Negara Teluk Uji Pengaruh China ke Iran, Sekuat Apa Xi Jinping?

6 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Negara-negara Arab Teluk mulai mengandalkan China untuk memanfaatkan pengaruh ekonominya terhadap Iran di tengah kembali memanasnya konflik di Timur Tengah. Langkah tersebut dilakukan dengan harapan Beijing dapat membantu meredakan ketegangan yang mengancam stabilitas kawasan.

Harapan itu tertuju pada kemampuan China untuk mendorong Teheran membuka kembali Selat Hormuz dan meredakan ancaman terhadap jalur pelayaran di Laut Merah. Upaya tersebut sekaligus menjadi ujian atas seberapa besar pengaruh diplomatik Beijing terhadap Iran di tengah konflik yang terus berkembang.

Kekhawatiran negara-negara Teluk meningkat setelah konflik yang dipicu serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu mengganggu ekspor energi dan meningkatkan risiko keamanan kawasan.

"China terus menjalin komunikasi erat dengan semua pihak serta secara konsisten berupaya menghentikan pertempuran dan mendorong perdamaian," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri China menanggapi situasi tersebut, seperti dikutip Reuters, Jumat (31/7/2026).

Menurut tiga sumber regional, negara-negara Teluk meminta Beijing turun tangan karena menilai perang telah memperlihatkan keterbatasan pengaruh AS dalam meredakan konflik. Menteri Luar Negeri China Wang Yi disebut telah melakukan serangkaian komunikasi dengan berbagai pihak, sementara utusan khusus Zhai Jun mengunjungi sejumlah ibu kota negara Teluk dan Iran guna mendorong tercapainya gencatan senjata.

Posisi China sebagai pembeli utama minyak dari kawasan Teluk sekaligus mitra dagang terbesar Iran membuat Beijing berada dalam posisi yang strategis, namun juga sensitif.

"Terdapat rasa saling menghormati yang tinggi antara negara-negara Teluk dan China, serta status mereka sebagai mitra dagang utama, sehingga setiap isu yang muncul dibahas dengan cara yang sangat tertutup dan hati-hati," ujar salah satu sumber dari kawasan Teluk.

Meski demikian, Iran tetap menegaskan akan mempertahankan kendali atas Selat Hormuz. Sementara itu, negara-negara Teluk berharap China dapat membujuk Teheran kembali ke meja perundingan.

"China kerap bergerak secara perlahan dan hati-hati," kata salah satu sumber, seraya menambahkan bahwa perang berkepanjangan juga berpotensi memberi keuntungan strategis bagi Beijing karena meningkatkan tekanan terhadap AS.

Hubungan ekonomi China dengan enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) terus berkembang sejak KTT China-GCC pada 2022. Namun, Beijing dinilai masih berhati-hati untuk secara terbuka menentang ancaman Iran terhadap jalur pelayaran internasional.

"China berupaya untuk lebih terlibat dan lebih banyak membantu. Namun, ternyata pengaruh China tidak sebesar yang kita kira; apakah karena kurangnya kemauan atau kapasitas masih menjadi perdebatan," ujar sumber lain dari kawasan Teluk.

Pakar China di Washington Institute, Henry Tugendhat, menilai prioritas utama Beijing adalah menjaga hubungan baik dengan seluruh negara di Timur Tengah, bukan mengambil risiko merusak hubungan diplomatik dengan memihak salah satu pihak. Menurutnya, ketika AS terlibat langsung dalam konflik, perhitungan strategis China meluas hingga mencakup persaingan global dengan Washington.

Di sisi lain, China juga terus memanfaatkan hubungan ekonominya untuk memperkuat peran diplomatik di Timur Tengah. Setelah berhasil memediasi normalisasi hubungan Arab Saudi dan Iran pada 2023, Beijing kini mendorong Pakistan menjadi penengah antara Washington dan Teheran.

China juga disebut melakukan komunikasi langsung dengan kelompok Houthi di Yaman agar kapal tanker yang terkait dengan kepentingannya dapat melintasi Laut Merah dengan aman.

Sejumlah analis juga menilai respons China terhadap konflik Iran mencerminkan strategi jangka panjangnya untuk menghindari keterlibatan militer di luar kawasan Asia Timur. Beijing menegaskan tidak siap menggunakan kekuatan militer untuk membuka kembali Selat Hormuz dan lebih memilih mendorong penyelesaian melalui diplomasi, dialog, serta menjaga keamanan jalur pelayaran internasional.

(tfa/luc) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |