Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia, akan memanfaatkan batu bara kalori rendah sebagai bahan baku utama proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol.
Adapun, pada tahap pertama proyek tersebut diperkirakan menyerap sekitar 7,7 juta ton batu bara per tahun untuk menghasilkan metanol berkapasitas 2 juta ton per tahun.
Presiden Direktur BEC Rio Supin mengatakan batu bara yang akan digunakan merupakan batu bara berkalori rendah sekitar 3.300 kcal/kg. Menurutnya, pemanfaatan batu bara kalori rendah menjadi metanol merupakan bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah komoditas tambang melalui program hilirisasi.
"Dalam hal ini kami merencanakan akan menggunakan batu bara rendah kalori sekitar 3.300 kcal/kg. Proyek diperkirakan akan memakan biaya lebih dari 2,3 miliar USD. Ini didapat dari hasil bankable FS yang telah kami selesaikan di tahun 2025 yang lalu," kata Rio dalam acara penandatanganan Kontrak Front-End Engineering Design (FEED) dan EPCC Framework Agreement proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol di Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Ia menjelaskan, sebelum masuk ke proses gasifikasi, batu bara terlebih dahulu akan melalui proses pengeringan (coal drying) karena memiliki kadar air yang cukup tinggi. Setelah itu, batu bara akan diolah menjadi gas sintesis (syngas) yang kemudian dimurnikan sebelum diproses melalui tahap methanol synthesis dan methanol distillation untuk menghasilkan metanol.
Di sisi lain, ia mengatakan metanol yang diproduksi akan mengacu pada standar internasional European Methanol Producers Association (IMPCA), bukan standar GB China. Hal tersebut dilakukan agar produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang dapat diterima pasar global.
"Jadi dalam engineering study yang kami lakukan, kami meminta untuk methanol grade mengikuti standar internasional, tidak mengikuti standar GB China. Lokasi proyek sangat strategis, tepat di pinggir Selat Makassar, sehingga memudahkan akses nanti dalam memasarkan metanol secara domestik," katanya.
Selain metanol, proyek tersebut juga akan menghasilkan produk samping berupa sulfuric acid. Seluruh fasilitas akan dibangun secara terintegrasi, termasuk pembangkit listrik dan instalasi pemurnian air yang dibutuhkan untuk mendukung proses gasifikasi dan sintesis metanol.
"Pembangkit di sini sangat penting karena tidak hanya akan menghasilkan listrik bagi proyek, tetapi juga akan menghasilkan steam atau uap yang akan digunakan dalam proses gasifikasi dan proses methanol synthesis," ujarnya.
Sebagaimana diketahui, proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol yang dikembangkan anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yakni PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia (Arutmin) memasuki babak baru.
Melalui perusahaan patungan PT Bumi Etam Chemical (BEC), proyek strategis nasional (PSN) gasifikasi batu bara atau Coal to Methanol resmi memasuki tahap Front-End Engineering Design (FEED) dan penyusunan Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement.
Penandatanganan kontrak FEED dan EPCC Framework Agreement dilakukan oleh BEC bersama PT Istana Karang Laut (IKL) dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC) di Ballroom The Ritz-Carlton Jakarta, Mega Kuningan, Rabu (29/7/2026).
(ven/wur)
Addsource on Google

8 hours ago
1

















































