Jelang HUT RI ke-81
Salma Laiqa, CNBC Indonesia
15 August 2026 17:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan flora dan fauna terbesar di dunia, baik di darat maupun perairan.
Menurut Biodiversity Finance Initiative (BIOFIN) UNDP, Indonesia termasuk dalam 17 negara megadiverse dunia dan menjadi rumah bagi sekitar 17% satwa liar dunia.
Memasuki peringatan Hari Kemerdekaan ke-81, kekayaan biodiversitas menjadi salah satu aset alam Indonesia yang patut disorot. Upaya pelestariannya pun mulai berkembang, tidak hanya melalui kebijakan konservasi, tetapi juga melalui instrumen pembiayaan berkelanjutan.
Salah satu contohnya melalui green sukuk. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dengan dukungan BIOFIN UNDP, memperoleh alokasi US$2,7 juta tahun lalu dari dana green sukuk untuk pembangunan Maluku Conservation Center, yang ditujukan bagi penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran satwa ke habitat alaminya. Pemanfaatan green sukuk untuk proyek terkait biodiversitas ini memperluas penggunaan instrumen pembiayaan hijau yang sebelumnya lebih banyak diarahkan pada agenda lingkungan dan iklim lainnya.
Pesona keindahan bawah laut di Raja Ampat. (Dok. Kemenparekraf) Foto: Pesona keindahan bawah laut di Raja Ampat. (Dok. Kemenparekraf)
Kekayaan Flora Indonesia Terus Ditemukan
Kekayaan biodiversitas Indonesia bahkan belum sepenuhnya terungkap. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat, sepanjang 1967 hingga 2025, para penelitinya bersama mitra nasional dan internasional telah menemukan 1.583 spesies baru, dengan 712 di antaranya merupakan flora.
Penemuan terus berlanjut. Dalam kurun 2025 hingga 2026, sedikitnya 29 jenis baru flora Indonesia berhasil dideskripsikan secara ilmiah, mulai dari kelompok Rafflesia, Begonia, Homalomena, Rhododendron, Nepenthes, hingga anggrek (Orchidaceae).
Beberapa flora yang menjadi bagian dari kekayaan biodiversitas Indonesia antara lain:
1. Rafflesia arnoldii - Flora ikonik asal Sumatra yang dikenal memiliki bunga tunggal berukuran sangat besar.
2. Bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum) - Tumbuhan endemik Sumatra yang terkenal dengan ukuran perbungaan dan aroma khasnya.
3. Chiloschista tjiasmantoi - Spesies anggrek baru yang masuk dalam 16 flora yang diidentifikasi peneliti BRIN sepanjang 2025.
4. Syzygium halmaherense - Salah satu spesies baru dari genus Syzygium yang berhasil diidentifikasi di Halmahera pada 2025.
5. Begonia antoi - Spesies begonia baru dari Dataran Tinggi Gayo, Aceh, yang sangat langka dan terancam punah.
Bunga bangkai,Amorphophallus titanium (Becc.) Becc mekar Lagi di Kebun Raya Cibodas. (Dok. Biro Komunikasi Publik, Umum, dan Kesekretariatan Badan Riset dan Inovasi Nasional) Foto: Bunga bangkai,Amorphophallus titanium (Becc.) Becc mekar Lagi di Kebun Raya Cibodas. (Dok. Biro Komunikasi Publik, Umum, dan Kesekretariatan Badan Riset dan Inovasi Nasional)
Kekayaan Fauna dari Darat hingga Perairan Indonesia
Kekayaan hayati Indonesia tidak berhenti pada flora. Sepanjang 2025 saja, peneliti PRBE BRIN mengidentifikasi 32 spesies fauna baru, mulai dari serangga, ikan, amfibi, reptil, moluska hingga mamalia.
Indonesia juga menjadi habitat berbagai satwa khas, mulai dari spesies yang terancam punah hingga jenis yang baru dideskripsikan secara ilmiah. Beberapa di antaranya yakni:
1. Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) - Salah satu mamalia paling langka di dunia yang populasi liarnya tersisa di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten.
2. Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) - Satu-satunya populasi harimau Indonesia yang masih bertahan setelah harimau Jawa dan Bali dinyatakan punah.
Petugas kesehatan mengambil sempel hasil swab Harimau Sumatera di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, Senin (2/8/2021). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Ilustrasi Harimau (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
3. Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) - Spesies orangutan yang hanya ditemukan di kawasan Batang Toru, Sumatra Utara, dan memiliki wilayah persebaran sangat terbatas.
4. Barbodes klapanunggalensis - Spesies ikan gua buta yang baru ditemukan di Klapanunggal, Jawa Barat.
5. Johnius javaensis - Spesies ikan baru yang dideskripsikan pada 2025 dari pesisir selatan Jawa. Spesimen dalam penelitiannya diperoleh dari pasar ikan di Jawa, Bali, dan Lombok.
Badak Pari terekam camera trap yang dipasang BKSDA Kaltim. (Dok. BKSDA Kaltim via Detikcom) Foto: Badak Pari terekam camera trap yang dipasang BKSDA Kaltim. (Dok. BKSDA Kaltim via Detikcom)
Kekayaan biodiversitas tersebut tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga menopang aktivitas ekonomi masyarakat. Di perairan, misalnya, keberagaman sumber daya hayati menjadi bagian dari modal alam bagi sektor perikanan, pariwisata bahari, hingga mata pencaharian masyarakat pesisir.
Karena itu, pemanfaatan kekayaan hayati perlu berjalan beriringan dengan keberlanjutannya.
Prinsip ini juga menjadi bagian dari pengembangan ekonomi biru (blue economy), yang menempatkan kesehatan ekosistem sebagai fondasi pemanfaatan sumber daya laut dalam jangka panjang. Di usia 81 tahun kemerdekaan, menjaga biodiversitas Indonesia semakin penting di tengah penemuan spesies baru dan ancaman kepunahan.
(Salma Laiqa/slm)

1 hour ago
2

















































