Di Tengah Ledakan AI Dan Ketakutan Pasar, Bos Nvidia Tegaskan Software Tak Akan Mati

3 hours ago 2
Teknologi

7 Februari 20267 Februari 2026

Di Tengah Ledakan AI Dan Ketakutan Pasar, Bos Nvidia Tegaskan Software Tak Akan Mati Ilustrasi AI

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

MEDAN (Waspada.id) : Di saat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) melaju kencang dan memicu kegelisahan pasar global, CEO sekaligus pendiri Nvidia, Jensen Huang, justru mengambil posisi berlawanan. Dia menilai kekhawatiran bahwa AI akan menyingkirkan industri perangkat lunak sebagai asumsi yang keliru, bahkan tidak masuk akal.

Dalam forum Cisco AI Summit di San Francisco, Huang menanggapi anjloknya saham-saham perusahaan software yang belakangan tertekan oleh sentimen negatif pasar. Menurutnya, ketakutan bahwa AI akan “mematikan” software adalah reaksi berlebihan terhadap perubahan teknologi yang sedang berlangsung.

“Banyak saham perusahaan perangkat lunak berada di bawah tekanan besar karena kekhawatiran bahwa alat-alat mereka akan digantikan oleh AI. Itu adalah pemikiran paling tidak logis di dunia,” ujar Huang, seperti dikutip Bloomberg.

Pernyataan tersebut muncul di tengah gejolak pasar, setelah Indeks Perangkat Lunak & Layanan S&P 500 AS kehilangan ratusan miliar dolar kapitalisasi pasar. Sejumlah raksasa software enterprise, termasuk Salesforce dan Microsoft, tercatat mengalami penurunan saham hampir 5 persen.

Koreksi tajam ini dipicu kekhawatiran investor terhadap kemunculan pemain AI seperti OpenAI dan Anthropic. Produk-produk AI generatif mereka dinilai mampu mengotomatiskan pekerjaan dan meningkatkan efisiensi, sehingga dianggap berpotensi menggerus model bisnis software konvensional.

Namun, Huang melihat arah perkembangan yang berbeda. Menurutnya, AI tidak hadir untuk menggantikan software, melainkan memperkuat peran dan nilai guna perangkat lunak yang sudah ada. Ia menilai pasar terlalu cepat menyimpulkan ancaman, tanpa memahami relasi mendasar antara AI dan software.

“Waktu akan membuktikan bahwa ketakutan terhadap kemunduran industri perangkat lunak itu tidak logis,” tegasnya.

Di tengah pesatnya adopsi AI yang memang membawa ancaman baru seperti disrupsi tenaga kerja, konsentrasi kekuatan teknologi, hingga ketergantungan pada algoritma, Huang menekankan satu hal: AI tetap membutuhkan fondasi software. Inovasi, katanya, tidak berangkat dari menciptakan ulang segalanya, melainkan memanfaatkan alat yang sudah ada.

“Baik manusia maupun robot, ketika dihadapkan pada pilihan menggunakan alat atau menciptakannya dari awal, jawabannya secara alami adalah menggunakan alat. AI berfokus pada pemanfaatan, bukan penghapusan,” ujarnya, dikutip dari Chosun.

Pernyataan Huang menjadi penyeimbang narasi di tengah euforia sekaligus kecemasan terhadap AI. Alih-alih menjadi algojo bagi industri software, AI menurutnya justru berpotensi menjadi mesin akselerasi terbesar dalam sejarah teknologi perangkat lunak.(Inet.detikcom)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |