Sudah 'Bakar' Rp1.200 Triliun, Jepang Tetap Gagal Selamatkan Yen

1 hour ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

19 June 2026 17:05

Jakarta, CNBC Indonesia - Jepang sedang menghadapi tekanan besar di pasar valuta asing. Yen terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), bahkan kini semakin dekat dengan posisi terlemah dalam hampir 40 tahun terakhir.

Melansir Refinitiv, nilai tukar yen pada penutupan perdagangan Kamis (18/6/2026) ditutup melemah tajam 0,46% ke level JPY 161,37/US$. Secara intraday, pelemahan bahkan sempat lebih dalam hingga menyentuh JPY 161,80/US$.

Jika yen melemah melewati JPY 161,96/US$, maka mata uang Jepang tersebut akan berada di posisi terlemah sejak 1986

.

Masalahnya, tekanan ini terjadi ketika otoritas Jepang sebenarnya sudah mengambil sejumlah langkah besar.

Pemerintah Jepang sudah menggelontorkan dana jumbo untuk intervensi, sementara bank sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) juga sudah menaikkan suku bunga. Namun, hasilnya sejauh ini belum mampu membalikkan keadaan.

Jepang Sudah Intervensi Jumbo, Hasilnya Hanya Sesaat

Kementerian Keuangan Jepang sebelumnya telah menggelontorkan lebih dari US$70 miliar untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing.

Dalam periode April hingga Mei, Jepang bahkan menggunakan lebih dari JPY 11,7 triliun atau sekitar US$72,8 miliar cadangan devisa untuk menopang yen atau sekitar  Rp 1.294 triliun. 

Intervensi tersebut sempat memberi napas sementara. Pada 30 April, yen menguat tajam dari JPY 160,39/US$ ke JPY 156,6/US$. Keesokan harinya, yen bahkan sempat bergerak ke sekitar JPY 155/US$.

Namun, penguatan itu tidak bertahan lama. Yen kembali melemah dan perlahan bergerak lagi mendekati JPY 160/US$.

Jepang juga diduga kembali melakukan intervensi saat libur Golden Week pada awal Mei, ketika yen berada di sekitar JPY 158/US$. Namun, lagi-lagi hasilnya tidak bertahan lama.

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama dilaporkan kembali memberi peringatan bahwa Jepang siap mengambil tindakan tegas terhadap pergerakan spekulatif di pasar valuta asing.

Deputi Gubernur BOJ Ryozo Himino juga mengatakan kepada parlemen bahwa bank sentral terus memantau pergerakan mata uang karena dampaknya terhadap ekonomi dan inflasi.

Namun, peringatan dan intervensi jumbo belum cukup membuat pasar gentar.

BOJ Sudah Naikkan Bunga, Tetap Belum Ampuh

Bukan hanya intervensi, BOJ juga sudah menaikkan suku bunga.

Pada Selasa (16/6/2026), BOJ menaikkan suku bunga kebijakan jangka pendek dari 0,75% menjadi 1%. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 1995.

Kenaikan bunga ini dilakukan di tengah tekanan inflasi, terutama akibat krisis energi yang dipicu perang Iran. BOJ menilai risiko pelemahan tajam ekonomi Jepang akibat konflik Timur Tengah sudah berkurang karena adanya langkah pemerintah untuk meredam harga bahan bakar dan kemajuan dalam mengamankan pasokan energi alternatif.

Namun, BOJ tetap memperingatkan risiko inflasi karena dunia usaha mulai meneruskan kenaikan biaya minyak ke konsumen.

"Dengan mempertimbangkan ekspektasi inflasi jangka menengah dan panjang yang juga terus meningkat, terdapat risiko inflasi dasar menyimpang ke atas dari target harga kami," tulis BOJ.

Keputusan kenaikan bunga tersebut disetujui dengan suara 7-1. Anggota dewan BOJ Toichiro Asada menjadi satu-satunya yang menolak karena menilai konflik Timur Tengah membawa risiko lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi dibandingkan inflasi.

Secara teori, kenaikan bunga seharusnya bisa membuat yen lebih menarik. Namun, kenyataannya yen masih tetap tertekan.

Masahiko Loo, senior fixed income strategist State Street Investment Management, menilai kenaikan suku bunga BOJ sudah banyak diperkirakan pasar. Karena itu, dampaknya terhadap yen menjadi sangat terbatas.

Menurut Loo, kenaikan bunga tersebut tidak lebih dari sekadar "plester untuk luka tembak" bagi yen.

