Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia sedang menghadapi ancaman baru akibat kelangkaan chip memori yang kini banyak digunakan untuk kecerdasan buatan (AI). Ketua SK Group Chey Tae-won memperingatkan kondisi ini dan telah mendorong pemerintah di berbagai negara turun tangan demi melindungi industri mereka.
Chey mengatakan Korea Selatan kemungkinan besar akan menghadapi tekanan serupa. Ia juga mendesak SK Hynix mempercepat ekspansi kapasitas produksi di dalam maupun luar negeri karena harga chip memori saat ini sudah berada pada level yang tidak normal.
"Bangun di mana pun kita bisa, secepat yang kita bisa, hampir menjadi urat nadi industri semikonduktor Korea," kata Chey, dikutip dari Korea Herald, Senin (20/7/2026).
Menurut Chey, pelanggan telah meminta SK Hynix menyediakan chip memori AI 60%-100% lebih banyak pada 2027 dibandingkan tahun ini. Dengan AI kini menyumbang lebih dari separuh konsumsi semikonduktor global, ia memperkirakan total permintaan chip tumbuh minimal 50%-60%.
Namun, pasokan belum mampu mengejar lonjakan permintaan tersebut.
"Tidak ada perusahaan yang memiliki kapasitas baru yang berarti untuk mulai beroperasi tahun depan," ujarnya.
Kesenjangan pasokan dan permintaan paling terasa pada high-bandwidth memory (HBM), yakni chip DRAM bertumpuk yang digunakan bersama akselerator AI buatan Nvidia.
Berdasarkan data Counterpoint Research, SK Hynix menguasai 58% pasar HBM global berdasarkan pendapatan pada Q1 2026. Posisi tersebut jauh di atas Micron dan Samsung yang masing-masing menguasai 21%.
"Saat ini, perusahaan yang menyerap tekanan tersebut. Pemerintah akan segera mulai menekan pemerintah lain," kata Chey.
Meski SK hynix tengah mempercepat ekspansi, Chey menilai harga chip yang terus tinggi justru dapat merugikan produsen Korea Selatan.
Menurutnya, harga tinggi dapat mendorong produsen komputer dan smartphone mengalami apa yang disebut chipflation atau inflasi akibat mahalnya chip. Kondisi ini juga bisa menarik pemain baru untuk masuk ke industri semikonduktor demi mengejar margin keuntungan besar.
Selain itu, harga chip yang terlalu tinggi juga berpotensi memicu aksi balasan geopolitik.
Chey bahkan menyebut ketertarikan CEO Tesla Elon Musk untuk masuk ke bisnis manufaktur chip sebagai salah satu tanda awal munculnya pemain baru.
"Harga harus kembali normal. Jika tidak, pasar menyusut dan para pesaing membanjiri pasar," kata Chey.
SK hynix sendiri telah mempercepat ekspansi di dalam negeri. Perusahaan memajukan pembangunan clean room pertama di kompleks Yongin menjadi Februari 2027 dari sebelumnya Mei. Pada Maret tahun ini, perusahaan juga mengalokasikan tambahan investasi sebesar 21,6 triliun won atau sekitar US$14,52 miliar.
SK hynix juga mengubah pabrik Cheongju M15X menjadi basis produksi DRAM khusus untuk HBM. Ekspansi jangka panjang yang lebih besar di wilayah barat daya Korea Selatan, yang direncanakan bersama Samsung Electronics, akan dibangun di bekas lapangan udara militer Gwangju.
Selain Korea Selatan, SK hynix kini meninjau sejumlah lokasi pabrik chip di berbagai negara. Perusahaan menilai lokasi tersebut berdasarkan kecepatan pembangunan, skala, serta kesiapan pasokan listrik, air, dan lahan.
Amerika Serikat menjadi salah satu lokasi yang dipertimbangkan. Namun, Chey menegaskan evaluasi tersebut dilakukan berdasarkan pertimbangan bisnis dan bukan sebagai bentuk konsesi terhadap tuntutan pemerintah AS.
Saat ditanya mengenai desakan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick agar produsen chip Korea Selatan meningkatkan investasi di Amerika Serikat, Chey merespons santai.
"Dia memang sudah seperti ini sejak awal pemerintahan Trump. Pertanyaannya selalu sama: berapa banyak yang akan Anda investasikan di AS, berapa banyak yang akan Anda bawa kembali ke dalam negeri. Kali ini tidak berbeda," kata Chey.
(dem/dem)
Addsource on Google

8 hours ago
5

















































