Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
24 June 2026 16:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan terhadap rupiah kembali muncul. Bukan hanya terhadap dolar Amerika Serikat (AS), mata uang Garuda juga melemah terhadap sejumlah mata uang negara tetangga.
Melansir data Refinitiv, rupiah melemah 0,64% ke level Rp17.950/US$ pada hari ini ini, Rabu (24/6/2026). Posisi ini membuat rupiah kembali mendekati level psikologis Rp18.000/US$, level yang belakangan menjadi perhatian pasar.
Pelemahan rupiah kali ini tidak lepas dari kembali menguatnya dolar AS di pasar global. Penguatan greenback terlihat dari pergerakan indeks dolar AS (DXY), yakni indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia.
Pada penutupan perdagangan Selasa (23/6/2026), DXY menguat ke level 101,408. Posisi tersebut sekaligus menjadi level tertinggi indeks dolar AS dalam 13 bulan terakhir.
Kuatnya dolar AS membuat mata uang negara berkembang kembali berada di bawah tekanan. Namun, tekanan terhadap rupiah tidak hanya terlihat saat berhadapan dengan dolar AS. Rupiah juga melemah terhadap mata uang sejumlah negara tetangga, mulai dari ringgit Malaysia, dolar Singapura, hingga baht Thailand.
Rupiah Keok Lawan Ringgit, Dolar Singapura, dan Baht
Pelemahan paling dalam terjadi terhadap ringgit Malaysia. Merujuk data Refinitiv, rupiah melemah 0,75% terhadap ringgit dan berada di level Rp4.330/MYR.
Tekanan juga terlihat terhadap dolar Singapura. Rupiah terkoreksi 0,56% ke level Rp13.827/SGD. Posisi ini membuat rupiah semakin dekat dengan area psikologis Rp14.000/SGD.
Sementara itu, terhadap baht Thailand, rupiah juga masih bergerak melemah meski tipis. Mata uang Garuda terkoreksi namun hanya tipis 0,03% ke level Rp537,05/THB.
Pelemahan terhadap tiga mata uang negara tetangga ini menunjukkan bahwa tekanan rupiah tidak hanya datang dari faktor eksternal berupa penguatan dolar AS. Di kawasan, rupiah juga masih kesulitan mengimbangi pergerakan sejumlah mata uang regional.
Ringgit hingga Dolar Singapura Lebih Tahan Tekanan
Pergerakan rupiah terhadap mata uang negara tetangga menjadi penting karena menggambarkan posisi mata uang Garuda di kawasan.
Saat dolar AS menguat, hampir semua mata uang Asia biasanya ikut tertekan. Namun, besar kecilnya tekanan bisa berbeda-beda, tergantung kondisi fundamental ekonomi, kepercayaan investor, dan arus modal di masing-masing negara.
Ringgit Malaysia, misalnya, cenderung mendapat dukungan dari kinerja perdagangan dan prospek ekonomi domestik. Ketika ekspor masih berjalan cukup solid dan neraca perdagangan tetap surplus, pasokan devisa ke dalam negeri menjadi lebih terjaga. Kondisi ini dapat membantu menahan tekanan terhadap ringgit.
Dolar Singapura juga selama ini dikenal sebagai salah satu mata uang paling kuat di kawasan. Stabilitas ekonomi, kredibilitas kebijakan moneter, serta posisi Singapura sebagai pusat keuangan regional membuat dolar Singapura kerap menjadi mata uang yang relatif lebih tahan saat pasar global bergejolak.
Pasar Masih Cermati Arah Rupiah
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya permintaan terhadap dolar AS. Investor global kembali memburu aset berbasis dolar seiring ekspektasi suku bunga tinggi di AS dan meningkatnya sikap hati-hati di pasar keuangan.
Bagi rupiah, kondisi ini menjadi tantangan ganda. Dari luar negeri, dolar AS sedang berada dalam tren menguat. Dari dalam negeri, pasar masih mencermati arah kebijakan moneter, kondisi fiskal, hingga kemampuan Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas nilai tukar.
Selama dolar AS masih perkasa dan sentimen terhadap aset negara berkembang belum pulih, rupiah berpotensi tetap berada dalam tekanan. Tidak hanya terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap sejumlah mata uang utama di kawasan Asia Tenggara.
CNCB INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

1 hour ago
3

















































