Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengakui industri perhotelan sempat mengalami tekanan cukup dalam di awal tahun 2025. Tingkat keterisian kamar hotel atau okupansi bahkan sempat menyentuh titik terendah dalam beberapa tahun terakhir, seiring perubahan pola belanja pemerintah dan masyarakat di awal tahun.
Di tengah dinamika tersebut, pemerintah tetap memberikan apresiasi kepada pelaku industri yang dinilai mampu menjaga roda pariwisata tetap berputar. Menurut Widiyanti, kontribusi sektor hotel dan restoran masih menjadi salah satu penopang penting aktivitas ekonomi daerah.
Sepanjang tahun lalu pelaku usaha harus menghadapi situasi pasar yang tidak mudah. Data kementerian menunjukkan penurunan rata-rata tingkat hunian dibandingkan periode sebelumnya, terutama pada kuartal pertama yang menjadi fase paling berat.
"Kilas balik dalam hal tingkat okupansi hotel, tahun 2025 menjadi tahun yang cukup berat bagi pelaku usaha perhotelan. Secara rata-rata, tingkat okupansi tercapai lebih rendah 3,27 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya, terutama karena penurunan signifikan pada awal tahun 2025," katanya dalam Rakernas PHRI, Selasa (10/2/2026)
Tekanan terbesar terjadi pada Maret, ketika angka keterisian kamar anjlok tajam. Widiyanti menyebut kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari perubahan pola pengeluaran baik dari sisi belanja pemerintah maupun konsumsi masyarakat.
"Tingkat okupansi terendah terjadi pada bulan Maret 2025 yakni sebesar 33,56% atau lebih rendah 9,585 poin persentase dibandingkan Maret 2024. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh perubahan pola belanja pemerintah dan masyarakat pada awal tahun. Pada saat ini, ekonomi kita juga tumbuh rendah sebesar 4,87%," jelasnya.
Meski sempat terpuruk, sektor perhotelan mampu menunjukkan daya tahan yang cukup kuat. Pergerakan okupansi perlahan membaik hingga penghujung tahun, menandakan adanya pemulihan permintaan perjalanan dan aktivitas wisata.
"Meskipun demikian, industri ini terus menunjukkan ketangguhan dan kemampuan untuk bangkit kembali. Pelaku usaha perhotelan tetap resilient, tercermin dari tren peningkatan okupansi yang berlangsung secara bertahap. Pada Desember 2025, tingkat okupansi mencapai 56,12%, pencapaian tertinggi sepanjang tahun dengan selisih dibandingkan performa tahun lalu yang semakin mengecil," ungkap Widiyanti.
Di saat yang sama, usaha akomodasi nasional juga mengalami ekspansi. Persebaran unit penginapan dinilai semakin merata di berbagai daerah, mencerminkan geliat investasi yang masih berjalan meski pasar sempat melambat.
"Secara nasional, jumlah akomodasi mengalami peningkatan sebesar 4,49%, meskipun terdapat penurunan di beberapa provinsi, totalnya secara nasional tetap meningkat," pungkasnya.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1
















































