris Agreement itu. Bahkan beberapa negara yang menginisiasi lahirnya Paris Agreement untuk menuju net zero emission itu keluar," terang Bahlil, Rabu (22/9/2026).

"Dan sebagian mereka ini adalah negara-negara maju. Dan kita tahu bahwa untuk melakukan transisi energi dengan energi baru terbarukan, itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, biayanya cukup besar," tambah Bahlil.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Bahlil menegaskan, bahwa Indonesia tetap berkomitmen menuju NZE di tahun 2060 atau lebih cepat. Salah satu contohnya adalah dengan Rancangan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tahun 2025-2034 yang memasukkan 70% listrik dari EBT dari 69,5 Giga Watt.

"Forum ini menurut saya sangat penting untuk menyampaikan ini. Sekalipun negara-negara lain keluar daripada Paris Agreement untuk net zero emission dengan menggantikan fosil mereka kepada energi baru terbarukan, Bapak Presiden Prabowo memerintahkan kepada kita bahwa Indonesia, sekalipun negara yang hebat-hebat itu keluar, Indonesia tetap akan konsisten untuk memenuhi target net zero emission kita di 2050 sampai dengan 2060," terang Bahlil.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |