Guru Besar IPB Bongkar Masalah Perunggasan RI, Minta KPPU Turun Tangan

6 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Guru Besar IPB University, Yuli Retnani mengungkap akar persoalan industri perunggasan nasional termasuk anjloknya harga telur ayam. Menurutnya, bukan terletak pada teknologi produksi, melainkan pada struktur bisnis yang dinilai semakin terkonsentrasi dan rentan memunculkan praktik monopoli.

Yuli menilai, selama ini industri unggas Indonesia sebenarnya telah berkembang sangat modern dan efisien. Namun, di balik keberhasilan tersebut, terdapat persoalan serius yang membuat peternak rakyat terus tertekan.

"Masalah utama industri perunggasan Indonesia bukan lagi sekadar teknologi produksi, melainkan strukturnya dan industrinya yang semakin terkonsentrasi sehingga mudah terjadi praktek monopoli. Akibatnya, sistem perunggasan menciptakan ketidakadilan ekonomi yang serius," kata Yuli dalam keterangannya yang diterima CNBC Indonesia, dikutip Rabu (13/5/2026).

Ia menjelaskan, industri perunggasan merupakan sektor strategis bagi perekonomian nasional karena menjadi penyedia protein hewani murah bagi masyarakat. Produksi ayam broiler bahkan bisa dipanen hanya dalam waktu sekitar 30-40 hari.

"Industri perunggasan sangat strategis mempengaruhi perekonomian Indonesia. Penyediaan protein dapat diproduksi dalam waktu singkat, dipenuhi dari penyediaan protein hewani dari daging ayam broiler dan telur ayam," ujarnya.

Peternak ayam ras petelur mengumpulkan telur di Peternakan Bumdes Karya Mandiri, Kalisuren, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (11/5/2026). Pelaku usaha peternakan kini menghadapi tekanan ganda akibat lonjakan harga pakan di tengah anjloknya harga jual telur dan ayam hidup di tingkat peternak. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Foto: Peternak ayam ras petelur mengumpulkan telur di Peternakan Bumdes Karya Mandiri, Kalisuren, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (11/5/2026). Pelaku usaha peternakan kini menghadapi tekanan ganda akibat lonjakan harga pakan di tengah anjloknya harga jual telur dan ayam hidup di tingkat peternak. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Yuli menyebut industri unggas juga menjadi salah satu contoh keberhasilan modernisasi pertanian dan teknologi pangan di Indonesia. Efisiensi produksi ditopang teknologi pembibitan, pakan, kesehatan ternak hingga manajemen kandang modern.

"Jadi, industri adalah kisah sukses modernisasi pertanian dan teknologi pangan," tutur dia.

Tak hanya itu, sektor ini juga menjadi sumber protein hewani paling terjangkau bagi masyarakat sekaligus menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

"Dengan sistem produksi seperti sekarang ini maka kebutuhan protein rakyat tercukupi dan terjangkau, karena harganya murah," terang Yuli.

Namun di sisi lain, ia menyoroti banyak peternak rakyat justru mengalami kerugian berkepanjangan. Bahkan, tidak sedikit yang terlilit utang hingga kehilangan aset usaha akibat bisnis yang merugi.

"Banyak keluhan di kalangan produsen peternak perunggasan akibat sering mengalami kerugian, gulung tikar, terlibat hutang bahkan penyitaan aset properti kandang ataupun rumah, terjadi akibat kerugian usahanya," kata dia.

Menurut Yuli, kondisi tersebut menjadi indikasi struktur industri unggas sedang tidak sehat. Ia menilai telah terjadi konsentrasi horizontal dan vertikal yang menguntungkan perusahaan besar di sektor hulu, sementara peternak kecil di hilir semakin tertekan.

"Industri perunggasan mengalami konsentran horizontal dan vertikal sehingga menguntungkan konglomerasi di hulu, dan merugikan peternak di hilir. Nilai tambah dinikmati oleh perusahaan besar, sementara usaha kecil tertindas," ujarnya.

Ia menjelaskan, perusahaan besar saat ini menguasai rantai bisnis unggas dari hulu hingga hilir, mulai dari pembibitan DOC (day old chick), pakan ternak, obat dan vaksin, rumah potong, distribusi, cold storage hingga perdagangan ritel.

"Akibatnya, perusahaan besar mengontrol harga input, mengontrol pasokan DOC, mengontrol distribusi, bahkan dengan mudah dapat mempengaruhi harga pasar ayam dan telur," jelas Yuli.

Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat peternak rakyat hanya menjadi "price taker" atau penerima harga yang tidak memiliki kekuatan untuk memengaruhi harga pasar dan harus menerima harga yang berlaku, membeli input mahal tetapi menjual hasil ternak dengan harga murah.

"Pada satu sisi, konsumen menikmati harga protein murah. Tetapi pada sisi lain peternak kecil sering bangkrut, margin keuntungan sangat tipis, aset usaha sering disita bank," ujar dia.

Karena itu, ia meminta pemerintah dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) turun tangan melakukan reformasi struktur industri unggas, agar persaingan usaha lebih sehat.

"Pemerintah atau negara dalam hal ini harus hadir, karena industrinya tidak sehat. Pemerintah dan KPPU mutlak harus melakukan reformasi struktur industri menjadi bersaing sehat secara bertahap," katanya.

Yuli juga menyinggung rencana Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang mengundang investor baru asal China di sektor hulu perunggasan. Menurutnya, langkah tersebut menjadi isu sensitif di kalangan peternak, akademisi hingga pelaku usaha besar.

"Hadirnya rencana Kadin untuk mengundang investor baru di hulu menjadi isu sensitif dan perbincangan meluas di kalangan peternak, akademisi dan kampus, serta pengusaha besar itu sendiri," ucap dia.

Ia menilai rencana tersebut harus dijelaskan secara terbuka, apakah akan memperbaiki persaingan usaha dan membuka akses yang lebih baik bagi peternak, atau justru memperkuat konsentrasi bisnis yang sudah terjadi selama ini.

"Apakah akan memperbaiki persaingan yang sehat sehingga peternak lebih mempunyai akses yang lebih baik terhadap input produksi, proses produksi dan pasar. Atau sebaliknya, apakah kehadiran investor baru hanya akan melanggengkan konsentrasi dari hulu ke hilir dan konsentrasi horizontalnya," pungkas Yuli.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |