Jakarta, CNBC Indonesia - Kebakaran hutan dan lahan dunia mencapai jutaan hektar hingga awal Agustus tahun ini. Afrika menjadi episentrum dan menyumbang lebih dari separuh total area terbakar.
Data Global Wildfire Information System (GWIS) melalui Our World in Data menunjukkan kebakaran hutan dan lahan telah mencapai 112,3 juta hektare hingga 1 Agustus 2026.
Kongo menjadi negara dengan area terbakar terbesar.
Di luar Afrika, Australia, Myanmar, India, Kanada, dan Amerika Serikat juga mencatat kebakaran dalam skala besar.
Data ini menunjukkan bahwa meski jumlah kebakaran di sejumlah negara menurun, luas lahan yang terbakar justru semakin besar, menandakan kebakaran yang terjadi cenderung lebih intens dan berdampak luas.
Petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan api yang masih berkobar di daerah Franschhoek, Cape Town, Afrika Selatan, 21 Januari 2026. (REUTERS/Esa Alexander) Foto: Petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan api yang masih berkobar di daerah Franschhoek, Cape Town, Afrika Selatan, 21 Januari 2026. (REUTERS/Esa Alexander)
Afrika Jadi Pusat Kebakaran Dunia
Lebih dari separuh total lahan yang terbakar di dunia pada 2026 berada di Afrika.
Sebagian besar kebakaran tersebut merupakan pembakaran musiman yang dilakukan secara sengaja. Di kawasan Afrika sub-Sahara, api telah lama digunakan untuk membuka lahan, mengelola padang penggembalaan, serta mempersiapkan lahan pertanian.
Meski demikian, skalanya tetap mencengangkan. Luas lahan terbakar di Afrika sepanjang 2026 mencapai sekitar 26 kali lebih besar dibandingkan Amerika Serikat.
Kongo menjadi negara dengan area terbakar terbesar, mencapai 13,6 juta hektare, atau kira-kira seluas Inggris.
Posisi berikutnya ditempati Angola dengan 7,5 juta hektare, Sudan Selatan 7 juta hektare, dan Republik Afrika Tengah 6 juta hektare.
Kebakaran Besar Juga Melanda Negara Lain
Besarnya area terbakar tidak selalu mencerminkan tingkat keparahan atau risiko kebakaran hutan. Pasalnya, data GWIS juga memasukkan pembakaran lahan pertanian dan pembakaran yang dilakukan secara terencana.
Namun, sejumlah negara di luar Afrika tetap mengalami kebakaran liar besar sepanjang 2026.
Asap mengepul saat api berkobar selama kebakaran hutan di dekat Vilavella dan La Vall d'Uixo, Castellon, Spanyol, 25 Juli 2026. (REUTERS/Eva Manez) Foto: Asap mengepul saat api berkobar selama kebakaran hutan di dekat Vilavella dan La Vall d'Uixo, Castellon, Spanyol, 25 Juli 2026. (REUTERS/Eva Manez)
Spanyol menjadi salah satu negara dengan musim kebakaran terparah tahun ini. Gelombang panas ekstrem dan kekeringan membuat sekitar 180.000 hektare lahan terbakar hingga 1 Agustus.
Kebakaran besar di Ávila bahkan menjadi kebakaran terbesar dalam sejarah Spanyol. Bersamaan dengan kebakaran yang melanda Prancis, jumlah warga yang harus dievakuasi di kedua negara tersebut mencapai lebih dari 300.000 orang.
Di Kanada, area terbakar mencapai sekitar 2 juta hektare hingga 1 Agustus. Kebakaran terjadi di sejumlah provinsi.
Musim kebakaran 2026 terjadi setelah Kanada mengalami musim kebakaran terburuk pada 2023, ketika sekitar 15 juta hektare lahan terbakar. Angka tersebut sekitar tujuh kali lipat rata-rata tahunan historis Kanada.
Sementara itu, Amerika Serikat mencatat sekitar 2,4 juta hektare lahan terbakar. Oregon dan Washington menjadi sejumlah wilayah dengan kebakaran paling parah.
Pada awal Agustus, lebih dari 100 kebakaran besar masih aktif di AS. Kondisi tersebut diperparah kekeringan yang memengaruhi lebih dari seperempat wilayah negara tersebut.
Data kebakaran AS selama empat dekade menunjukkan fenomena menarik: jumlah kebakaran cenderung menurun, tetapi luas lahan yang terbakar justru meningkat. Artinya, kebakaran memang lebih sedikit, tetapi ketika terjadi, skalanya cenderung lebih besar dan intens.
Australia Jadi yang Terbesar di Belahan Bumi Selatan
Di luar Afrika, Australia mencatat area terbakar terbesar, yakni sekitar 11,8 juta hektare.
Angka tersebut menempatkan Australia di peringkat kedua dunia, hanya di bawah Republik Demokratik Kongo. Australia juga menyumbang hampir seluruh area terbakar di kawasan Oseania.
Di Asia, sekitar 18% lahan terbakar dunia berada di kawasan ini.
Myanmar menjadi negara dengan area terbakar terbesar di Asia, mencapai 4,3 juta hektare, disusul India sebesar 4 juta hektare.
Thailand, Laos, dan China masing-masing mencatat area terbakar antara 2,3 juta hingga 2,7 juta hektare.
Firefighters work to extinguish a fire following a blast at a fireworks manufacturing factory in Liuyang, Hunan province, China, May 5, 2026. cnsphoto via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. CHINA OUT. TPX IMAGES OF THE DAY Foto: VIA REUTERS/cnsphoto
Sementara itu, Amerika Selatan menyumbang sekitar 7% dari total lahan terbakar dunia. Venezuela menjadi yang terbesar dengan 3 juta hektare, diikuti Brasil sebesar 2 juta hektare.
Eropa menjadi kawasan dengan kontribusi terkecil, sekitar 3%. Dari total 3,3 juta hektare lahan terbakar di kawasan tersebut, sebagian besar berasal dari Rusia.
(mae/mae)

3 hours ago
1

















































