Jakarta, CNBC Indonesia - Nominal penerbitan surat berharga syaria negara (SBSN) Ritel pemerintah alias sukuk ritel melampaui total nilai penerbitan Surat Utang Negara (SUN) yang telah terbit dalam 20 tahun terakhir.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, total penerbitan sukuk ritel telah mencapai Rp 652,2 triliun sejak 2009-2026. Sedangkan SUN secara nominal Rp 615,9 triliun selama periode 2006-2026.
"Rp652,2 triliun terhimpun dari 41 seri sejak 2009," dikutip dari data DJPPR yang diterima CNBC Indonesia, Selasa (22/9/2026).
Dari total 41 seri yang diterbitkan dalam bentuk 25 seri sukuk ritel (SR) dan 16 sukuk tabungan (ST), puncak penerbitan tahunan terjadi pada 2024 dengan nominal sebesar Rp 85,6 triliun pada 2024. Adapun kupon tertinggi pada 2019 sebesar 8,05%.
Sepanjang sejarah penerbitan, DJPPR mencatat, jumlah investor terbanyak berasal dari seri SR025, dengan jumlah investor sebanyak 93.548 individu. Jumlah ini naik 6,5 kali dibanding catatan pada penerbitan SR001 yang sebanyak 14.295.
Sejak penerbitan SBSN ritel diterbitkan pertama kali secara online pada 2018 dengan total investor baru sebanyak 415 ribu, meski porsinya turun dari 54% dari 2019 ke 22,5% pada periode 2025-2026.
Profil investor yang bertumbuh berasal dari Gen Z dan Milenial yang porsinya naik dari 46,7% pada 2028 menjadi 56,9% pada 2026. Sementara itu, Baby Boomer turun dari 22,2% ke 12%.
Selama periode penerbitan sekitar 75% nominal tenor SBSN yang diterbitkan pemerintah merupakan tenor 2 tahun dan 3 tahun dengan rata-rata tertimbang 3 tahun.
Adapun tenor yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat untuk SBSN terjadwal pada 2027 dengan nilai Rp 76,2 triliun, 2028 senilai Rp 70,7 triliun, dan 2029 Rp 53,6 triliun.
(arj/arj)
[Gambas:Video CNBC]

9 hours ago
9















































