Achmad Aris, CNBC Indonesia
09 March 2026 12:35
Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan biaya kesehatan global diperkirakan masih berlanjut pada 2026 meski laju kenaikannya mulai melambat. Laporan terbaru Aon menunjukkan rata-rata medical trend global diproyeksikan sebesar 9,8% pada 2026, turun tipis dari 10% tahun sebelumnya dan kembali ke level single digit sejak 2023.
Meski mulai turun, angka medical trend global tersebut masih jauh di atas inflasi umum global sekitar 2,7%. Artinya, biaya kesehatan masih meningkat sekitar 3-4 kali lebih cepat dibandingkan dengan inflasi ekonomi secara umum.
Indonesia sendiri masih berada dalam kelompok negara dengan tekanan inflasi medis tinggi. Aon memperkirakan medical trend Indonesia mencapai 16,9% pada 2026, jauh di atas rata-rata global meski inflasi umum hanya sekitar 2,5%.
Medical trend menggambarkan proyeksi kenaikan biaya layanan kesehatan tahunan yang dipengaruhi inflasi medis, peningkatan utilisasi layanan, harga obat, hingga inovasi teknologi kesehatan. Dalam beberapa tahun terakhir, faktor-faktor tersebut terus menahan biaya kesehatan pada level tinggi di berbagai negara.
Secara regional, kawasan Timur Tengah dan Afrika masih mencatat proyeksi kenaikan biaya kesehatan tertinggi dengan medical trend 15,3%, diikuti Asia Pasifik sebesar 11,3%. Sementara itu, Eropa menjadi kawasan dengan proyeksi terendah di kisaran 8,2%.
Dari sisi epidemiologi, penyakit kardiovaskular, kanker, dan hipertensi tetap menjadi penyumbang utama klaim kesehatan global. Faktor risiko seperti pola makan buruk, kurang aktivitas fisik, serta obesitas turut memperbesar beban biaya kesehatan di banyak negara.
Selain itu, laporan juga menyoroti meningkatnya peran obat inovatif seperti GLP-1 yang digunakan untuk diabetes dan manajemen berat badan. Di sejumlah pasar, penggunaan obat ini bahkan berkontribusi hingga seperempat kenaikan biaya obat dalam program kesehatan perusahaan.
Menghadapi tren tersebut, perusahaan global semakin agresif melakukan pengendalian biaya. Strategi yang ditempuh antara lain memperkuat program wellbeing, menegosiasikan tarif dengan perusahaan asuransi, hingga menerapkan desain manfaat fleksibel dan skema cost sharing karyawan.
Meski laju kenaikan biaya mulai melandai, Aon menilai tekanan struktural seperti penuaan populasi, adopsi teknologi medis, serta permintaan layanan kesehatan swasta akan membuat inflasi medis tetap menjadi tantangan utama bagi perusahaan dan penyelenggara manfaat kesehatan dalam beberapa tahun ke depan.
Inflas Medis Indonesia
Tingginya inflasi medis di Indonesia dipicu kombinasi tiga faktor utama. Pertama, meningkatnya beban penyakit kronis seperti kardiovaskular, kanker, dan hipertensi yang mendorong kebutuhan perawatan jangka panjang dan berbiaya tinggi.
Kedua, lonjakan utilisasi layanan kesehatan seiring pertumbuhan kelas menengah, perluasan asuransi kesehatan komersial, serta ekspansi rumah sakit swasta yang membuat volume klaim meningkat cepat.
Ketiga, eskalasi biaya layanan dan teknologi medis, termasuk penggunaan terapi inovatif dan obat mahal yang ikut mendorong kenaikan biaya per episode perawatan.
Berbeda dengan beberapa negara ASEAN (Singapura dan Thailand) yang memiliki mekanisme pengendalian biaya lebih kuat, Indonesia masih berada pada fase transisi sistem kesehatan. Kombinasi permintaan yang meningkat, tarif layanan privat, dan perubahan profil penyakit membuat inflasi medis nasional tumbuh lebih cepat dibanding negara tetangga.
Kondisi ini diperkirakan akan terus menekan premi asuransi kesehatan komersial sekaligus mendorong industri melakukan penyesuaian desain manfaat dalam beberapa tahun ke depan.
Kenaikan inflasi medis yang konsisten di level tinggi diperkirakan akan berimplikasi langsung terhadap premi asuransi kesehatan komersial.
Perusahaan asuransi diproyeksikan semakin agresif melakukan penyesuaian desain produk melalui skema co-payment, deductible, penguatan jaringan provider, hingga program manajemen kesehatan.
Secara lebih luas, tren ini juga menjadi sinyal bahwa pengendalian inflasi medis akan menjadi agenda strategis industri kesehatan Indonesia dalam beberapa tahun ke depan, seiring meningkatnya peran sektor privat dalam pembiayaan layanan kesehatan.
(ach/ach)
Addsource on Google

5 hours ago
12
















































