Harga Minyak Turun, Rupiah Hingga Emas Menguat

5 hours ago 2
Ekonomi

25 Maret 202625 Maret 2026

Harga Minyak Turun, Rupiah Hingga Emas Menguat

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

MEDAN (Waspada.id): Pergerakan pasar keuangan global menunjukkan sentimen positif seiring munculnya harapan de-eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Penurunan harga minyak mentah dunia menjadi katalis utama yang mendorong penguatan mata uang rupiah serta harga emas pada perdagangan hari ini.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, bahwa pasar merespons positif sinyal adanya potensi pembicaraan langsung antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun kabar tersebut sempat dibantah oleh pihak Iran.

“Pasar melihat ada peluang de-eskalasi konflik, sehingga tekanan terhadap harga minyak mulai mereda. Ini langsung direspons dengan penguatan di sejumlah instrumen keuangan,” ujarnya, Rabu (25/3).

Harga minyak mentah dunia tercatat mengalami penurunan signifikan. Untuk jenis WTI berada di kisaran 87 dolar AS per barel, sementara Brent turun ke level 97 dolar AS per barel. Penurunan ini turut mendorong mayoritas bursa saham Asia bergerak di zona hijau pada sesi perdagangan pagi.

Meski demikian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru dibuka melemah di level 7.084, seiring penyesuaian setelah libur panjang Nyepi dan Idulfitri. Namun dalam perjalanannya, IHSG mulai menunjukkan penguatan dan berbalik ke zona hijau.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga mengalami penguatan ke level Rp16.910 per dolar AS. Kondisi ini mencerminkan meredanya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik yang sebelumnya sempat menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sementara itu, harga emas dunia kembali naik ke kisaran 4.590 dolar AS per ons troy atau setara sekitar Rp2,4 juta per gram. Kenaikan ini didorong oleh kombinasi sentimen geopolitik dan ekspektasi inflasi global yang mulai melandai.

Menurut Gunawan, turunnya harga minyak berpotensi menekan laju inflasi global ke depan. Hal ini membuka ruang bagi bank sentral untuk mempertimbangkan pemangkasan suku bunga acuan pada tahun 2026.

“Jika tekanan inflasi mereda, peluang penurunan suku bunga akan semakin besar. Ini tentu menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan, termasuk di Indonesia,” pungkasnya. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |