Harga Batu Bara Melambung 3 Hari, Awas Ancaman Mulai Datang!

8 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara masih menanjak di tengah kenaikan harga minyak dan tingginya permintaan. Kendati demikian masih tingginya pasokan bisa mengancam keberlanjutan kenaikan harga batu bara.

Pada perdagangan Senin (20/7/2026), harga batu bara menguat 0,30% ke US$ 133,75 per ton.

Kenaikan ini memperpanjang tren positifnya dengan menguat 2,5% dalam tiga hari terakhir.

Harga minyak mentah AS (WTI) ditutup naik 0,9% ke US$83,23 per barel, sementara minyak acuan global Brent menguat sekitar 1,3% menjadi US$89,22 per barel.

Batu bara dan minyak adalah komoditas yang saling mensubstitusi sehingga harganya saling memengaruhi.

Harga batu bara juga naik di tengah kenaikan permintaan akibat gelombang panas. Kendati demikian, permintaan sudah melandai dibandingkan pekan lalu.

India memastikan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik masih aman di tengah lonjakan permintaan listrik akibat cuaca panas dan lemahnya musim hujan. Per 12 Juli, stok batu bara mencapai 42,8 juta ton, cukup untuk menopang operasi pembangkit selama 14 hari pada tingkat utilisasi 85%.

Permintaan listrik puncak India pekan lalu mencapai 270,1 GW dan diperkirakan menyentuh 280 GW tahun ini.

Meski energi terbarukan terus berkembang, batu bara masih menjadi tulang punggung kelistrikan India dengan menyumbang 69,5% pasokan listrik pada April-Juni. Pemerintah juga terus memperkuat pasokan batu bara dan menambah kapasitas pembangkit untuk mengantisipasi tingginya kebutuhan listrik.

Prospek kenaikan harga batu bara termal di pelabuhan-pelabuhan China juga mulai kehilangan tenaga meski permintaan listrik meningkat pada puncak musim panas. Pasokan yang melimpah dan tingginya stok batu bara di pelabuhan membuat pembeli tetap berhati-hati sehingga kenaikan harga sulit berlanjut.

Pelaku pasar mencatat minat jual mulai meningkat, sementara aktivitas pembelian masih terbatas. Kondisi ini mengimbangi sentimen positif dari inspeksi keselamatan di sejumlah tambang batu bara di China serta ekspektasi konsumsi listrik yang lebih tinggi akibat gelombang panas musim panas.

Tingginya persediaan batu bara di pelabuhan utara China menjadi faktor utama yang membatasi kenaikan harga. Meski suhu udara meningkat dan kebutuhan listrik diperkirakan naik, stok yang besar membuat utilitas listrik tidak terburu-buru melakukan pembelian dalam jumlah besar.

Dengan kondisi tersebut, pasar memperkirakan harga batu bara termal dalam waktu dekat akan bergerak terbatas, kecuali terjadi gangguan pasokan yang lebih besar atau lonjakan permintaan listrik yang melampaui ekspektasi.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |