Komisi II DPRD Medan RDP bersama Dinas Perpustakaan, Selasa (7/4). Waspada.id/ist
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
MEDAN (Waspada.id): Komisi II DPRD Kota Medan menyampaikan keprihatinan atas masih minimnya alokasi anggaran untuk Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu kendala dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat.
Dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Dinas Perpustakaan, Selasa (7/4), terungkap bahwa anggaran yang tersedia saat ini masih sangat terbatas. Bahkan, realisasi anggaran dinilai belum mampu mengakomodasi kebutuhan dasar, baik untuk pengembangan fasilitas maupun pelaksanaan program literasi.
Ketua Komisi II DPRD Medan, Kasman Bin Marasakti Lubis, menegaskan bahwa kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Menurutnya, perpustakaan memiliki peran strategis dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat.
“Kalau kita lihat dari anggarannya, memang masih sangat kecil. Ini cukup miris. Padahal perpustakaan adalah jendela dunia yang sangat penting untuk meningkatkan minat baca masyarakat,” ujarnya turut didampingi Wakil Ketua Komisi II, Modesta Marpaung, serta anggota Tia Ayu Anggraini.
Kasman menambahkan, Komisi II DPRD Medan akan mendorong penambahan anggaran pada pembahasan berikutnya, seiring dengan fungsi pengawasan dan penganggaran yang dimiliki legislatif.
Selain persoalan anggaran, Komisi II juga memberi perhatian serius terhadap kondisi fasilitas perpustakaan yang dinilai belum sepenuhnya nyaman bagi pengunjung.
Menurutnya, kenyamanan ruang baca menjadi faktor penting dalam menarik minat masyarakat, khususnya generasi muda.
“Tempat baca itu harus dibuat nyaman. Tidak harus mewah, tetapi minimal layak dan menarik agar masyarakat betah membaca,” tambahnya.
Kasman juga mengungkapkan bahwa ketersediaan buku, terutama untuk anak-anak dan remaja, masih sangat terbatas. Buku-buku seperti komik edukatif, animasi, serta bacaan ringan yang mendidik dinilai masih minim jumlahnya, padahal jenis tersebut efektif dalam menumbuhkan minat baca sejak dini.
“Harapan kita, perpustakaan di Kota Medan ke depan bisa menjadi tempat yang nyaman, lengkap, dan benar-benar diminati masyarakat,” kata Kasman.
Sementara itu, Plt. Kaban Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan, Laksamana Putra Siregar, mengakui bahwa keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama dalam menjalankan berbagai program yang telah direncanakan.
“Anggaran yang tersedia saat ini memang masih sangat terbatas, sehingga belum semua program dapat berjalan maksimal,” ujarnya.
Meski demikian, dirinya mengapresiasi perhatian dari DPRD dan Pemerintah Kota Medan terhadap pengembangan perpustakaan dan peningkatan minat baca masyarakat.
“Kami bersyukur Wali Kota dan Wakil Wali Kota memiliki perhatian besar terhadap perpustakaan dan minat baca. Ini menjadi modal penting untuk pengembangan ke depan,” katanya.
Langkah selanjutnya, pihaknya berencana menghimpun buku-buku layak baca dari berbagai pihak untuk kemudian didistribusikan ke perpustakaan dan pojok baca di sejumlah wilayah.
Selain itu, pengembangan pojok baca di tingkat kecamatan juga akan terus didorong, meskipun diakui belum seluruh wilayah memiliki fasilitas tersebut secara memadai.
“Kita akan koordinasikan agar setiap kecamatan memiliki pojok baca yang layak, sehingga akses masyarakat terhadap buku semakin mudah,” jelasnya.
Di era digital, pemanfaatan teknologi juga dinilai penting untuk meningkatkan akses literasi, seperti melalui penyediaan buku digital yang dapat diakses secara gratis oleh masyarakat. “Namun demikian, keberadaan perpustakaan fisik tetap memiliki peran penting sebagai ruang interaksi, edukasi, dan pengembangan komunitas literasi”, pungkasnya. (id144)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.


















































