Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
15 June 2026 13:11
Jakarta, CNBC Indonesia- Sampah plastik telah menjadi salah satu isu lingkungan terbesar abad ini.
Persoalannya lebih dari tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir, terkubur pertanyaan yang siap mencuat, bagaimana plastik bergerak dalam sistem ekonomi global, digunakan selama beberapa menit, lalu bertahan di lingkungan selama puluhan hingga ratusan tahun.
Melansir laporan Ellen MacArthur Foundation dan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), perusahaan yang tergabung dalam Global Commitment mewakili sekitar 20% produksi kemasan plastik dunia dan selama beberapa tahun terakhir didorong untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Foto udara hamparan sampah terlihat menumpuk di kawasan pesisir Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara pada Rabu (3/6/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Foto udara hamparan sampah terlihat menumpuk di kawasan pesisir Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara pada Rabu (3/6/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Namun laporan kemajuan terbaru menunjukkan adopsi kemasan guna ulang masih sangat rendah. Pada 2024, porsi kemasan yang benar-benar reusable di kelompok perusahaan tersebut baru mencapai sekitar 1,2% dari total kemasan yang digunakan.
Dunia memang semakin serius membahas ekonomi sirkular, tetapi transformasi di lapangan berjalan lebih lambat dibanding pertumbuhan konsumsi plastik itu sendiri.
Di tengah situasi tersebut, muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar. Apakah solusi utama sebenarnya terletak pada teknologi daur ulang yang lebih canggih, atau justru pada perubahan perilaku manusia sehari-hari.
Penelitian yang dilakukan terhadap 511 konsumen di Italia mencoba memahami faktor yang membuat seseorang bersedia membeli produk berbahan plastik daur ulang.
Penelitian kedua dari Arizona State University meneliti bagaimana stasiun isi ulang air minum atau water bottle filling station dapat membentuk kebiasaan konsumsi yang menghasilkan lebih sedikit sampah plastik.
Keduanya berasal dari konteks berbeda. Yang satu berbicara mengenai produk daur ulang. Yang lain membahas kebiasaan isi ulang.
Namun ketika hasilnya disandingkan, muncul keterikatan mengenao persoalan plastik ternyata sangat terkait dengan perilaku manusia.
Kesadaran Saja Tidak Cukup
Selama bertahun-tahun, kampanye lingkungan banyak berfokus pada peningkatan kesadaran masyarakat. Logikanya sederhana. Jika seseorang memahami dampak pencemaran plastik terhadap lingkungan, maka orang tersebut akan mengubah perilakunya.
Masalahnya, kenyataan tidak selalu berjalan demikian.
Penelitian terhadap konsumen Italia menemukan bahwa kepedulian terhadap isu plastik memang meningkatkan sikap positif terhadap produk berbahan daur ulang. Namun kepedulian tersebut tidak otomatis berubah menjadi keputusan pembelian.
Ada tahapan lain yang harus dilewati. Konsumen perlu merasa bahwa tindakan mereka memiliki dampak. Mereka perlu melihat orang lain melakukan hal serupa. Mereka perlu merasa produk tersebut mudah dijangkau dan mudah dipilih. Norma sosial menjadi salah satu faktor yang paling kuat memengaruhi keputusan pembelian produk berbahan plastik daur ulang.
Temuan tersebut menarik karena menunjukkan bahwa perubahan perilaku tidak lahir dari informasi semata. Faktor lingkungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap keputusan individu.
Pola serupa muncul dalam penelitian Arizona State University.
Corsini, F., Gusmerotti, N.M., Bartoletti, E. et al. Addressing Plastic Concern: Behavioral Insights into Recycled Plastic Products and Packaging in a Circular Economy. Circ.Econ.Sust. 4, 1961–1981 (2024). Foto: Corsini, F., Gusmerotti, N.M., Bartoletti, E. et al. Addressing Plastic Concern: Behavioral Insights into Recycled Plastic Products and Packaging in a Circular Economy. Circ.Econ.Sust. 4, 1961–1981 (2024).
Penelitian tersebut berangkat dari pertanyaan sederhana mengapa banyak orang masih membeli air minum kemasan meskipun tersedia alternatif berupa botol isi ulang dan stasiun pengisian air.
Jawabannya ternyata berkaitan dengan rutinitas sehari-hari. Banyak orang memahami dampak lingkungan dari botol sekali pakai. Namun mereka tetap membeli karena alasan praktis. Mereka lupa membawa tumbler. Mereka tidak mengetahui lokasi titik isi ulang. Mereka menganggap membeli botol baru lebih mudah. Dengan kata lain, hambatan terbesar sering kali bukan kurangnya informasi, melainkan kebiasaan.
