Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
19 March 2026 15:50
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejarah maritim mencatat ekspedisi samudra Dinasti Ming pada abad ke-15 yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho sebagai salah satu pelayaran terbesar pada masanya.
Berdasarkan data historis, armada Tiongkok ini melakukan pelayaran menuju berbagai wilayah di Asia Tenggara, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga pesisir timur Afrika. Di wilayah Nusantara, ekspedisi tersebut berfokus pada pembukaan jalur perdagangan dan diplomasi kenegaraan.
Rekam jejak pelayaran ini memberikan data faktual terkait perkembangan komunitas Islam dan proses asimilasi budaya di kawasan pesisir Indonesia yang dampaknya masih dapat ditelusuri hingga saat ini.
Latar Belakang Ma He dan Dinasti Ming
Laksamana Cheng Ho lahir pada tahun 1371 di Provinsi Yunnan dengan nama asli Ma He. Ia berasal dari kelompok etnis Hui, sebuah minoritas di Tiongkok yang secara demografis mayoritas memeluk agama Islam.
Penggunaan nama keluarga "Ma" sendiri merupakan transliterasi dari nama Muhammad dalam tradisi masyarakat Muslim Tionghoa. Pada masa mudanya, Ma He menjadi tawanan perang dan kemudian direkrut ke dalam sistem birokrasi militer istana.
Ia mengabdi kepada Zhu Di, Pangeran Yan, yang di kemudian hari bertakhta sebagai Kaisar Yongle dari Dinasti Ming. Kepercayaan kaisar kepada Cheng Ho didasari oleh rekam jejak militer dan kemampuan diplomasinya.
Latar belakangnya sebagai seorang Muslim juga memberikan keuntungan strategis yang terukur bagi Dinasti Ming. Identitas tersebut secara langsung memfasilitasi komunikasi dan proses negosiasi ekonomi antara kekaisaran Tiongkok dengan berbagai kesultanan Islam yang pada abad ke-15 mendominasi jalur niaga utama di kawasan Asia Tenggara dan Samudra Hindia.
Foto: CNBC indonesia
11 Juli 1405 Ekspedisi Keliling Dunia Cheng Ho Dimulai
Skala Ekspedisi dan Infrastruktur Maritim
Antara tahun 1405 hingga 1433, pemerintah Dinasti Ming mendanai dan melaksanakan tujuh ekspedisi maritim berskala besar di bawah komando utama Laksamana Cheng Ho. Catatan resmi dari era tersebut menunjukkan bahwa armada ini terdiri dari sekitar 300 kapal dari berbagai ukuran, dengan total awak mencapai kurang lebih 27.000 orang pada setiap armada pelayarannya.
Komposisi awak kapal didesain secara komprehensif, mencakup personel militer, ahli navigasi, astronom, penerjemah bahasa asing, serta tenaga medis. Kapal komando utama, yang dikenal sebagai Baochuan atau Kapal Pusaka, dibangun dengan dimensi dan kapasitas muatan logistik yang dirancang khusus untuk pelayaran lintas samudra dalam jangka waktu panjang.
Tujuan pelayaran ini murni bersifat kenegaraan dan ekonomi, yakni untuk memperluas jangkauan sistem upeti guna mendapat pengakuan kedaulatan Tiongkok tanpa okupasi militer, serta mengamankan rute perdagangan maritim internasional.
Tiongkok mengekspor komoditas manufaktur seperti sutra, teh, dan porselen, yang kemudian dipertukarkan dengan produk lokal Nusantara yang bernilai tinggi, khususnya berbagai jenis rempah-rempah dan kayu gaharu.
Foto: Guci "Naga" biru dan putih kekaisaran, yang berasal dari Dinasti Ming, dijual seharga $13,7 juta. (Foto:Sotheby)
Rute Strategis dan Stabilitas Keamanan Nusantara
Secara geografis, wilayah Nusantara berfungsi sebagai titik transit utama dan pusat pertukaran komoditas bagi armada Cheng Ho sebelum melanjutkan pelayaran melintasi Samudra Hindia ke arah barat.
Di Pulau Sumatera, armada Dinasti Ming secara reguler bersandar di pelabuhan Kesultanan Samudera Pasai untuk melakukan kegiatan diplomasi resmi, pertukaran cenderamata kenegaraan, dan pengisian ulang logistik kapal.
Selain aspek komersial, armada ini juga secara aktif terlibat dalam menjaga stabilitas keamanan maritim regional. Pada tahun 1407, Cheng Ho memimpin operasi militer di perairan Palembang untuk menumpas kelompok perompak yang dipimpin oleh Chen Zuyi, yang sebelumnya memonopoli dan mengganggu arus perdagangan di kawasan Selat Malaka.
Pasca-operasi tersebut, otoritas Ming menempatkan tokoh Muslim Tionghoa bernama Shi Jinqing untuk mengelola birokrasi di Palembang, sebuah langkah yang secara efektif menstabilkan jalur niaga di wilayah itu.
Di Pulau Jawa, armada ini tercatat berlabuh di pelabuhan-pelabuhan utama Kerajaan Majapahit, termasuk Tuban, Gresik, Surabaya, dan Semarang, guna melakukan transaksi ekonomi dengan birokrat dan penduduk lokal.
Pembentukan Komunitas Islam dan Warisan Asimilasi
Interaksi ekonomi yang intensif antara awak kapal armada Cheng Ho dengan penduduk di wilayah pesisir Nusantara berkontribusi pada proses penyebaran agama Islam yang berjalan secara damai.
Berdasarkan literatur Yingya Shenglan yang ditulis oleh Ma Huan, salah satu penerjemah resmi ekspedisi, sejumlah anggota awak kapal yang beragama Islam memutuskan untuk tidak kembali ke Tiongkok dan menetap di pelabuhan-pelabuhan transit.
Mereka berdagang, berbaur melalui pernikahan dengan masyarakat lokal, dan membentuk komunitas Muslim Tionghoa yang terstruktur di pesisir utara Jawa dan Sumatera bagian selatan.
Proses asimilasi budaya ini meninggalkan aset historis yang masih beroperasi di Indonesia. Kelenteng Sam Poo Kong di Semarang, yang awalnya difungsikan sebagai titik pendaratan armada, kini menjadi situs cagar budaya yang secara visual memperlihatkan perpaduan antara arsitektur Tionghoa dan tradisi Jawa.
Pengaruh historis serupa tervisualisasi pada tempat ibadah modern, seperti Masjid Muhammad Cheng Hoo di Surabaya dan Palembang. Bangunan-bangunan tersebut secara arsitektural memadukan elemen tradisional Tiongkok seperti atap segi delapan dengan tata ruang standar masjid, mendokumentasikan jejak interaksi antarbudaya era ekspedisi Ming.
Foto: Google Image
Kelenteng Sam Poo Kong
-
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google

3 hours ago
2
















