Artinya, masalah yen terlalu besar untuk diselesaikan hanya dengan satu kali kenaikan suku bunga atau intervensi sesaat.

Selisih Bunga AS-Jepang dan Carry Trade Jadi Biang Kerok

Yen tetap melemah karena tekanan yang dihadapi Jepang bukan hanya soal sentimen sesaat, tetapi juga faktor struktural.

Salah satu penyebab utamanya adalah selisih imbal hasil antara Jepang dan AS yang masih lebar. Saat ini, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun berada di 2,64%. Sementara itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di 4,451%.

Selisih ini membuat aset berbasis dolar AS masih jauh lebih menarik dibandingkan aset berbasis yen. Akibatnya, investor cenderung memilih dolar AS karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Kondisi ini juga membuat carry trade kembali hidup. Carry trade adalah strategi ketika investor meminjam dana dalam mata uang berbunga rendah, seperti yen, lalu menempatkannya pada aset dengan imbal hasil lebih tinggi di negara lain.

Strategi ini kembali mendapat momentum karena volatilitas pasar global relatif rendah. Berdasarkan data CFTC, leveraged funds meningkatkan posisi taruhan melawan yen menjadi lebih dari 115.000 kontrak pada pekan yang berakhir 9 Juni. Ini menjadi posisi bearish terbesar terhadap yen sejak November 2017.

Lonjakan posisi short yen tersebut menunjukkan pelaku pasar masih memperkirakan yen akan terus melemah. Mereka juga menilai kenaikan suku bunga BOJ sudah banyak diperhitungkan pasar, sehingga dampaknya terhadap yen menjadi terbatas.

JPMorgan juga menilai pasar pada dasarnya sudah memperhitungkan potensi kenaikan bunga BOJ dan intervensi valas. Karena itu, efeknya tidak sebesar dua tahun lalu, ketika dua langkah tersebut masih mampu mengejutkan investor.

Selama selisih bunga AS-Jepang masih lebar dan carry trade tetap menarik, yen akan sulit benar-benar bangkit. Setiap kali dolar AS masih menawarkan imbal hasil lebih tinggi, tekanan jual terhadap yen bisa kembali muncul.

Arah Politik Jepang Ikut Jadi Beban

Selain faktor pasar, arah politik di Jepang juga ikut menekan yen.

Pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi dinilai memiliki sikap reflasioner. Artinya, pemerintah lebih condong mendukung kebijakan yang longgar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Bagi pasar, sikap seperti ini menimbulkan ketidakpastian. Di satu sisi, BOJ mulai menaikkan suku bunga. Namun di sisi lain, arah pemerintahan masih memberi sinyal bahwa Jepang tidak ingin kebijakan moneter terlalu ketat karena bisa mengganggu pertumbuhan.

Kondisi ini membuat investor asing belum sepenuhnya yakin untuk kembali masuk ke aset Jepang dalam jumlah besar.

Pada Februari, Takaichi juga menominasikan dua akademisi yang disebut memiliki sikap dovish untuk masuk ke dewan BOJ. Mereka adalah Toichiro Asada dan Ayano Sato.

Asada kini sudah berada di dewan BOJ dan menjadi satu-satunya anggota yang berbeda pendapat saat bank sentral Jepang menaikkan suku bunga pada Selasa. Sementara itu, Sato akan menggantikan anggota dewan Junko Nakagawa pada akhir Juni.

Harga Energi Juga Menambah Tekanan

Tekanan terhadap yen juga datang dari kebutuhan impor energi.

Jepang merupakan negara yang sangat bergantung pada impor energi. Ketika harga energi naik, terutama akibat perang Iran yang membuat harga energi tetap tinggi, kebutuhan Jepang terhadap dolar AS ikut meningkat.

Sebab, impor energi global umumnya dibayar menggunakan dolar AS. Akibatnya, Jepang harus membeli lebih banyak dolar untuk membayar kebutuhan energi.

Pelemahan yen memang bisa membantu eksportir Jepang karena produk mereka menjadi lebih murah di pasar global. Namun, bagi rumah tangga, yen yang lemah bisa menjadi beban.

Harga barang impor menjadi lebih mahal. Inflasi impor naik. Daya beli masyarakat pun bisa tergerus.

Inilah dilema besar Jepang saat ini. Yen lemah bisa membantu ekspor, tetapi juga bisa menyakiti konsumen di dalam negeri.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |