LPS Targetkan Masyarakat Tanpa Rekening Bank Turun Jadi 13 Juta Orang

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyoroti masih tingginya jumlah penduduk yang belum memiliki akses terhadap layanan perbankan (unbanked) di Indonesia. Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu mengatakan, masyarakat yang tak memiliki akses jasa keuangan bank (unbanked) tahun ini turun jadi 13 juta orang.

Berdasarkan data LPS, jumlah penduduk unbanked terus mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir, dari 59,8 juta orang pada 2023 menjadi 53,2 juta orang pada 2024 dan kembali turun menjadi 49,7 juta orang pada 2025.

Penurunan terbesar terjadi pada kelompok usia produktif 15-69 tahun, yang jumlahnya menyusut dari 23,5 juta orang pada 2023 menjadi 18,2 juta orang pada 2024, lalu turun lagi menjadi 15,3 juta orang pada 2025.

"Setiap tahun kami punya target untuk mengurangi yang namanya unbanked, Pak penduduk yang tidak memiliki rekening, Pak. Sekarang berapa, 15 juta yang usia produktif, Pak. Setiap tahun target kami adalah mengurangi 2 juta unbanked, Pak. Jadi tahun ini nanti akan kita ukur akhir tahun harusnya turun menjadi 13 juta yang tidak punya (rekening)," ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI di gedung DPR RI Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Target penurunan masyarakat unbank tersebut sesuai dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta agar seluruh masyarakat Indonesia dapat terakses jasa keuangan bank. "Nah, Bapak Presiden pernah memberikan arahan pada kami dalam waktu 3 tahun harus semua penduduk Indonesia sudah mulai memiliki rekening, Pak. Jadi kami targetnya itu," tegasnya.

Anggito memaparkan, salah satu upaya menurunkan masyarakat unbank dengan menyelenggarakan festival keuangan atau Financial Festival di Yogyakarta yang diselenggarakan beberapa waktu lalu. Acara tersebut digelar bersama institusi dan lembaga keuangan lainnya yang memiliki tujuan yang sama.

Berdasarkan data yang dipaparkan oleh LPS, kondisi sektor keuangan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 2025 menunjukkan sejumlah dinamika. Proporsi penabung dengan saldo di bawah Rp100 juta tercatat menurun 2%, sedangkan jumlah penabung dengan saldo di atas Rp5 miliar meningkat 3%.

Dari sisi intermediasi, pertumbuhan kredit masih relatif rendah di level 6,14% dengan rasio loan to deposit ratio (LDR) sebesar 65%, mengindikasikan masih tingginya likuiditas perbankan.

DIY juga mencatat surplus dana perbankan sebesar Rp31,4 triliun, namun sekitar 20% rekening yang ada masih berstatus tidak aktif. Selain itu, sekitar 16% penduduk usia produktif 15-70 tahun di daerah tersebut masih belum memiliki akses terhadap layanan perbankan.

Dalam acara perhelatan tersebut, pengunjung yang datang mencapai lebih dari 11 ribu orang. Pengunjung yang datang didominasi oleh pelajar SMA dan mahasiswa. Hal itu dinilai selaras dengan tujuan LPS yang menyasar masyarakat usia produktif.

Dalam kesempatan yang sama, Pimpinan Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun mengapresiasi penyelenggaraan Financial Festival 2026. Ia memandang, Jogja merupakan kota yang sangat inklusif termasuk untuk melakukan edukasi pendidikan kepada masyarakat di sektor keuangan.

"Kalau diperbolehkan memberikan pandangan pribadi saya terhadap Jogja Financial Festival saya memberikan apresiasi, Pak. Saya memberikan apresiasi ini pandangan saya terima kasih karena saya melihat Jogja ini adalah kota yang sangat inklusif," ungkapnya.

Sebagai informasi, LPS mencatat, secara wilayah, persentase penduduk unbanked tertinggi berada di Kalimantan sebesar 24,67% dari total penduduk, disusul wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) sebesar 22,83%.

Sementara itu, Jawa mencatat persentase penduduk unbanked sebesar 19,21%, Sumatera 18,27%, dan Bali-Nusa Tenggara (Balinusra) menjadi wilayah dengan tingkat unbanked terendah yakni 13,27%.

Di sisi lain, jumlah rekening tidak aktif secara nasional justru terus meningkat. Pada 2023, jumlah rekening tidak aktif tercatat sebanyak 144,09 juta rekening, kemudian naik menjadi 158,77 juta rekening pada 2024 dan kembali meningkat menjadi 173,42 juta rekening pada 2025.

Pertumbuhan tahunan (year-on-year/YoY) rekening tidak aktif mencapai 9,52% pada 2023, meningkat menjadi 10,18% pada 2024, sebelum melambat menjadi 9,23% pada 2025. LPS mendefinisikan rekening tidak aktif sebagai rekening simpanan bank umum non-digital dengan saldo maksimal Rp50.000 dan tidak mengalami perubahan nilai sepanjang tahun.

(fsd/fsd)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |