Memahami Kolaborasi Mossad-CIA, Operasi Senyap Jatuhkan Para Pemimpin

7 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangkaian operasi pembunuhan yang menargetkan tokoh penting Iran dan sekutunya dalam beberapa tahun terakhir disebut tidak hanya bergantung pada kemampuan intelijen Israel. Sejumlah analis menilai peran intelijen Amerika Serikat (AS) menjadi faktor kunci di balik keberhasilan operasi tersebut.

Serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada Februari 2026 kerap digambarkan sebagai keberhasilan badan intelijen Israel, Mossad. Namun sejumlah pengamat militer menilai operasi tersebut sebenarnya sangat bergantung pada dukungan intelijen dan teknologi Amerika Serikat melalui Central Intelligence Agency (CIA).

Para analis dari International Institute for Strategic Studies (IISS) menyebut operasi tersebut mengandalkan bank target serta pengawasan elektronik waktu nyata yang disediakan oleh CIA. Intelijen Amerika dilaporkan memantau pergerakan Khamenei selama berbulan-bulan dan memastikan keberadaannya di kompleks kepemimpinan Teheran pada hari serangan.

Mossad Israel. (Dok. Mossad)Mossad Israel. (Dok. Mossad)

Informasi itu kemudian memicu keputusan bersama AS-Israel untuk mengubah waktu serangan dari malam menjadi siang.

Selain dukungan intelijen, operasi tersebut juga disebut melibatkan teknologi militer Amerika, termasuk drone pengintai dan sistem persenjataan presisi untuk membantu penargetan sasaran strategis.

Pola kerja sama tersebut sebelumnya juga terlihat dalam operasi yang menewaskan pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, pada September 2024. Dalam operasi itu, Angkatan Udara Israel dilaporkan menggunakan puluhan bom penghancur bunker buatan AS untuk menghancurkan pusat komando bawah tanah.

Analis politik Timur Tengah yang berbasis di Istanbul, Mamoun Abu Amer, mengatakan operasi semacam itu merupakan hasil kolaborasi beberapa badan intelijen Barat.

"Ini bukan hanya upaya intelijen Israel semata, tetapi juga kolaborasi dengan badan internasional, termasuk CIA dan badan intelijen luar negeri Inggris, MI6," ujar Abu Amer, seperti dikutip Al Jazeera.

Menurutnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memanfaatkan keberhasilan operasi tersebut untuk kepentingan politik domestik.

"Netanyahu memanfaatkan ini untuk menampilkan kemenangan politik pribadi kepada publiknya, bahwa ia berhasil menyeret presiden AS ke dalam konfrontasi militer langsung dengan Iran," kata Abu Amer.

Infiltrasi dan Celah Keamanan

Selain dukungan intelijen Barat, keberhasilan sejumlah operasi Israel juga dinilai memanfaatkan kelemahan internal aparat keamanan di negara target.

Pembunuhan pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh, pada Juli 2024 di sebuah wisma tamu milik Garda Revolusi Iran di Teheran misalnya disebut terjadi akibat infiltrasi agen rahasia. Perangkat peledak diduga telah diselundupkan ke ruangan tersebut beberapa bulan sebelum kedatangannya, yang menunjukkan adanya kolaborator lokal.

Menurut Abu Amer, Mossad juga kerap menggunakan proksi asing atau individu berkewarganegaraan ganda untuk menyusup ke negara target tanpa menimbulkan kecurigaan.

"Mossad jarang hanya mengandalkan agennya sendiri. Mereka sering menggunakan proksi asing untuk menyusup ke negara-negara ini," ujarnya.

Selain infiltrasi manusia, intelijen Israel juga disebut meretas kamera lalu lintas di Teheran untuk memetakan pola pergerakan pengawal Khamenei. Menara telepon seluler di sekitar lokasi bahkan dilaporkan sempat diganggu sesaat sebelum serangan untuk mencegah pengawal menerima peringatan.

Risiko Konflik Berkepanjangan

Meski operasi "pemenggalan kepemimpinan" tersebut dinilai berhasil secara taktis, sejumlah analis memperingatkan strategi ini belum tentu memberikan stabilitas jangka panjang di kawasan.

Abu Amer mengatakan serangan terhadap Iran yang diklaim akan meningkatkan keamanan Israel justru berpotensi memperluas konflik di Timur Tengah.

"Netanyahu mengeklaim serangan terhadap Iran akan mengamankan Israel untuk generasi mendatang. Namun beberapa bulan kemudian kawasan kembali dilanda perang," ujarnya.

Ia menilai pendekatan yang bertumpu pada pembunuhan target bernilai tinggi hanya memberi keuntungan sementara.

"Mengandalkan pembunuhan intelijen tidak mengubah realitas strategis yang lebih luas; itu hanya memberi jeda sementara sambil menyeret Israel ke konflik yang tidak dapat diatasi sendiri," kata Abu Amer.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |