Pemimpin Tertinggi Iran Tiru Cara Presiden RI, Hasilnya Tak Terduga

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei ternyata pernah menggunakan cara dari gagasan Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno. Cerita tersebut muncul dalam memoar yang menuturkan pengalaman hidupnya ketika dipenjara pada masa rezim monarki Iran.

Kisah itu tertulis dalam buku berjudul Cell No. 14 (2021). Dalam buku tersebut, Khamenei menceritakan masa-masa ketika dirinya ditahan pada 1970-an karena aktivitasnya menentang pemerintahan Shah Iran, Mohammad Reza Pahlavi.

Selama mendekam di penjara, Khamenei harus berbagi sel dengan beberapa tahanan lain. Salah satunya adalah seorang pemuda yang diketahui memiliki pandangan komunis dan bersikap sangat tertutup. Menurut Khamenei, pemuda itu jarang berbicara dan selalu menghindari pembicaraan tentang dirinya.

"Saya bertanya tentang dirinya, tetapi dia tidak pernah menjawab secara jelas dan lebih memilih berbicara tentang hal-hal sepele," kenang tokoh besar Iran itu.

Belakangan, Khamenei mengetahui bahwa pemuda tersebut merupakan seorang jurnalis yang memiliki hubungan dengan Partai Komunis Tudeh. Meski berada di sel yang sama, hubungan keduanya tidak terlalu dekat karena pemuda tersebut cenderung menyendiri dan jarang berinteraksi dengan para tahanan lain.

Khamenei juga melihat kondisi mental pemuda itu cukup tertekan setelah penangkapannya. Ia bahkan hampir tidak mau makan. Melihat keadaan tersebut, Khamenei berusaha membantu dengan memberinya makanan, bahkan sampai menyuapinya agar mau makan.

Belakangan, alasan di balik sikap dingin pemuda tersebut mulai terungkap. Ia ternyata khawatir Khamenei yang dikenal sebagai ulama sekaligus aktivis gerakan Islam akan mengajaknya bergabung dalam organisasi Muslim. Kekhawatiran itu muncul karena jika gerakan pembentukan republik Islam berhasil, nasibnya sebagai orang yang tidak percaya agama bisa menjadi berbeda.

"Biarkan saya jujur, saya tidak percaya pada agama apa pun," kata pemuda tersebut.

Mendengar pengakuan itu, Khamenei mencoba menenangkan kekhawatiran sang tahanan. Ia menegaskan perbedaan keyakinan seharusnya tidak menjadi penghalang bagi orang-orang yang menghadapi situasi sulit yang sama.

Dalam menjelaskan pandangannya, Khamenei bahkan menyinggung gagasan Soekarno mengenai persatuan di tengah perbedaan. Ia merujuk pada pidato presiden pertama Indonesia tersebut dalam Konferensi Asia-Afrika 1955 yang digelar di Bandung. Sebagai wawasan, konferensi itu dilakukan untuk melawan pengaruh negara Barat. 

"Tahukah kamu bahwa Presiden Sukarno dari Indonesia pernah mengatakan pada Konferensi Bandung bahwa dasar persatuan negara-negara berkembang bukanlah kesamaan agama, sejarah, atau budaya, melainkan 'kesatuan kebutuhan'," ungkapnya.

Melalui kutipan itu, Khamenei juga menunjukkan kekagumannya terhadap gagasan Soekarno mengenai persatuan lintas ideologi dan keyakinan untuk mencapai kepentingan bersama. Ia menilai pemikiran tersebut juga relevan dengan kondisi para tahanan yang berada di penjara saat itu.

"Persatuan seperti itulah yang menghubungkan kita sekarang. Masalah yang kita hadapi sama, dan nasib kita tidak pasti. Agama seharusnya tidak menjadi faktor pemisah di antara kita."

Menurut Khamenei, pemuda komunis itu tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu darinya. Sejak saat itu, sikapnya mulai berubah dan hubungan keduanya menjadi lebih akrab.

Beberapa tahun setelah peristiwa tersebut, perjuangan politik Khamenei akhirnya membuahkan hasil. Pada 1979, monarki Iran runtuh dalam Revolusi Iran 1979 dan negara itu kemudian berubah menjadi Republik Islam Iran. 

Sejarah mencatat, kekaguman Khamenei terhadap gagasan Soekarno soal persatuan benar-benar diterapkan, meskipun sistem negara berpusat pada ajaran keagamaan Islam Syiah. Selain itu, kekaguman itu juga tercermin dalam sikapnya yang anti-imperialisme. 

(mfa/mfa)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |