Jakarta, CNBC Indonesia - Bayangkan Jakarta tiba-tiba kedatangan tujuh tentara asing. Bukan melalui kapal atau kendaraan militer, mereka justru muncul dari langit dengan parasut untuk memata-matai pemerintahan Indonesia.
Peristiwa tak biasa itu terjadi pada 8 September 1945, tepat hari ini 81 tahun lalu.
Tujuh tentara tersebut merupakan perwira Inggris yang dipimpin Mayor A.G. Greenhalgh. Mereka mendarat di Kemayoran secara diam-diam dengan membawa misi penting, yakni mencari tahu seperti apa kondisi Indonesia setelah Sukarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Ketika itu, Indonesia memang sudah menyatakan diri merdeka. Namun, bagi negara-negara asing yang berkepentingan, terutama Sekutu dan Belanda, situasi sebenarnya di lapangan masih menjadi tanda tanya besar.
Apa yang terjadi di Indonesia setelah Jepang menyerah? Seberapa kuat pemerintahan Republik yang baru berdiri? Dan yang tak kalah penting, seberapa besar kekuatan yang bisa menghadang jika Belanda kembali?
Mengutip paparan dalam British Military Administration in the Far East 1945-1946 (1956), pejabat Belanda bernama van Mook pernah melaporkan jika ada 40-50 ribu pasukan Indonesia yang bersiap menghadapi Belanda jika kembali ke Indonesia.
Namun, perkiraan jumlah pasukan saja belum cukup. Perkembangan politik di Indonesia juga berubah sangat cepat setelah proklamasi. Atas dasar inilah, perlu upaya memata-matai pemerintahan Indonesia agar Belanda dan sekutu lebih siap menghadapi perlawanan.
Pertanyaan dan asumsi itulah yang hendak dijawab lewat upaya mata-mata agar Belanda dan sekutu siap mengantisipasi perlawanan. Alhasil, Inggris pun akhirnya mengirim mengirim tujuh perwira terpilih ke Jakarta.
Greenhalgh ditunjuk memimpin kelompok tersebut untuk melihat, mendengar, dan mengumpulkan informasi. Caranya dengan diterjunkan pakai parasut.
"Tujuh perwira Inggris (Sekutu) di bawah pimpinan Mayor A.G. Greenhalgh diturunkan dengan payung udara di lapangan terban Kemayoran," tulis Pramoedya A. Toer dalam Kronik Revolusi Indonesia 1 (1945)
Berdasarkan paparan dalam Sejarah Nasional Indonesia (1995) terbitan Sekretariat Negara RI, Greenhalgh langsung menjalankan misinya sesampainya di Jakarta. Dia segera menjalin hubungan dengan eks perwira Jepang, yakni Yamamoto.
Selain itu, tentara asing itu juga diminta mencari tempat untuk markas sekutu di Jakarta. Singkat cerita, setelah beberapa hari, pasukan mata-mata itu berhasil mengumpulkan informasi bagaimana Belanda dan sekutu bersikap ketika tiba di Jakarta, seperti tidak mengusik Soekarno dan Hatta, tidak mengajak Belanda, dan tidak merusak harga diri masyarakat dengan menurunkan bendera merah putih.
Lewat upaya itulah, pada 16 September 1945 pukul 10 pagi, rombongan sekutu berlabuh di Tanjung Priok menggunakan kapal perang HMS Cumberland. Di dalam kapal tersebut ikut pula pasukan Belanda.
Sejak saat itulah, situasi Indonesia berubah. Belanda berhasil masuk Indonesia dan mengusik pemerintahan. Perlawanan rakyat pun pecah di beberapa daerah.
(mfa/wur)

4 hours ago
4














































