Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 1% lebih pada perdagangan pagi ini, Selasa (10/2/2026). pada penutupan perdagangan sesi pertama, IHSG melesat 100,88 poin atau lompat 1,26% ke level 8.115,76.
Sebanyak 572 saham naik, 126 turun, dan 118 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 11,92 triliun, melibatkan 26,93 miliar saham dalam 1,52 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun terkerek naik menjadi Rp 14.778 triliun.
Berdasarkan data pasar, Bumi Resources (BUMI) menjadi saham yang paling banyak ditransaksikan pagi ini, mencapai Rp 3,6 triliun. Saham BUMI tercatat naik 5% ke level 252. Selanjutnya nilai transaksi jumbo juga dicatatkan saham BBCA, DEWA, BMRI dan BUVA.
Mayoritas sektor perdagangan menguat hari ini, dengan apresiasi terbesar dibukukan oleh sektor properti, konsumer non-primer dan barang baku. Adapun hanya sektor kesehatan dan infrastruktur yang tertekan hari ini.
Saham-saham blue chip serta emiten milik konglomerat kompak tercatat menjadi penopang kinerja IHSG hari ini, dengan kontribusi indeks poin paling besar disumbang oleh emiten finansial Capital Finance Indonesia (CASA) yang melesat 15,16% dan menyumbang 11,03 indeks poin.
Lalu disusul oleh Bank Mandiri (BMRI), Pantai Indah Kapuk Dua (PANI) dan Amman Mineral Internasional (AMMN) dengan sumbangan sekitar 5 indeks poin dan saham Telkom Indonesia (TLKM) dengan kontribusi sekitar 4 indeks poin.
Sementara itu sejumlah saham milik konglomerat hari ini tercatat menjadi pemberat utama kinerja IHSG dengan Barito Renewables Energy (BREN) menyumbang pelemahan terbesar ke IHSG hari ini, diikuti oleh BYAN dan SMMA.
Adapun pelaku pasar hari ini akan mencermati sejumlah sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri. Mulai dari kelanjutan perkembangan MSCI terhadap pasar saham dalam negeri hingga kebijakan bank sentral secara global.
Isu yang paling menyita perhatian pelaku pasar modal saat ini adalah peringatan keras dari MSCI terkait posisi Indonesia. Indonesia terancam turun kelas dari kategori Emerging Markets dan turun kasta ke Frontier Markets jika standar pasar dinilai tidak lagi memenuhi kriteria global.
Risiko downgrade ini menjadi alarm bahaya, mengingat status Emerging Market adalah kunci masuknya foreign flow dalam jumlah triliunan Rupiah ke pasar saham tanah air, terutama kebutuhan Indonesia yang masih sangat bergantung terhadap aliran dana pasif dari index global seperti MSCI.
Merespons ancaman tersebut, pemerintah mengambil langkah tegas dengan melakukan perombakan besar-besaran pada jajaran regulator. Perubahan struktur terjadi mulai dari Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga jajaran direksi Bursa Efek Indonesia (BEI).
Baca:
Bursa Asia Menguat Pagi Ini, Nikkei Cetak Rekor
Langkah ini diambil untuk memastikan adanya penyegaran visi dan eksekusi kebijakan yang lebih agresif dan dinamis demi mempertahankan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global.
Sebagai tindak lanjut, regulator langsung melakukan eksekusi secara signifikan dengan menerbitkan aturan baru yang lebih ketat.
Salah satu kebijakan strategis yang diberlakukan adalah kenaikan free float menjadi 15%, naik dua kali lipat dari aturan sebelumnya yang hanya 7,5%. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan likuiditas pasar secara riil agar sesuai dengan standar tinggi yang ditetapkan MSCI.
Tak hanya soal likuiditas, transparansi pasar juga dibuka lebar-lebar. Regulator kini mewajibkan pembukaan data kepemilikan saham hingga porsi 1%, jauh lebih transparan dibandingkan aturan lama yang hanya mewajibkan pelaporan untuk kepemilikan 5% ke atas.
Tindakan ini membawa misi ganda yaitu memenuhi standar transparansi global sekaligus melindungi investor ritel dari praktik manipulasi pasar atau "saham gorengan" yang kerap bersembunyi di balik kepemilikan semu.
Arah kebijakan bank sentral global maupun domestik mulai memasuki fase pelonggaran. Setelah mempertahankan tren suku bunga tinggi sepanjang tahun 2024 untuk memerangi inflasi di AS, Bank Indonesia (BI) dan The Federal Reserve (The Fed) kini kompak memangkas suku bunga acuan mereka di tahun 2026 mendatang.
Data pasar per Januari 2026 mencatat Fed Funds Rate telah turun ke level 3,75%, sementara BI Rate menyesuaikan diri untuk tetap di level 4,75% akibat pelemahan Rupiah yang terjadi di pasar valas.
Selisih suku bunga yang terjaga sebesar 1,00% atau 100 basis poin ini dinilai masih cukup menarik dan kompetitif untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing, sekaligus memelihara stabilitas nilai tukar Rupiah.
Lebih dari itu, penurunan suku bunga acuan ini diharapkan dapat segera tertransmisikan ke perbankan, sehingga menurunkan biaya dana (cost of fund) bagi dunia usaha.
Biaya pinjaman yang lebih murah diharapkan dapat mengakselerasi ekspansi bisnis dan penyaluran kredit, yang pada akhirnya akan memacu pertumbuhan sektor riil secara lebih cepat pada tahun ini guna percepatan mesin ekonomi ke pertumbuhan PDB 8%.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2
















































