Kondisi jembatan Kuta Bak Drien, yang hanya abudment selesai dikerjakan tahun 2024 lalu tanpa badan jembatan, sehingga jembatan harapan masyarakat tersebut, tidak dapat digunakan, Rabu (25/3).Waspada.id/Syafrizal
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
BLANGPIDIE (Waspada.id): Di tengah harapan akan konektivitas dan kemajuan desa, warga Desa Kuta Bak Drien, Kecamatan Tangan Tangan, Aceh Barat Daya (Abdya), justru dihadapkan pada kenyataan pahit, sebuah jembatan yang tak kunjung rampung, menyisakan abudment (pangkal jembatan) sebagai simbol proyek yang terhenti dan harapan yang menggantung.
Sejak dikerjakan pada 2024 lalu, pembangunan jembatan penghubung dua desa itu tak pernah berlanjut. Yang berdiri hari ini hanyalah struktur pangkal yang menjulang, tanpa badan jembatan, tanpa akses, tanpa fungsi. Ia menjadi “monumen sunyi” dari perencanaan yang tak selesai.
Kepala Desa Kuta Bak Drien, Zulkifli, Rabu (25/3), tak menampik kekecewaan warganya. Ia menyebutkan, kondisi ini bukan sekadar keterlambatan proyek, melainkan persoalan serius yang menyentuh denyut kehidupan masyarakat. “Jembatan ini bukan pelengkap, tapi kebutuhan utama. Tanpa itu, warga harus memutar hingga dua kilometer, dengan jalur yang rawan, apalagi saat musim hujan,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar jarak, yang dipertaruhkan adalah akses ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan. Distribusi hasil pertanian tersendat, biaya transportasi membengkak dan mobilitas warga menjadi terbatas.

Ironisnya, struktur abudment yang telah dibangun, justru dinilai tidak selaras dengan kondisi geografis dan permukiman warga. Tingginya konstruksi pangkal jembatan, memunculkan pertanyaan baru, apakah perencanaan proyek ini benar-benar matang sejak awal?
Kades Zulkifli mengungkapkan, persoalan ini telah disampaikan kepada Bupati Abdya, Safaruddin. Bahkan, permohonan resmi diminta segera diajukan ke Pemerintah Provinsi Aceh, agar pembangunan dapat dilanjutkan. Namun hingga kini, warga masih menunggu tanpa kepastian.
Di lapangan, suara warga terdengar lirih namun tegas. Mereka tidak menuntut kemewahan, hanya akses yang layak untuk hidup lebih baik.
“Kalau jembatan ini selesai, kami tidak perlu lagi memutar jauh. Biaya bisa hemat, waktu juga tidak terbuang,” sebut seorang warga.
Harapan itu sederhana, tapi dampaknya besar. Jembatan ini diyakini akan menjadi urat nadi penggerak ekonomi desa, terutama sektor perkebunan dan pertanian, yang menjadi tulang punggung masyarakat setempat.
Kini, bola ada di tangan Pemerintah Provinsi Aceh. Warga Kuta Bak Drien menanti bukan sekadar janji, melainkan tindakan nyata, agar jembatan itu tidak selamanya menjadi simbol proyek mangkrak, tetapi benar-benar menjadi penghubung harapan dan masa depan.(id82)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.


















































