Kematian Siswa SD Di NTT, Salman Soroti Lemahnya Perlindungan Sosial Anak Miskin

2 hours ago 2
Medan

6 Februari 20266 Februari 2026

Kematian Siswa SD Di NTT, Salman Soroti Lemahnya Perlindungan Sosial Anak Miskin

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

MEDAN (Waspada.id) — Kasus meninggalnya seorang siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), membuka kembali persoalan serius lemahnya perlindungan sosial bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, terutama di wilayah pedesaan dan terpencil.

Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara, Salman Alfarisi, menyatakan duka mendalam atas wafatnya siswa berinisial YBS (10) yang ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026). Menurutnya, tragedi tersebut harus menjadi peringatan keras bagi pemerintah agar tidak mengabaikan kebutuhan dasar masyarakat miskin.

“Peristiwa ini menunjukkan bahwa masih ada warga yang luput dari perhatian negara. Pemerintah harus memastikan program sosial benar-benar menjangkau keluarga yang paling membutuhkan,” ujar di Medan, Kamis (5/2).

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menanggapi pemberitaan yang menyebutkan bahwa sebelum kejadian, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pulpen. Namun permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Dalam proses olah tempat kejadian perkara, aparat kepolisian menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditulis korban dan ditujukan kepada ibunya. Surat tersebut ditemukan di sekitar lokasi kejadian dan kini menjadi bagian dari penyelidikan pihak berwenang.

Salman menilai peristiwa ini mencerminkan masih rapuhnya jaring pengaman sosial di sejumlah daerah, khususnya bagi keluarga prasejahtera yang tinggal di wilayah terpencil dan memiliki keterbatasan akses terhadap bantuan pemerintah.

Ia menekankan pentingnya penguatan perlindungan sosial yang menyasar kebutuhan dasar anak, termasuk pemenuhan perlengkapan sekolah, serta pendampingan psikososial bagi keluarga kurang mampu.

“Negara tidak boleh hanya hadir dalam bentuk bantuan ekonomi, tetapi juga memastikan pendampingan sosial berjalan dengan baik, terutama untuk menjaga kondisi psikologis anak-anak dari keluarga miskin,” katanya.

Selain itu, Salman mendorong peningkatan koordinasi lintas sektor antara dinas sosial, dinas pendidikan, pemerintah desa, dan lembaga terkait lainnya agar potensi kerentanan anak dapat terdeteksi dan ditangani sejak dini.

Ia juga menyoroti pentingnya peran sekolah dan lingkungan sekitar dalam mendeteksi kondisi sosial dan psikologis siswa. Menurutnya, guru dan pihak sekolah perlu dibekali mekanisme pelaporan yang cepat dan efektif ketika menemukan siswa yang mengalami kesulitan ekonomi ekstrem atau tekanan mental akibat kondisi keluarga.

“Sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak. Jika ada siswa yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar pendidikan, negara harus hadir melalui sistem yang responsif, bukan menunggu sampai terjadi tragedi,” ujar Salman.

Menurutnya, pembenahan dan pemutakhiran basis data keluarga miskin harus dilakukan secara berkelanjutan agar program perlindungan sosial, rehabilitasi, dan pemberdayaan dapat tepat sasaran serta mampu mencegah peristiwa serupa terulang di masa mendatang. (id111/rel)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |