Perang Timteng Gak Kelar-Kelar, Iran Ancam Bom Situs Minyak-Gas Arab

4 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang di Timur Tengah kembali memanas pekan ini. Terbaru Selasa (8/9/2026), Iran memperingatkan akan membalas setiap serangan baru Amerika Serikat (AS) dengan menyasar infrastruktur energi di kawasan Teluk.

Ancaman ini meningkatkan risiko serangan terhadap fasilitas minyak dan gas di negara-negara Arab. Perlu diketahui sejumlah negara Arab merupakan sekutu AS yang terkait kepentingan ekonomi erat.

"Serang aset kami, maka Anda akan diserang balik," ujar Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf, Senin waktu setempat, seperti dikutip Reuters.

"Serangan termasuk kepentingan minyak dan gas milik AS," katanya lagi menyebut fasilitas energi yang menjadi kerja sama AS dan sejumlah negara Teluk.

Qalibaf menyebut rantai produksi minyak dan gas di kawasan Teluk sangat luas dan mudah dijangkau. Bahkan, tambahnya, perusahaan energi AS yang beroperasi di perairan maupun juga akan menghadapi risiko.

"Rantai produksi minyak dan gas di sini sangat luas, mudah diakses, dan terbuka terhadap serangan," tulis Qalibaf melalui platform X.

Pernyataan ini sekaligus respons terhadap Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. Ia sebelumnya menyebut armada kapal tanker minyak Iran tidak memiliki pertahanan memadai.

Iran Rilis Zona Terlarang Baru

Ketegangan juga meningkat di sekitar Selat Hormuz. Ini merupakan jalur strategis yang sebelumnya menjadi rute sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, sebelumnya perang AS-Iran berkecambuk Februari lalu.

Pejabat senior keamanan Iran Mohsen Rezaei mengatakan Teheran akan segera menetapkan zona terlarang baru di Teluk serta membuka koridor pelayaran baru. Kapal yang memasuki area tertentu dapat dimasukkan ke daftar sanksi Iran.

"Kami hanya akan berkomitmen untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka jika mereka menghentikan sabotase, ancaman, dan serangan terhadap Iran," kata Rezaei.

Sebelumnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz sudah merosot tajam. Dari data, rata-rata hanya sekitar 10 kapal pengangkut komoditas melintas setiap hari dalam 10 hari terakhir, terendah sejak Mei.

Jalu Alternatif Minyak?

Dampak konflik turut dirasakan negara-negara Arab penghasil minyak, termasuk Uni Emirat Arab (UEA), yang menghadapi serangan rudal Iran serta gangguan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Penasihat Presiden UEA Anwar Gargash mengatakan Abu Dhabi tengah membangun jalur alternatif ekspor energi dan perdagangan agar aktivitas ekonomi tidak "disandera" oleh perang.

(tfa/sef) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |