Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia-Pasifik bergerak menguat pada perdagangan Senin (10/8/2026), dengan investor mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran serta prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Melansir CNBC, Indeks Nikkei 225 Jepang naik lebih dari 0,54%. Di sisi lain, Topix bergerak sedikit lebih tinggi.
Di Korea Selatan, indeks Kospi menguat 0,53%, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq melesat 1,48%. Sementara itu, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 tercatat naik 0,54%.
Sentimen investor sebelumnya terdorong oleh harapan bahwa AS dan Iran akan segera mencapai kesepakatan yang memungkinkan kapal-kapal kembali melintas bebas di Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi global. Namun, optimisme tersebut mereda setelah Iran pada akhir pekan membantah tengah melakukan negosiasi langsung dengan AS terkait pembukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Meredanya harapan kesepakatan turut mendorong kenaikan harga minyak mentah, dengan kontrak West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 1% menjadi sedikit di atas US$79 per barel pada Minggu (9/8/2026). Pergerakan harga minyak menjadi perhatian pasar karena gangguan di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi pasokan energi global.
Pekan lalu, komentar Menteri Keuangan AS Scott Bessent kepada CNBC sempat mengindikasikan bahwa kesepakatan mengenai kebebasan pergerakan kapal di Selat Hormuz dapat segera tercapai. Namun, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Axios pada Minggu bahwa AS hanya melakukan negosiasi secara terbatas dengan Iran dan ingin memberikan tekanan ekonomi kepada negara tersebut.
Sementara itu, tiga indeks utama Wall Street mengakhiri pekan lalu dengan kinerja terbaik sejak April. Indeks S&P 500 bahkan ditutup pada rekor tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Jumat.
Penguatan saham AS pada akhir pekan didorong oleh laporan ketenagakerjaan nonfarm payrolls Juli yang menunjukkan kontraksi secara tak terduga. Data tersebut meningkatkan harapan investor bahwa The Fed akan menahan diri dari kenaikan suku bunga.
Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 44% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Angka tersebut turun signifikan dibandingkan sekitar 67% pada pekan sebelumnya.
"Pasar saham kemungkinan akan menyambut implikasi dovish dari laporan ketenagakerjaan tersebut," ujar Peter Graf, Chief Investment Officer Amova Asset Management Americas. Namun, ia mengingatkan investor untuk mewaspadai prospek pertumbuhan ekonomi di masa depan ketika jumlah orang yang bekerja semakin sedikit.
Pekan ini, perhatian investor akan tertuju pada sejumlah data ekonomi AS, terutama indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI). Kedua data tersebut akan menjadi petunjuk terbaru mengenai arah inflasi dan membantu pasar memperkirakan langkah kebijakan moneter The Fed, sementara tidak ada laporan ekonomi besar yang dijadwalkan rilis pada Senin.
Selain data ekonomi, investor juga akan mencermati laporan keuangan sejumlah perusahaan pada pekan ini. Beberapa perusahaan yang dijadwalkan melaporkan kinerja antara lain perusahaan sektor konsumer On Holding dan Cava Group, serta perusahaan teknologi Super Micro dan CoreWeave.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]

5 hours ago
4

















































