Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, bersama jajaran menggelar Halalbihalal Nasional Idulfitri 1447 H/2026 M di Plaza Insan Berprestasi, Jakarta, Senin (30/3/2026)
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
JAKARTA (Waspada.id):Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, bersama jajaran menggelar Halalbihalal Nasional Idulfitri 1447 H/2026 M di Plaza Insan Berprestasi, Jakarta, Senin (30/3/2026).
Dalam sambutannya, Mu’ti menegaskan bahwa halalbihalal merupakan tradisi khas Indonesia yang tidak secara langsung berasal dari syariat agama, melainkan lahir dari pengamalan nilai-nilai ajaran agama oleh masyarakat.
“Halalbihalal adalah tradisi, bukan agama. Ia tidak terkait langsung dengan syariat, tetapi merupakan bentuk kreativitas umat dalam mengamalkan ajaran agama,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi halalbihalal bahkan hanya ditemukan di Indonesia, sebagai wujud perpaduan antara pemahaman dan praktik keagamaan yang kontekstual dan penuh nilai sosial.
Mu’ti juga menyinggung tradisi mudik yang menurutnya memiliki makna lebih dalam. Secara etimologis, istilah mudik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kembali ke udik atau kampung halaman. Namun secara spiritual, mudik dimaknai sebagai kembali kepada fitrah atau keaslian manusia.
Ia kemudian menguraikan filosofi “3R” dalam tradisi mudik. Pertama adalah spiritual refreshing, yaitu penyegaran spiritual setelah menjalani Ramadan sehingga manusia kembali kepada fitrah. Kedua, reunion, yakni momen berkumpul kembali dengan keluarga dan kerabat. Ketiga, recreation, di mana mudik juga menjadi sarana rekreasi yang menghadirkan pengalaman dan wawasan baru.
Selain itu, Mu’ti juga menjelaskan konsep “3O”. Pertama, open mind atau pikiran terbuka, yang mendorong seseorang untuk menerima perbedaan dan belajar dari siapa pun.
“Kita bisa belajar dari siapa saja, selama yang disampaikan itu baik. Jangan menjadi pribadi yang close minded,” tegasnya.
Kedua adalah open heart atau kelapangan hati, yang menjadi kunci dalam memaafkan orang lain dan menghindari sifat dendam maupun iri. Ketiga adalah open house, yakni tradisi membuka rumah untuk mempererat relasi sosial.
Lebih lanjut, ia memaparkan konsep “3S” yang menjadi tujuan akhir dari nilai-nilai tersebut, yaitu sejahtera, sehat, dan smart (cerdas).
Menurutnya, jaringan pertemanan yang luas akan membuka peluang rezeki, sementara kesehatan dan kecerdasan menjadi fondasi kehidupan yang lebih baik.
Mu’ti juga menyoroti nilai-nilai masyarakat desa seperti gotong royong, keramahan, dan kepedulian yang perlu terus dijaga dan dihidupkan kembali.
“Inilah yang akan kita bangun di Kemendikdasmen sebagai rumah kita bersama. Government yang santun menuju kesuksesan bersama seperti yang diamanatkan Presiden Prabowo Subianto,” tutupnya.
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.


















































