Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah membawa momentum positif dari akhir pekan lalu ke pembukaan perdagangan awal pekan. Mata uang Garuda kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), meski indeks dolar mencoba bangkit pada perdagangan Asia.
Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Senin (10/8/2026), rupiah terapresiasi sebesar 0,48% ke posisi Rp17.800/US$.
Penguatan pagi ini memperpanjang tren positif rupiah setelah mengakhiri tiga perdagangan terakhir pekan lalu di zona hijau. Pada Jumat (7/8/2026), rupiah ditutup menguat 0,14% ke posisi Rp17.885/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,12% ke posisi 99,666.
Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh dinamika dolar AS di pasar global serta penantian terhadap data keyakinan konsumen dari dalam negeri.
Dari eksternal, penguatan DXY pada perdagangan pagi ini belum menghapus tekanan yang dialami dolar AS. Indeks tersebut masih bergerak di sekitar posisi terendahnya dalam dua bulan terakhir setelah data ketenagakerjaan AS periode Juli menunjukkan pelemahan.
Perekonomian AS secara tidak terduga kehilangan lapangan kerja pada Juli. Penambahan tenaga kerja pada dua bulan sebelumnya juga direvisi turun cukup tajam, menunjukkan pasar tenaga kerja tidak sekuat perkiraan awal.
Data tersebut meredakan ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) akan menaikkan suku bunga pada September. Peluang kenaikan suku bunga kini diperkirakan sekitar 44%, turun dari 67% pada pekan sebelumnya.
Ekspektasi tersebut turut menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield US Treasury tenor 10 tahun turun ke sekitar 4,637%, sehingga mengurangi daya tarik dolar AS dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Perhatian pasar global selanjutnya tertuju pada data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini. Konsensus memperkirakan inflasi inti pada Juli naik 0,2% secara bulanan, sedangkan secara tahunan melandai menjadi 2,5% dari 2,6% pada Juni.
Data inflasi akan menjadi petunjuk penting mengenai langkah The Fed berikutnya. Inflasi yang terus melandai dapat semakin mengurangi peluang pengetatan moneter, sedangkan data yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi kembali mengangkat dolar AS.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak masih perlu dicermati. Harga minyak Brent naik sekitar 1,4% ke kisaran US$85 per barel karena ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Iran menyatakan kesepakatan dengan Oman mengenai jalur pelayaran baru telah memasuki tahap akhir, tetapi masih terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi AS.
Adapun dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) dijadwalkan akan merilis Survei Konsumen periode Juli pada hari ini. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) diperkirakan turun menjadi 116 dari 117,8 pada Juni.
IKK Juni sebelumnya turun dari 120,9 dan menyentuh posisi terendah sejak September 2025. Penurunan terutama berasal dari melemahnya penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini, pembelian barang tahan lama, dan ketersediaan lapangan kerja.
Ekspektasi konsumen terhadap pendapatan, lapangan kerja, dan kegiatan usaha dalam enam bulan mendatang juga melemah. Meski demikian, indeks masih berada di atas 100, yang menunjukkan konsumen Indonesia tetap berada dalam zona optimistis.
Hasil survei tersebut akan dicermati untuk menilai ketahanan konsumsi rumah tangga setelah ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan pada kuartal II-2026. Konsumsi yang tetap kuat dapat membantu menjaga kepercayaan terhadap prospek ekonomi domestik dan menopang pergerakan rupiah.
(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]

5 hours ago
4

















































