Jakarta, CNBC Indonesia - Timnas Iran melontarkan kritik keras terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026 setelah mengaku menghadapi berbagai hambatan perjalanan dan persoalan visa selama mengikuti turnamen yang digelar di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko.
Kapten Iran, Mehdi Taremi, menyebut timnya harus menjalani kondisi yang jauh dari ideal. Menurut dia, skuad Iran tidak diizinkan tiba lebih awal di lokasi pertandingan maupun menginap setelah laga untuk memulihkan kondisi fisik.
"Semuanya seperti bencana bagi kami," ujar Taremi, dikutip dari laporan media internasional, Rabu (17/6/2026).
Keluhan tersebut muncul setelah Iran bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru di Los Angeles. Hasil pertandingan itu justru dibayangi persoalan logistik yang disebut menguras tenaga para pemain. Iran diketahui bermarkas di Tijuana, Meksiko, setelah membatalkan rencana pemusatan latihan di Arizona, AS, akibat kekhawatiran terkait visa dan faktor keamanan.
Akibatnya, para pemain harus menempuh perjalanan sekitar lima jam dari Tijuana menuju Los Angeles, melewati pemeriksaan imigrasi yang panjang sebelum menjalani sesi latihan dan pertandingan. Setelah laga usai, rombongan tim juga disebut harus langsung kembali tanpa waktu pemulihan yang memadai.
Situasi semakin rumit setelah visa pemain sayap Mehdi Torabi dilaporkan kedaluwarsa usai pertandingan karena hanya memperoleh dokumen masuk satu kali selama turnamen berlangsung.
Pelatih kepala Amir Ghalenoei bahkan menyebut Iran sebagai tim "yang paling tertindas" di ajang Piala Dunia 2026. Ia menilai berbagai kendala administratif dan perjalanan telah membuat timnya berada dalam posisi yang tidak setara dibanding peserta lainnya.
Sebelumnya, pemerintah Iran juga sempat memprotes keputusan penyelenggara yang menarik alokasi tiket resmi untuk suporter Iran beberapa hari sebelum turnamen dimulai. Akibatnya, federasi kesulitan menyediakan kursi bagi para pendukung yang telah merencanakan perjalanan ke lokasi pertandingan.
Selain itu, sejumlah staf pendukung dan perwakilan media asal Iran dilaporkan gagal memperoleh visa masuk ke Amerika Serikat. Persoalan tersebut terjadi di tengah proses normalisasi hubungan antara Washington dan Teheran yang masih menyisakan ketidakpastian, termasuk terkait partisipasi Iran dalam turnamen.
Iran dijadwalkan menghadapi Belgia di Los Angeles pada 21 Juni sebelum bertemu Mesir di Seattle pada 26 Juni.
Kontroversi terkait Iran menambah daftar panjang sorotan terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Seorang wasit asal Somalia dilaporkan ditolak masuk ke Amerika Serikat meski telah memiliki dokumen yang diperlukan. Beberapa pemain, staf, dan suporter dari sejumlah negara lain juga disebut menghadapi pemeriksaan ketat, penundaan penerbitan visa, hingga penolakan masuk.
Tim nasional Uruguay bahkan dikabarkan menjalani pemeriksaan intensif menggunakan anjing pelacak narkoba, detektor logam, dan inspeksi keamanan saat tiba di Amerika Serikat. Kondisi tersebut memicu kritik di media sosial yang menilai peserta Piala Dunia diperlakukan layaknya tersangka kriminal, bukan atlet internasional.
Di luar isu imigrasi, FIFA juga menghadapi kritik terkait tingginya harga tiket pertandingan, mahalnya harga makanan dan minuman di stadion, serta kebijakan jeda minum wajib yang dinilai sebagian pihak lebih menguntungkan kepentingan komersial dibanding kebutuhan pemain.
(tfa/tfa)
Addsource on Google

4 hours ago
4

















