Mengapa Refill Station Menjadi Semakin Penting
Dalam hierarki ekonomi sirkular, strategi terbaik sebenarnya bukan mendaur ulang. Strategi paling efektif adalah mengurangi kebutuhan plastik sejak awal. Konsep ini dikenal dengan prinsip reduce, reuse, recycle.
Reduce berada pada posisi teratas karena mencegah limbah muncul sejak awal. Reuse memperpanjang umur kemasan yang sudah ada. Recycle menjadi opsi berikutnya ketika dua pendekatan sebelumnya tidak lagi memungkinkan.
Karena itu, refill station memiliki posisi yang sangat strategis. Sebuah stasiun isi ulang memungkinkan satu wadah digunakan berulang kali tanpa harus menghasilkan kemasan baru setiap kali transaksi terjadi.
Melansir Ellen MacArthur Foundation, peralihan dari model sekali pakai menuju model guna ulang dan isi ulang diperkirakan dapat memangkas lebih dari 20% kebocoran sampah plastik ke laut secara global. Organisasi tersebut menyebut sistem reuse sebagai salah satu peluang terbesar untuk mengurangi pencemaran plastik dalam beberapa dekade mendatang.
Urgensinya semakin terlihat ketika melihat perkembangan sampah kemasan global. Kajian Breaking the Plastic Wave menunjukkan sektor kemasan merupakan penyumbang terbesar limbah plastik dunia. Sekitar sepertiga limbah plastik global berasal dari kemasan yang sebagian besar digunakan sekali lalu dibuang. Tanpa perubahan signifikan, volume polusi plastik diperkirakan terus meningkat hingga 2040.
Dalam konteks tersebut, refill station menawarkan pendekatan berbeda. Fokusnya berada pada tahap sebelum sampah tercipta.
Refill Station Unilever. (Dok. Linkedin/Nurdiana Darus) Foto: Refill Station Unilever. (Dok. Linkedin/Nurdiana Darus)
Penelitian Arizona State University menemukan bahwa keberadaan stasiun isi ulang yang mudah diakses dapat membantu membentuk kebiasaan konsumsi yang menghasilkan lebih sedikit sampah.
Faktor lokasi, kemudahan penggunaan, persepsi kebersihan, dan keberadaan berbagai "nudge" atau dorongan perilaku memiliki pengaruh terhadap frekuensi penggunaan fasilitas tersebut. Bagi para peneliti perilaku konsumen, temuan ini penting karena memperlihatkan bahwa desain lingkungan dapat memengaruhi keputusan sehari-hari tanpa harus mengandalkan kampanye besar-besaran.
Dunia Sedang Bergerak ke Arah Reuse
Perubahan tersebut mulai terlihat pada berbagai negara.
Melansir Ellen MacArthur Foundation, model reuse kini berkembang pada sektor minuman, makanan siap saji, produk rumah tangga, hingga perawatan pribadi. Berbagai studi kasus menunjukkan pendekatan isi ulang mulai diuji dalam skala komersial di banyak negara berkembang.
Di Amerika Latin misalnya, perusahaan rintisan Chile, Algramo mengembangkan sistem kemasan pintar yang dapat digunakan berulang kali untuk produk rumah tangga. Konsumen membeli wadah sekali, kemudian mengisi ulang produk melalui dispenser yang tersedia di berbagai titik distribusi. Sistem tersebut memungkinkan konsumen hanya membayar isi produk tanpa terus membeli kemasan baru.
Di berbagai negara lain, model serupa mulai diuji untuk deterjen, sabun cair, produk kebersihan rumah tangga, hingga kebutuhan pangan.
Meski demikian, laporan Global Commitment 2025 menunjukkan perjalanan menuju model reuse masih panjang. Porsi kemasan reusable secara global masih sangat kecil dibanding keseluruhan kemasan yang beredar. Salah satu penyebab utamanya adalah kebutuhan investasi infrastruktur, perubahan rantai pasok, dan perlunya perubahan kebiasaan konsumen.
Di sinilah peran refill station menjadi penting. Fasilitas tersebut berfungsi sebagai jembatan antara visi ekonomi sirkular dan perilaku konsumen sehari-hari.
Indonesia dan Tantangan Perubahan Perilaku
Dalam banyak diskusi mengenai sampah plastik, perhatian sering tertuju pada teknologi pengolahan limbah. Padahal berbagai penelitian menunjukkan faktor perilaku memiliki peran yang sama pentingnya.
Penelitian Italia menemukan bahwa norma sosial memiliki pengaruh besar terhadap keputusan pembelian produk berbahan daur ulang. Penelitian Arizona State University menemukan bahwa lokasi, kenyamanan, dan rutinitas menentukan keberhasilan program isi ulang..
Banyak inisiatif saat ini berusaha membangun infrastruktur sekaligus mendorong perubahan perilaku.
Pengelola Bank Sampah Rahmat memberikan edukasi pengelolaan sampah kepada siswa taman kanak-kanak (TK) di Bank Sampah Persatuan, Jalan Persatuan RW 08, Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, Senin (11/5/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Pengelola Bank Sampah Rahmat memberikan edukasi pengelolaan sampah kepada siswa taman kanak-kanak (TK) di Bank Sampah Persatuan, Jalan Persatuan RW 08, Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, Senin (11/5/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Bank sampah, program pemilahan sampah rumah tangga, reverse vending machine, hingga titik isi ulang merupakan contoh pendekatan yang mencoba menghubungkan kesadaran dengan tindakan nyata.
Perusahaan barang konsumsi cepat saji atau FMCG berada di posisi yang unik dalam isu plastik.
Mereka merupakan pengguna kemasan dalam jumlah besar sekaligus pihak yang memiliki akses langsung kepada konsumen. Karena itu, berbagai perusahaan mulai menguji model isi ulang sebagai bagian dari strategi ekonomi sirkular.
Salah satu contoh yang berkembang di Indonesia adalah program U-Refill yang dijalankan oleh Unilever Indonesia.
Refill Station Unilever. (Tangkapan Layar Youtube/Unilever Indonesia) Foto: Refill Station Unilever. (Tangkapan Layar Youtube/Unilever Indonesia)
Berdasarkan laporan keberlanjutan perusahaan, hingga akhir 2025 terdapat lebih dari 2.900 outlet isi ulang yang beroperasi melalui jaringan bank sampah dan mitra distribusi. Sebanyak 85% outlet berada di wilayah Jabodetabek sementara sisanya tersebar di Surabaya. Melalui jaringan tersebut, lebih dari 374.916 liter produk berhasil terjual melalui sistem isi ulang sepanjang 2025.
Perusahaan memperkirakan sistem tersebut mengurangi sekitar 26,2 ton plastik atau setara sekitar 1,9 juta unit kemasan ukuran menengah.
Data tersebut menarik karena memperlihatkan bahwa model refill mulai bergerak dari proyek percontohan menuju skala operasional yang lebih besar.
Refill menjadi bagian dari strategi yang lebih luas. Pada 2025 perusahaan melaporkan pengurangan penggunaan plastik baru sebanyak 10.443 ton dibanding baseline 2019. Penggunaan plastik daur ulang pascakonsumsi atau PCR mencapai 3.044 ton.
Di sisi pascakonsumsi, perusahaan mengumpulkan dan memproses 81.565 ton sampah plastik melalui jaringan bank sampah, TPS3R, dan fasilitas RDF. Jaringan yang dibina mencakup sekitar 5.000 bank sampah di 50 kota dan kabupaten yang tersebar di 13 provinsi.
Sebanyak 40.818 ton sampah plastik dikumpulkan melalui bank sampah dan TPS3R, sementara sekitar 40.747 ton diproses melalui fasilitas Refuse-Derived Fuel sebagai sumber energi alternatif.
Angka-angka tersebut memberikan gambaran mengenai skala pekerjaan yang dibutuhkan untuk membangun ekonomi sirkular di negara berkembang.
10 Jenis Sampah Plastik yang Paling Lama Terurai, Butuh 6 Abad Foto: Infografis/ 10 Jenis Sampah Plastik yang Paling Lama Terurai, Butuh 6 Abad/ Ilham Restu
Sampah yang sudah muncul tetap harus dikelola. Di saat yang sama, volume plastik baru perlu ditekan. Program refill berada di antara dua tujuan tersebut.
Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi salah satu contoh bagaimana konsep refill diterapkan di luar sektor FMCG. Pada 2023, kampus tersebut meluncurkan ITB Water Refill Station di Kampus Ganesha sebagai bagian dari upaya mengurangi konsumsi botol plastik sekali pakai.
