Mobil Listrik Digenjot Sampai Bebas Pajak, Listriknya Tidak Cukup

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Nigeria resmi membebaskan pajak untuk hampir 4.000 unit kendaraan listrik (electric vehicle/EV) sepanjang paruh pertama tahun ini. Langkah agresif ini diambil demi menggenjot adopsi armada ramah lingkungan.

Pajak untuk EV yang ditetapkan sebesar 5% pada 2024, kini menjadi 0%. Berdasarkan data pemerintah yang dirilis Reuters, pembebasan pajak ini merupakan bagian dari program anyar pemerintah Nigeria untuk memacu transisi transportasi hijau melalui insentif fiskal dan lokalisasi perakitan.

Tak tanggung-tanggung, lewat Rencana Transisi Energi 2022, negara berpenduduk terpadat di Afrika ini menargetkan porsi EV mencapai 60% dari total kendaraan di jalan raya pada 2050 mendatang.

Target tersebut tergolong sangat ambisius. Pasalnya, populasi EV saat ini diperkirakan masih di bawah 1% atau hanya berkisar puluhan ribu unit dari total kendaraan yang beroperasi.

Sektor Listrik Empot-Empotan, EV Tetap Digeber

Kebijakan pembebasan pajak EV disambut positif masyarakat, terlebih lonjakan harga BBM pasca-pencabutan subsidi bensin pada 2023 membuat pamor motor dan mobil listrik kian melejit.

Kendati demikian, ada tantangan besar di depan mata. Nigeria sedang menghadapi krisis pasokan listrik. Dengan kapasitas jaringan listrik yang hanya 4.000 megawatt untuk melayani lebih dari 200 juta penduduk, tingkat ketersediaan listrik per kapita Nigeria menjadi salah satu yang terendah di antara negara ekonomi utama dunia.

Dampaknya, pelaku usaha hingga stasiun pengisian daya (charging station) terpaksa bergantung pada genset diesel agar operasional tetap berjalan.

"Jika kita harus menunggu pasokan listrik sempurna sebelum mengadopsi EV, kita akan tertinggal dari negara lain," ujar Eksekutif Saglev, Bolanle Boboye, dikutip dari Reuters, Kamis (13/8/2026).

"Bahkan jika diisi dengan listrik dari genset diesel, EV tetap berkontribusi mengurangi total emisi," ia menambahkan.

Hingga akhir 2025, infrastruktur pengisian daya umum di Nigeria baru mencakup 48 stasiun, mayoritas terkonsentrasi di Lagos dan Abuja. Angka ini kalah jauh dibanding Afrika Selatan yang sudah memiliki lebih dari 500 titik SPKLU.

Pabrikan China Lakukan Penyesuaian, Motor Listrik Jadi Primadona

Menghadapi persoalan keandalan listrik, preferensi konsumen pun bergeser. Mobil listrik berteknologi Extended-Range EV (EREV) yang dilengkapi mesin pembakaran kecil sebagai penambah jarak tempuh, mencatatkan lonjakan penjualan hingga dua kali lipat tahun ini.

Pabrikan asal China seperti BYD dan Geely juga gencar memboyong model hybrid yang dinilai lebih adaptif dengan kondisi pasokan listrik setempat.

Di sisi lain, kendaraan roda dua dan roda tiga diprediksi menjadi penggerak utama elektrifikasi dalam jangka pendek. Dengan populasi lebih dari 15 juta unit motor di Nigeria, efisiensi biaya menjadi daya tarik utama bagi para pengendara.

Startup mobilitas seperti MAX dan Spiro merespons peluang ini dengan membangun jaringan penukaran baterai (battery swapping). Skema ini memungkinkan pengemudi menukar baterai dalam hitungan menit tanpa perlu mengantre pengisian daya sekaligus menekan ketergantungan pada jaringan listrik negara.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |