Jakarta, CNBC Indonesia - Ledakan penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak hanya menguntungkan perusahaan teknologi. Industri manufaktur Amerika Serikat (AS) ikut kecipratan cuan karena pembangunan pusat data (data center) membutuhkan berbagai perangkat dan mesin dalam jumlah besar.
Salah satu perusahaan yang merasakan dampaknya adalah Generac, produsen generator asal Waukesha, Wisconsin. Perusahaan ini menggelontorkan US$250 juta atau sekitar Rp4,4 triliun hingga akhir 2027 untuk memperkuat sejumlah pabriknya.
Generac akan menggunakan investasi tersebut untuk memproduksi generator berkapasitas lebih besar yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan data center. Permintaan terhadap produk tersebut bahkan sudah melonjak tajam.
Saat ini, backlog (antrean) pesanan generator untuk data center milik Generac telah mencapai US$1,6 miliar (Rp28 triliun). Perusahaan juga berencana merekrut sekitar 1.000 pekerja baru, atau meningkatkan jumlah tenaga kerjanya sekitar 10%.
"Pertanyaan yang ada di benak semua orang adalah berapa lama pembangunan ini akan berlangsung," kata CEO Generac, Aaron Jagdfeld, dikutip dari Reuters, Kamis (20/8/2026).
Meledaknya pembangunan data center juga mengalir ke berbagai sektor manufaktur lainnya. Produsen sistem pendingin, transformator listrik, hingga mesin konstruksi ikut menikmati lonjakan permintaan.
Dampaknya bahkan merambat ke rantai pasok. Perusahaan yang memproduksi kabel, pipa, semen, hingga dinding logam prefabrikasi berukuran besar untuk bangunan data center ikut mendapatkan tambahan pesanan.
Timken, produsen bantalan baja berteknologi tinggi asal Ohio, juga melihat peningkatan permintaan. CEO Timken, Lucian Boldea, mengatakan pembangunan data center menambah sumber pertumbuhan baru di luar permintaan dari sektor pertahanan dan kedirgantaraan.
"Data center membutuhkan bangunan besar, jalan, turbin gas, semua itu membutuhkan sejumlah produk kami," kata Boldea.
Manufaktur AS Mulai Bangkit
Ledakan pembangunan data center turut membantu mengangkat sektor manufaktur AS secara lebih luas.
Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan perusahaan manufaktur menambah 5.000 pekerjaan pada Juli. Dengan tambahan tersebut, sektor manufaktur telah menciptakan 31.000 lapangan kerja sepanjang tahun ini.
Kondisi tersebut berbalik dari tahun lalu ketika industri manufaktur memangkas sekitar 113.000 pekerjaan.
Aktivitas manufaktur AS juga menunjukkan perbaikan. Institute for Supply Management (ISM) mencatat aktivitas manufaktur pada Juli mencapai level tertinggi dalam lebih dari empat tahun.
Federal Reserve (The Fed) juga melaporkan indeks produksi manufaktur meningkat pada Juli dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari empat tahun.
Namun, pemulihan tersebut belum merata. Survei ISM menunjukkan sentimen banyak produsen masih suram. Artinya, hanya sektor-sektor tertentu yang menikmati ledakan permintaan, sementara bagian lain dari industri manufaktur masih menghadapi tekanan.
Kondisi itu bahkan terlihat di dalam Generac sendiri. Permintaan generator untuk rumah tangga masih lemah karena pasar perumahan AS mengalami tekanan.
Harga pangan dan bahan bakar yang tinggi juga membuat konsumen AS menahan pembelian barang bernilai besar, termasuk generator cadangan untuk rumah.
Jagdfeld menilai kondisi tersebut bisa membentuk siklus positif. Semakin banyak perusahaan menggunakan AI, semakin besar kebutuhan mereka terhadap data center. Pada akhirnya, peningkatan pembangunan data center akan kembali meningkatkan permintaan terhadap peralatan dan mesin industri.
Khawatir Gelembung AI Pecah
Namun demikian, di balik lonjakan permintaan tersebut, industri manufaktur juga mulai menghadapi pertanyaan besar: apakah boom data center akan bertahan lama atau justru berubah menjadi sebuah bubble (gelembung)?
Wood Mackenzie memperkirakan pasar peralatan listrik yang berkaitan dengan data center di AS akan melonjak dua kali lipat, dari US$33 miliar (Rp585 triliun) pada 2025 menjadi US$66 miliar (Rp1.171 triliun) pada 2030.
"Data center pada dasarnya berbeda dari beban listrik apa pun yang pernah didukung industri peralatan listrik sebelumnya," kata analis senior Wood Mackenzie, Ben Boucher.
Sejumlah perusahaan bahkan menahan ekspansi meski produk mereka sedang banyak diburu. Mereka khawatir investasi kapasitas yang terlalu besar akan menjadi beban jika pembangunan data center tiba-tiba melambat.
Boucher mengatakan sejumlah produsen bahkan mulai kembali kepada pelanggan yang telah membuat pesanan setahun lalu dan menaikkan harga hingga 20% agar dapat mempertahankan jadwal pengiriman.
Siemens menjadi salah satu perusahaan yang memilih memperluas kapasitas. Perusahaan asal Jerman itu mengumumkan investasi lebih dari US$200 juta (Rp3,5 triliun) untuk membangun dua pabrik baru di Georgia dan Texas.
Siemens juga berusaha mengurangi risiko dengan mengamankan kontrak jangka panjang bersama pelanggan. Strategi tersebut membantu perusahaan berbagi risiko apabila target permintaan tidak tercapai.
"Jika target tidak tercapai, ada penalti yang sangat besar, bernilai jutaan dolar, yang membantu kami berbagi risiko," kata Presiden Siemens Electrical Products Amerika Utara, Barry Powell.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

7 hours ago
8

















