Melansir ITB, fasilitas tersebut menggunakan teknologi IGW Membran Ultrafiltrasi hasil pengembangan peneliti kampus yang mampu menyaring mikroba, partikel, dan berbagai kontaminan melalui sistem filtrasi berlapis.
Fasilitas ini ditempatkan di area yang banyak dilalui mahasiswa sehingga mudah diakses dalam aktivitas sehari-hari. Pendekatan tersebut sejalan dengan berbagai penelitian perilaku konsumen yang menempatkan kemudahan akses sebagai faktor penting dalam pembentukan kebiasaan baru.
Refill Station Unilever. (Tangkapan Layar Youtube/Unilever Indonesia) Foto: Refill Station Unilever. (Tangkapan Layar Youtube/Unilever Indonesia)
Yang menarik, tujuan program tersebut tidak berhenti pada penyediaan air minum. ITB secara terbuka memosisikan water refill station sebagai bagian dari kampanye pengurangan sampah plastik. Pesan "Your Small Acts Can Change The World" yang tercantum pada unit pengisian air menunjukkan bahwa infrastruktur dan edukasi berjalan beriringan.
Dari sisi pengguna, manfaat ekonominya juga langsung terasa. Mahasiswa tidak perlu membeli air minum kemasan setiap hari selama membawa botol minum sendiri. Penghematan biaya tersebut menjadi insentif yang sering kali lebih mudah dirasakan dibanding manfaat lingkungan yang sifatnya jangka panjang.
Meskipun manfaatnya terlihat jelas, program isi ulang menghadapi sejumlah tantangan.
Penelitian Arizona State University mengidentifikasi faktor kenyamanan sebagai salah satu penentu utama. Konsumen harus mengingat membawa wadah. Konsumen harus mengetahui lokasi titik isi ulang. Konsumen harus merasa prosesnya mudah.
Penelitian mengenai sistem refill juga menunjukkan faktor kebersihan, keamanan, dan kenyamanan logistik memiliki pengaruh besar terhadap tingkat adopsi.
Tantangan yang sama muncul dalam praktik industri.
Dalam laporan keberlanjutannya, Unilever Indonesia mengakui bahwa mengajak konsumen untuk terlibat aktif dalam program pilah sampah maupun isi ulang masih menjadi pekerjaan besar karena kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan sampah plastik belum merata. Perusahaan juga menyebut pencarian mitra dengan visi yang sama sebagai tantangan tersendiri dalam pengembangan sistem ekonomi sirkular. Dari sudut pandang lingkungan, sampah yang tidak tercipta selalu lebih murah daripada sampah yang harus dikelola.
Indonesia sendiri masih berada pada fase awal transisi tersebut. Program isi ulang, bank sampah, penggunaan plastik daur ulang, hingga pengembangan ekonomi sirkular mulai tumbuh di berbagai daerah. Skala yang dicapai masih kecil dibanding volume kemasan yang beredar setiap hari. Namun arah perubahannya mulai terlihat.
Ketika lebih dari 2.900 titik isi ulang dapat mengurangi sekitar 1,9 juta unit kemasan ukuran menengah dalam setahun, muncul gambaran bagaimana dampaknya jika model serupa berkembang lebih luas di kota-kota lain.
Refill Station Unilever. (Tangkapan Layar Youtube/Unilever Indonesia) Foto: Refill Station Unilever. (Tangkapan Layar Youtube/Unilever Indonesia)
Perdebatan mengenai sampah plastik sering berujung pada pertanyaan siapa yang harus bergerak lebih dulu. Data menunjukkan jawabannya tidak sesederhana itu. Infrastruktur perlu dibangun, regulasi perlu diperkuat, dan kebiasaan konsumen perlu berubah secara bersamaan.
Ekonomi sirkular pada akhirnya bukan ditentukan oleh satu teknologi atau satu perusahaan. Ia terbentuk dari jutaan keputusan kecil yang terjadi setiap hari: membawa tumbler, mengisi ulang produk rumah tangga, memilah sampah, dan memilih kemasan yang kembali masuk ke rantai ekonomi. Dari titik-titik kecil itulah volume plastik baru dapat ditekan sebelum berubah menjadi persoalan yang lebih besar.
Masa depan tersebut munkin lebih banyak ditentukan oleh tindakan yang tampak sederhana membawa botol minum sendiri, mengisi ulang produk rumah tangga, memilah sampah, dan memilih kemasan yang kembali masuk ke siklus ekonomi.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google

4 hours ago
6

















































