MEDAN (Waspada.id): Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara mencatat jumlah penduduk usia kerja pada November 2025 mencapai 11,697 juta orang, meningkat sekitar 44 ribu orang dibandingkan Agustus 2025. Penduduk usia kerja merupakan penduduk berumur 15 tahun ke atas yang menjadi potensi utama dalam pasar tenaga kerja.
Kepala BPS Provinsi Sumatera Utara, Asim Saputra menjelaskan, dari total penduduk usia kerja tersebut, sebanyak 8,416 juta orang merupakan angkatan kerja, sementara 3,281 juta orang lainnya termasuk bukan angkatan kerja.
“Komposisi angkatan kerja pada November 2025 terdiri dari 7,971 juta penduduk bekerja dan 445 ribu pengangguran,” ujar Asim dalam paparannya di Gedung BPS Sumut Jl. Asrama Medan, Kamis (5/2/2026).
Namun demikian, dibandingkan Agustus 2025, jumlah angkatan kerja mengalami penurunan sebanyak 8 ribu orang. Penurunan tersebut sejalan dengan berkurangnya jumlah penduduk bekerja sebesar 5 ribu orang, serta turunnya jumlah pengangguran sebanyak 3 ribu orang.
Seiring dengan itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada November 2025 tercatat 71,95 persen, atau turun 0,34 persen poin dibandingkan Agustus 2025. TPAK mencerminkan persentase penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi di suatu wilayah.
Berdasarkan jenis kelamin, TPAK laki-laki pada November 2025 sebesar 85,01 persen, lebih tinggi dibandingkan TPAK perempuan sebesar 58,96 persen. Dibandingkan Agustus 2025, TPAK laki-laki mengalami kenaikan 0,16 persen poin, sementara TPAK perempuan justru turun 0,84 persen poin.
Asim menjelaskan, struktur penduduk bekerja dapat dilihat dari karakteristik lapangan pekerjaan utama. Berdasarkan hasil Sakernas November 2025, tiga sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Sumatera Utara masih didominasi oleh Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 32,11 persen, diikuti Perdagangan Besar dan Eceran serta Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 19,91 persen, serta Industri Pengolahan sebesar 9,27 persen. Pola ini relatif sama dibandingkan Agustus 2025.
Jika ditinjau pergerakan sektoral, dari 17 kategori lapangan usaha, terdapat sembilan sektor yang mengalami peningkatan tenaga kerja, sementara delapan sektor lainnya mengalami penurunan. Peningkatan terbesar terjadi pada sektor Pendidikan (32 ribu orang), Aktivitas Keuangan dan Asuransi (27 ribu orang), serta Pertambangan dan Penggalian (20 ribu orang).
Sementara itu, sektor yang mengalami penurunan penyerapan tenaga kerja terbesar adalah Pertanian (34 ribu orang), Aktivitas Jasa Lainnya (27 ribu orang), serta Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang (24 ribu orang).
Dari sisi status pekerjaan, pada November 2025 penduduk bekerja paling banyak berstatus Buruh/Karyawan/Pegawai, yakni 37,72 persen, sedangkan yang paling sedikit adalah berusaha dibantu buruh tetap dan dibayar sebesar 4,32 persen. Dibandingkan Agustus 2025, peningkatan tertinggi terjadi pada status Pekerja Keluarga/Tidak Dibayar dan Pekerja Bebas di Non-Pertanian, masing-masing naik 1,00 persen poin dan 0,57 persen poin.
Sebaliknya, status Buruh/Karyawan/Pegawai mengalami penurunan terbesar, yakni 0,69 persen poin. Berdasarkan klasifikasi kegiatan, sebanyak 57,96 persen penduduk bekerja masih berada di sektor informal, atau sekitar 4,62 juta orang, sedangkan 42,04 persen lainnya bekerja di sektor formal. Persentase penduduk bekerja di sektor formal tercatat turun 0,70 persen poin dibandingkan Agustus 2025.
Dari sisi pendidikan, distribusi penduduk bekerja pada November 2025 didominasi oleh tamatan SMA sebesar 30,15 persen, sementara yang paling sedikit adalah tamatan Diploma I/II/III sebesar 2,24 persen. Pola ini relatif tidak berubah dibandingkan Agustus 2025.
Namun demikian, Asim mencatat penduduk bekerja berpendidikan universitas mengalami peningkatan persentase terbesar, yakni 0,72 persen poin. Sebaliknya, persentase penduduk bekerja dengan pendidikan SMA dan Sekolah Dasar masing-masing mengalami penurunan sebesar 0,03 persen poin dan 1,13 persen poin.
“Perkembangan ini menunjukkan adanya pergeseran kualitas tenaga kerja, meskipun tantangan pada sektor informal dan kesenjangan partisipasi angkatan kerja masih perlu mendapat perhatian,” pungkas Asim. (id09)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.



















































