Jakarta, CNBC Indonesia - Gunung Api Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Selasa (8/9/2026) pagi pukul 05.34 WIB. Berdasarkan data yang terekam seismograf, letusan terbaru ini memiliki amplitudo maksimum 44 mm dan berlangsung selama 10 detik.
Namun, tinggi kolom erupsi tidak teramati. Sebelumnya, erupsi utama Anak Krakatau terjadi pada Jumat (4/9) malam pukul 23.07 WIB. Selanjutnya, erupsi susulan terus terjadi, hingga aliran lava menyembur dan menghasilkan kolom abu yang berdampak pada penutupan beberapa bandara.
Masyarakat di beberapa wilayah juga melaporkan dampak seburan abu vulkanik Anak Krakatau, seperti Lampung, Banten, Jawa Barat, dan Jakarta.
Dalam unggahan di akun X resminya, Badan Geologi menjelaskan bahwa material abu bisa tersebar sangat luas dan jauh karena karakteristiknya yang sangat halus, sehingga dapat terangkat ke atmosfer bersama kolom erupsi.
"Kemudian terbawa mengikuti arah dan kecepatan angin pada ketinggian tertentu. Karena itu, wilayah yang cukup jauh dari gunun dapat mengalami hujan abu," tulis Badan Geologi, dikutip Selasa (8/9/2026).
Potensi Erupsi Lagi
Lebih lanjut, Badan Geologi menjelaskan Anak Krakatau saat ini masih berstatus Level III (Siaga) dengan jarak rekomendasi 3 km dari pusat aktivitas. Hal ini menunjukkan bahwa potensi erupsi masih tinggi.
"Aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dipantau secara visual dan instrumental oleh PVMBG. Peningkatan aktivitas tidak ditentukan hanya dari satu erupsi atau video, tetapi dari berbagai parameter pemantauan," tulis Badan Geologi.
Tidak Sama dengan Erupsi 2018
Banyak orang yang khawatir dampak erupsi Anak Krakatau saat ini akan mirip dengan insiden 2018 silam, yang akhirnya memicu tsunami. Badan Geologi menekankan dimensi tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil.
Untuk itu, erupsi 4 September 2026 tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Masyarakat Perlu Mengungsi?
Badan Geologi mengimbau agar masyarakat yang terdampak abu vulkanik dari erupsi Anak Krakatau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Pasalnya, abu vulkanik mengandung partikel halus dan silika yang dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasa.
"Jika harus keluar, gunakan masker dan kacamata, terutama saat hujan abu cukup dekat," kata Badan Geologi.
Kendati demikian, Badan Geologi menilai masyarakat saat ini tidak perlu mengungsi. Cukup jaga jarak aman radius 3 km yang dari pusat aktivitas Anak Krakatau.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
4














































