Luhut Wanti-Wanti Defisit APBN Bisa Tembus Rp200 T Akibat Harga Minyak

6 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengingatkan konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah memberikan tekanan terhadap keuangan negara. Dia menilai dari lonjakan harga minyak dunia berisiko membuat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melebar.

Luhut mengatakan pihaknya terus memantau konflik yang terjadi di Timur Tengah, khususnya perihal apa yang terjadi di Selat Hormuz dan berapa lama situasi tegang ini akan berlangsung, mengingat ketidakpastian sangat tinggi. Untuk itu, dia terus menjaga komunikasi perwakilan dari negara Timur Tengah dan beberapa negara kawasan lainnya.

"Hari ini mereka bilang peluangnya 50:50, besok mereka katakan hal lain. Jadi benar-benar penuh ketidakpastian sementara kita sangat bergantung pada selat itu," kata Luhut, saat Seminar ASEAN Regional Economic Outlook and Fiscal Policy, di Kantor DEN, Senin (25/5/2026).

Dia pun menyoroti penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak global scara drastis, karena 20% pasokan minyak mentah dunia melalui jalur vital ini. Hal ini juga memicu inflasi tinggi di beberapa negara.

Menurut Luhut, dari kondisi itu juga berdampak pada ekonomi Indonesia. melihat rata-rata harga minyak mentah dunia yang sudah mencapai US$ 90 per barel, sementara dari asumsi APBN 2025 yang dihitung rata-rata US$ 70 per barel.

"Maka ada selisih US$ 20 (per barel), artinya kita berbicara potensi defisit sekitar US$ 150 triliun sampai Rp 200 triliun, hanya dari kenaikan harga minyak," kata Luhut.

Luhut bahkan memprediksi dampak kenaikan harga minyak terhadap ekonomi Indonesia akan mulai terasa pada bulan Juli mendatang.

"Efek rambatan dari kenaikan harga minyak ini menurut saya akan mulai terasa pada Juli mendatang. Jadi kita harus berhati-hati dan mencermati isu ini secara serius," jelasnya.

Meski demikian dia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup baik di kawasan ASEAN maupun global. Dengan tingkat inflasi domestik dikisaran 2,4% dengan pertumbuhan ekonomi 5,61% di kuartal I-2026.

Lebih lanjut, dia juga menunjukkan dampak perang di Timur Tengah juga mempengaruhi rantai pasok penting komoditas sulfur dan nafta. Padahal dua komoditas ini penting bagi hilirisasi Indonesia khususnya pengolahan nikel HPAL.

"Jika HPAL tidak berjalan, ekspor kita akan turun. Ini akan berdampak terhadap ekonomi kita. Jadi kompleksitas persoalan ekonomi dan politik itu nyata adanya. Kita harus mencermati dengan hati-hati," tuturnya.

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |