Pertamina Lepas Anak Usaha Asuransi, Ini Respons Bos Tugure

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah rencana divestasi anak usaha asuransi PT Pertamina (Persero), manajemen PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) memastikan operasional perusahaan tetap berjalan normal.

Direktur Utama Tugure Teguh Budiman menegaskan, pihaknya menghormati setiap langkah strategis pemegang saham. Namun dari sisi bisnis, perusahaan tetap fokus pada penguatan fundamental, manajemen risiko, serta menjaga profitabilitas berkelanjutan.

"Secara operasional, bisnis reasuransi kami tetap berjalan normal. Kami tetap berperan menjaga stabilitas pasar reasuransi nasional dan meningkatkan kinerja finansial sesuai regulasi," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (12/2/2026).

Seiring wacana pengalihan kepemilikan PT Asuransi Tugu Pratama Tbk. (Tugu Insurance) ke holding asuransi BUMN Indonesia Financial Group (IFG) muncul pertanyaan apakah Tugure juga akan masuk dalam ekosistem yang sama.

Teguh menekankan, struktur kepemilikan sepenuhnya merupakan kewenangan pemegang saham. Bagi Tugure, yang terpenting adalah keberlanjutan bisnis, independensi underwriting, dan tata kelola sesuai regulasi.

"Kami siap beradaptasi dalam konfigurasi ekosistem apapun," tegasnya.

Lebih jauh, ia mengakui bahwa jika konsolidasi reasuransi BUMN benar-benar terealisasi, dampaknya akan sangat signifikan bagi model bisnis Tugure.

Saat ini Tugure dimiliki oleh Tugu Pratama Interindo (50,74%) dan Asriland (49,26%). Jika terjadi perubahan arsitektur kepemilikan dan konsolidasi, maka dampaknya bukan sekadar pergantian pemegang saham tetapi redesign struktur pasar reasuransi Indonesia.

Menurutnya, dampaknya akan menyentuh berbagai aspek mulai dari underwriting, retrocession, pricing power, hingga positioning mitra usaha. Meski demikian, ia menilai konsolidasi dapat menjadi dinamika positif sepanjang dilakukan secara cermat dan memperkuat fundamental keuangan industri.

Peluang Sinergi & Network Effect BUMN

Di sisi lain, jelas Teguh, konsolidasi juga membuka ruang sinergi yang lebih luas. Dia menyebut adanya potensi optimalisasi kapasitas domestik, integrasi program reasuransi, hingga penguatan risk analytics.

"Ruang sinerginya melebar cukup drastis terutama dari network effect BUMN. Namun akumulasi risiko dan kecukupan ekuitas harus dihitung dengan sangat hati-hati," katanya.

Di tengah isu konsolidasi, Tugure mengaku fokus menjaga kepercayaan mitra melalui beberapa langkah utama, mulai dari menjaga kekuatan permodalan (RBC solid), disiplin underwriting, hingga komitmen layanan dalam proses akseptasi dan pembayaran klaim.

Selain itu, perusahaan juga memperkuat komunikasi proaktif dengan mitra domestik maupun internasional guna mengurangi ketidakpastian pasar.

"Kami bukan hanya menjelaskan isu konsolidasi, tetapi juga menghilangkan keraguan pasar melalui transparansi kekuatan finansial," ujarnya.

Naik Kelas Setara Reinsurer Global

Menariknya, Teguh memandang pasca konsolidasi, posisi perusahaan tidak lagi berada dalam peta persaingan horizontal dengan sesama BUMN. Sebaliknya, Tugure akan diuji pada level vertikal industri reasuransi nasional.

Artinya, perusahaan tidak lagi bertarung dengan pemain domestik, melainkan harus mampu setara dengan reinsurer global.

"Jika berhasil mengisi peran specialist underwriting, posisi Tugure justru naik dari perusahaan reasuransi korporasi menjadi komponen sistem keuangan nasional atau systemically important risk carrier," jelasnya.

Ke depan, jelas Teguh, Tugure tidak ingin menjadi "general reinsurer besar" yang bersaing di lini komoditas. Strategi yang dinilai lebih rasional adalah menjadi technical specialist reinsurer dengan fokus pada risiko kompleks dan bernilai strategis.

Ada empat lini spesialisasi yang akan ditonjolkan yaitu Energy & Oil-Gas Reinsurance (core identity), Marine & Cargo Industrial Risk, Renewable & Energy Transition Risk (future specialty), dan Catastrophe & Industrial Disaster (strategic national role).

Dengan positioning tersebut, sambung Teguh, Tugure ingin menjadi technical risk underwriter untuk risiko kompleks yang sulit digantikan pemain global.

"Nilai jual kami bukan di lini yang mudah dikomoditisasi, tetapi di risiko yang membutuhkan keahlian teknis mendalam dan pengalaman historis," pungkasnya.

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |