Susi Setiawati, CNBC Indonesia
11 February 2026 08:35
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya mulai rebound ke atas 8000. Banyak saham sudah mulai hijau, meskipun belum menutup kerugian dari kejatuhan akhir bulan lalu.
IHSG pada penutupan kemarin Selasa (10/2/2026) berakhir menguat 1,24% ke posisi 8.131,74. Penguatan ini melanjutkan hari sebelumnya yang naik 1,22%, artinya sudah dua hari beruntun gerak IHSG mulai cerah.
Pergerakan IHSG kemarin melibatkan sebanyak 556 saham naik, 144 turun, dan 116 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 20,37 triliun, melibatkan 45,77 miliar saham dalam 2,45 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun terkerek naik menjadi Rp 14.778 triliun.
Berdasarkan data pasar, Bumi Resources (BUMI) menjadi saham yang paling banyak ditransaksikan kemarin, mencapai Rp 5 triliun. Saham BUMI tercatat naik 3,33% ke level 248. Selanjutnya nilai transaksi jumbo juga dicatatkan saham Bank Central Asia (BBCA), Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Darma Henwa (DEWA).
Seluruh sektor perdagangan menguat, dengan apresiasi terbesar dibukukan oleh sektor properti, konsumer non-primer dan industri. Adapun sektor kesehatan dan infrastruktur mencatatkan kenaikan paling kecil hari ini.
Saham-saham blue chip serta emiten milik konglomerat kompak tercatat menjadi penopang kinerja IHSG, dengan kontribusi indeks poin paling besar disumbang oleh Astra International (ASII) yang melesat 3,01%, menyumbang 8,19 indeks poin.
Lalu disusul oleh BMRI yang menyumbang 8 indeks poin, Capital Finance Indonesia (CASA) dan Amman Mineral Internasional (AMMN) dengan sumbangan sekitar 5 indeks poin.
Lantas kemana arah IHSG selanjutnya?
Secara teknikal, penguatan IHSG dalam dua hari ini kami menilai masih bersifat teknikal rebound.
Ada resistance yang potensi diuji di level sekitar 8200, jika ini mampu ditembus ruang penguatan menuju 8700 bisa terbuka untuk menutup gap down yang terbentuk ketika IHSG mengalami trading halt pertama pada 28 Januari lalu.
Namun, jika level 8200 tidak mampu ditembus, IHSG bisa lanjut bergerak sideways dulu dengan support yang menahan harga saat ini di 7846, bertepatan dengan garis MA200 daily.
Kami menilai, penguatan IHSG masih butuh transaksi pasar yang lebih ramai lagi, sejak IHSG crash karena MSCI akhir bulan lalu, nilai transaksi harian mulai surut ke bawah Rp20 triliun.
Inflow masih terbatas karena beberapa indeks populer seperti MSCI dan FTSE menahan rebalancing.
Pasar masih wait and see reformasi pasar modal RI yang lebih transparan dan bisa lebih dipercaya. Dalam jangka pendek, paling tidak sampai Mei 2026 kami melihat market akan bergerak terkonsolidasi.
Namun, momen ini bisa dimanfaatkan sebagai masa rebalancing untuk portofolio kita. Dengan teknikal rebound yang mulai terjadi, kita bisa mulai berbenah memilih saham yang masih layak dipertahankan dan bisa di average down.
Atau pilih untuk mengurangi porsi atau sekalian cut loss dulu untuk amankan modal.
Atau kalau yang baru masuk dan punya cash besar bisa mulai mengakumulasi saham-saham yang secara fundamental solid, valuasi menarik, dan punya agenda bisnis yang terbukti mampu meningkatkan profitabilitas ke depan, bukan hanya sekadar narasi.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)

2 hours ago
1















































