Pasar Tekstil Legendaris di Tangerang Sepi, Pembeli Hilang Misterius

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Sentra penjualan aneka tekstil terbesar di kawasan Cipadu, Tangerang tampak tak seramai dahulu, di mana lokasi tersebut menjadi pusat tekstil di Tangerang.

Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia beberapa waktu lalu, tampak puluhan toko yang banyak ditemui bahan-bahan tekstil tersebut pun sepi dan hanya beberapa pelanggan yang datang. Pada lokasi ini, aneka bahan tekstil banyak ditemukan, baik untuk bahan pakaian, sprei, korden, dan lain-lainnya.

Tiap kawasan tentunya memiliki perbedaan jumlah kios. Ada yang memiliki belasan kios hingga puluhan kios. Pantauan di lokasi, kios-kios yang sudah tutup kebanyakan kios-kios yang menjual bahan untuk sprei, bed cover, dan alat tidur. Sedangkan untuk bahan pembuatan pakaian seperti seragam, kemeja, hingga batik masih banyak yang dibuka.

Mayoritas pedagang mengungkapkan kondisi sepinya Cipadu terjadi setelah adanya pandemi Covid-19 dan hingga kini kondisinya belum pulih seperti sebelum Covid-19.

Bahkan, jumlah toko semakin berkurang tiap tahunnya. Contohnya saja di pertokoan Pro Futsal, di mana sebelumnya ada sekitar 25 kios, kini hanya tinggal tujuh kios saja yang masih buka. Contoh lain di Pusat Grosir Aryamatex Kospin Jasa, di mana sebelumnya ada sekitar 20 kios, kini hanya tersisa enam kios yang masih buka.

Namun di kawasan pertokoan Mulia Jaya 1, dari sekitar 30 kios, semuanya masih dibuka, meski pelanggan yang datang sangat sedikit.

Pedagang pun menghabiskan waktu dengan aktivitas lain, seperti menyeruput kopi, merokok, atau sekadar berbincang dengan sesama pedagang, ketimbang menawarkan dagangan.

Helmi, salah satu pedagang tekstil di pertokoan Mulia Jaya 1 mengungkapkan kondisi Cipadu sudah berbeda jauh sejak Covid-19. Bahkan hingga kini, kondisinya makin memprihatinkan, meski beberapa pedagang juga sudah membuka penjualan online.

"Kalau bandingin dulu, sudah beda banget, sekarang sepi, seperti ini sejak Covid-19. Padahal kan Covid-19 sudah berlalu 5 tahun," kata Helmi saat ditemui CNBC Indonesia.

Meski dirinya sudah membuka penjualan online, tetapi tidak membuat tokonya menjadi ramai.

Kondisi kawasan Tekstil Cipadu, Tangerang yang semakin sepi ditinggal pelanggan, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)Foto: Kondisi kawasan Tekstil Cipadu, Tangerang yang semakin sepi ditinggal pelanggan, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
Kondisi kawasan Tekstil Cipadu, Tangerang yang semakin sepi ditinggal pelanggan, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

"Kami sudah buka penjualan online, tapi ya sama saja, enggak jauh beda sama offline," lanjutnya.

Di lapaknya, Helmi menjual berbagai jenis kain. Ia menyebut, kain dengan harga tertinggi merupakan jenis bodi halus yang dibanderol sekitar Rp 40.000 hingga Rp 60.000 per meter, bergantung kualitas. Sedangkan harga termurahnya yakni Rp 30.000 untuk jenis kain yang lebih kasar.

Bahkan karena sepinya pelanggan, Ia terpaksa menurunkan harga demi menarik pelanggan, di mana harganya ada yang mencapai Rp 15.000 per meter untuk kain kasar.

"Kami diskon jadi Rp 15.000 per meter untuk bahan kain yang bukan paling halus," ujarnya.

Sedangkan Kusuma, pedagang bahan kain di kawasan pertokoan Pro Futsal yang digunakan untuk sprei, bed cover, dan alat tidur lainnya mengaku kini hanya bisa menjual tiga rol bahan kain per harinya. Padahal sebelumnya saat masih ramai, Ia bisa menjual rol kain hingga belasan.

"Sepi sekarang, sejak Covid-19, dulu waktu ramai, kami bisa kewalahan, ada kali bisa 20 rol sehari, sekarang boro-boro, cuma 3 rol yang kejual, itupun kadang ada yang enggak kejual," kata Kusuma.

Kusuma menambahkan, di pertokoan tersebut dahulu banyak orang yang datang hingga lokasi tersebut tidak dapat menampung. Kini, hanya tersisa sedikit kios yang masih dibuka.

"Dulu mah ramai banget, itu parkiran, kalau sekarang isinya ya paling banyak 5 mobil, dulu bisa ada 20 mobil sepertinya," ungkapnya.

Sementara itu Raihan, pedagang tekstil di pertokoan Mulia Jaya 1 membenarkan pelanggan sepi. Namun pemesanan tetap berjalan meski tidak seramai dahulu. Ia mengungkapkan kini kebanyakan pemesan merupakan tukang jahit yang sudah mendapat pemesanan dari pelanggan, sehingga tukang jahit tersebut mencari bahannya di toko Raihan.

"Kalau dibilang sepi, betul, sudah enggak seperti dulu, tapi kalau sepi banget, sebenarnya tergantung ya, kalau mau lebaran, biasanya di sini masih ramai, cuma memang bukan ramai pelanggan datang langsung ke sini, tapi lewat tukang jahit," kata Raihan.

Meski begitu, Ia mengaku ada penurunan jumlah penjualan di hari-hari biasa.

"Ya kalau bukan mau lebaran, memang berasa sih, lumayan sepi, tapi kalau mau lebaran, lumayan," jelasnya.

Kawasan Cipadu di Tangerang, Banten, selama ini dikenal sebagai pusat perdagangan tekstil terbesar di kawasan tersebut. Pada masa jayanya, pasar ini menjadi tujuan utama warga Tangerang dan sekitarnya untuk membeli beragam jenis kain, mulai dari bahan pakaian, sprei, hingga korden.

Namun kini, denyut aktivitas di pasar tersebut kian melemah, ditandai dengan sepinya pengunjung.

(chd/wur)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |